Mengapa Monakisme Masih Penting?
Ada sesuatu yang ganjil, bahkan mungkin menggelisahkan, dalam pilihan hidup seorang rahib. Ketika kebanyakan orang bergerak menuju pusat keramaian, ia pergi ke tempat sunyi. Ketika banyak orang mengejar kedudukan, ia memilih hidup tersembunyi. Ketika masyarakat mengukur keberhasilan dari kepemilikan, ia belajar hidup sederhana. Ketika dunia menuntut kecepatan, ia memilih ritme doa yang berulang. Ketika banyak orang ingin dikenal, ia masuk ke dalam keheningan.
Dari luar, pilihan seperti ini dapat tampak aneh. Bahkan, bagi sebagian orang, monakisme tampak seperti pelarian: pelarian dari dunia, dari tanggung jawab, dari keluarga, dari sejarah, dari persoalan-persoalan nyata manusia. Mengapa seseorang harus pergi ke padang gurun untuk menjadi Kristen yang baik? Bukankah Injil justru harus dihidupi di tengah dunia?
Pertanyaan seperti itu wajar. Tetapi sejarah monakisme Kristen menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Para rahib awal tidak pergi ke padang gurun karena mereka membenci dunia. Mereka pergi karena ingin mencari Allah dengan hati yang tidak terbagi. Mereka tidak meninggalkan masyarakat karena ciptaan itu buruk. Mereka mengambil jarak dari hiruk-pikuk dunia karena menyadari betapa mudahnya hati manusia diperbudak oleh hal-hal yang tampak baik tetapi dapat menjadi berhala: harta, kehormatan, kuasa, kenikmatan, bahkan reputasi religius.
Monakisme lahir dari kerinduan yang sangat sederhana, tetapi radikal: mencari Allah. Kerinduan itu tidak hanya milik para rahib. Setiap orang Kristen, dalam bentuk hidupnya masing-masing, dipanggil untuk mencari Allah. Namun, para rahib menghidupi panggilan itu secara khusus, dengan menjadikan seluruh hidup mereka sebagai ruang pencarian. Mereka mengatur waktu, tubuh, makanan, tidur, kerja, doa, keheningan, dan relasi agar semuanya diarahkan kepada satu tujuan: Allah. Karena itu, monakisme bukan pertama-tama soal tempat. Padang gurun, gua, sel, biara, dan klausura hanyalah bentuk luar. Intinya adalah hati yang ingin kembali kepada Allah.
Comments
Post a Comment