Monakisme Sebagai Cermin
Setiap tradisi besar dalam Gereja memiliki fungsi sebagai cermin. Ia memantulkan kembali kepada kita sesuatu yang mungkin telah kita lupakan.
Monakisme memantulkan pertanyaan tentang kesatuan hati. Kita sering hidup terpecah. Kita ingin Allah, tetapi juga ingin dikagumi. Kita ingin berdoa, tetapi takut hening. Kita ingin sederhana, tetapi mudah iri. Kita ingin melayani, tetapi ingin diakui. Kita ingin bebas, tetapi tetap terikat pada banyak hal.
Para rahib tidak asing dengan semua itu. Mereka bukan malaikat. Justru karena mereka mengenal kekacauan hati manusia, ajaran mereka tetap menyentuh. Mereka berbicara tentang godaan karena mereka digoda. Mereka berbicara tentang kerendahan hati karena mereka tahu bahaya kesombongan. Mereka berbicara tentang doa karena mereka tahu keringnya hati. Mereka berbicara tentang komunitas karena mereka tahu betapa sulitnya mengasihi orang yang nyata.
Maka, membaca sejarah monakisme tidak berarti mengagumi masa lalu dari kejauhan. Membaca sejarah monakisme berarti membiarkan diri ditanya.
- Di mana padang gurun saya?
- Apa yang perlu saya tinggalkan?
- Suara apa yang perlu saya dengarkan?
- Kepada siapa saya perlu taat?
- Apa yang membuat hati saya tidak bebas?
- Bagaimana saya dapat mencari Allah hari ini?