Dari Martir ke Rahib

Untuk memahami mengapa monakisme muncul, kita perlu mengingat sejarah Gereja Perdana. Pada masa-masa awal Kekristenan, menjadi murid Kristus sering berarti mengambil risiko.

Orang Kristen hidup di tengah dunia Romawi yang memiliki dewa-dewa, kultus kaisar, sistem kehormatan sosial, dan cara hidup yang sering bertentangan dengan iman mereka. Dalam beberapa periode dan tempat, iman kepada Kristus dapat membawa seseorang pada penganiayaan, penjara, bahkan kematian. 

Di tengah situasi itu, martir menjadi saksi tertinggi. Kata “martir” berarti saksi. Martir adalah orang yang memberi kesaksian tentang Kristus sampai menumpahkan darah. Ia menunjukkan bahwa Kristus lebih berharga daripada hidup itu sendiri. Dalam diri martir, Gereja melihat bentuk paling nyata dari kesetiaan kepada Tuhan yang tersalib. 

Tetapi sejarah berubah. Ketika penganiayaan mulai mereda dan Kekristenan semakin diterima dalam Kekaisaran Romawi, tantangan baru muncul. Menjadi Kristen tidak lagi selalu berbahaya. Bahkan, dalam beberapa konteks, menjadi Kristen mulai membawa kehormatan sosial. 

Di sinilah muncul kegelisahan rohani. Jika dahulu iman diuji oleh ancaman kematian, kini iman diuji oleh kenyamanan. Jika dahulu murid Kristus harus memilih antara menyembah kaisar atau mati, kini ia harus memilih apakah akan menghayati Injil secara sungguh-sungguh atau membiarkan iman menjadi sekadar identitas sosial. 

Sebagian orang Kristen merasa bahwa bahaya baru ini tidak kalah serius. Ketika Gereja tidak lagi dianiaya, radikalitas Injil dapat melemah. Ketika iman menjadi terlalu nyaman, salib dapat kehilangan tajamnya. Ketika Kekristenan mulai mendapat tempat dalam masyarakat, murid Kristus dapat tergoda untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai kehormatan, kekayaan, dan kuasa. 

Maka, sebagian orang pergi ke padang gurun. Mereka tidak lagi menjadi martir dalam arti menumpahkan darah. Tetapi mereka ingin menyerahkan hidup. Mereka ingin mati terhadap dosa, ego, kesombongan, hawa nafsu, dan kehendak diri. Dari sinilah muncul gagasan yang kelak dikenal sebagai “kemartiran putih”: kesaksian tanpa darah, tetapi tetap menuntut penyerahan diri sepenuhnya. 

Martir mati sekali bagi Kristus. Rahib belajar mati setiap hari.

Comments