Padang Gurun sebagai Tempat Kebenaran

Padang gurun memiliki tempat istimewa dalam imajinasi biblis. Israel berjalan di padang gurun setelah keluar dari Mesir. Di sana mereka belajar bahwakebebasan bukan hanya soal keluar dari tanah perbudakan, tetapi juga soal dibentuk menjadi umat Allah. Di padang gurun, mereka lapar, haus, mengeluh, takut, dan berkali-kali ingin kembali ke Mesir. Gurun menyingkapkan isi hati mereka. 

Nabi Elia berjalan ke padang gurun dalam kelelahan dan keputusasaan. Di sana ia mengalami bahwa Allah tidak selalu hadir dalam angin besar, gempa, atau api, tetapi dalam bunyi angin sepoisepoi yang lembut. Yohanes Pembaptis tampil dari padang gurun, menyerukan pertobatan. Yesus sendiri, setelah dibaptis, dibawa oleh Roh ke padang gurun, berpuasa empat puluh hari, dan dicobai. 

Maka, ketika para rahib pergi ke padang gurun Mesir, mereka tidak hanya berpindah tempat secara geografis. Mereka masuk ke dalam simbol besar sejarah keselamatan. Padang gurun adalah tempat kebenaran. Di sana manusia tidak mudah bersembunyi. Di kota, seseorang dapat menutupi kegelisahan batin dengan pekerjaan, percakapan, hiburan, relasi, dan ambisi. Di padang gurun, semua suara itu berkurang. Yang tersisa adalah diri sendiri di hadapan Allah.

Itulah sebabnya padang gurun menakutkan. Bukan hanya karena panas, lapar, atau sepi, tetapi karena di sana manusia mulai melihat dirinya sendiri dengan lebih jujur. Ia melihat pikirannya yang kacau, keinginannya yang tidak teratur, lukanya yang belum sembuh, kemarahannya, kesombongannya, ketakutannya, dan kebutuhannya untuk dikasihi. 

Namun, justru karena itu padang gurun juga menyembuhkan. Apa yang tidak pernah dilihat tidak dapat disembuhkan. Apa yang terus ditutupi tidak dapat dipersembahkan kepada Allah. Gurun membuka luka agar rahmat dapat bekerja. 

Para rahib tidak pergi ke gurun untuk menjadi manusia super. Mereka pergi karena tahu bahwa mereka membutuhkan pertobatan.

Comments