BAB 1. Kerinduan untuk Mencari Allah

            Tidak semua orang yang pergi ke tempat sunyi sungguh-sungguh mencari Allah. Ada orang yang pergi karena kecewa. Ada yang pergi karena lelah. Ada yang pergi karena takut menghadapi orang lain. Ada juga yang pergi karena tidak sanggup menerima dunia sebagaimana adanya.

Tetapi dalam sejarah monakisme Kristen, padang gurun bukan pertama-tama tempat pelarian. Ia adalah tempat pencarian. Para rahib awal pergi ke padang gurun bukan karena mereka sudah sempurna, melainkan karena mereka tahu bahwa hati mereka belum utuh. Mereka pergi bukan karena mereka membenci dunia, melainkan karena mereka ingin mencintai Allah tanpa terbagi. Mereka pergi bukan untuk menghindari manusia, melainkan untuk belajar menjadi manusia yang benar di hadapan Allah.

Di balik seluruh sejarah monakisme Kristen terdapat satu kerinduan yang sangat sederhana: mencari Allah. Kerinduan itu tidak selalu dramatis. Kadang ia muncul dalam bentuk kegelisahan halus: mengapa hidup terasa penuh, tetapi batin tetap kosong? Mengapa doa mudah terpecah? Mengapa hati begitu cepat dikuasai oleh iri hati, ketakutan, ambisi, dan keinginan untuk dipuji? Mengapa manusia dapat melakukan banyak hal bagi Allah, tetapi perlahan-lahan kehilangan Allah sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak hanya milik para rahib Mesir abad keempat. Ia juga milik manusia zaman ini. Justru karena itu, sejarah monakisme tidak boleh dibaca sebagai kisah aneh dari masa lalu. Ia adalah cermin bagi kegelisahan manusia di setiap zaman.

 

Satu Hati, Satu Tujuan

Kata “monakisme” berasal dari kata Yunani monachos, yang berhubungan dengan kata monos, berarti “sendiri”, “satu”, atau “tunggal”. Pada awalnya, kata itu dapat menunjuk pada orang yang hidup sendiri. Namun, dalam tradisi Kristen, maknanya menjadi lebih dalam. Seorang monachos bukan hanya orang yang tinggal jauh dari keramaian. Ia adalah orang yang berusaha memiliki hati yang satu.

Hati manusia sering terpecah. Kita menginginkan Allah, tetapi juga ingin dikagumi. Kita ingin hidup sederhana, tetapi takut tidak memiliki cukup. Kita ingin berdoa, tetapi gelisah ketika diam. Kita ingin mengasihi, tetapi mudah tersinggung. Kita ingin bebas, tetapi tetap melekat pada hal-hal yang membuat kita tidak bebas.

Para rahib memahami perpecahan batin ini dengan sangat serius. Mereka tahu bahwa masalah utama manusia bukan hanya dunia di luar dirinya, melainkan dunia yang kacau di dalam hatinya. Maka, pergi ke padang gurun berarti masuk ke tempat di mana hati yang terpecah itu dapat dilihat dengan lebih jujur.

Seorang rahib ingin menjadi manusia yang utuh. Bukan utuh karena tidak lagi memiliki kelemahan, tetapi utuh karena hidupnya diarahkan kepada satu tujuan. Ia tidak ingin terus-menerus ditarik oleh banyak keinginan yang saling bertentangan. Ia ingin belajar mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, dan segenap akal budi. Dalam arti ini, monakisme adalah jalan menuju kesatuan hati.

Kesendirian lahiriah hanyalah sarana. Yang lebih penting adalah kesatuan batin. Orang bisa tinggal sendirian di gurun, tetapi hatinya tetap ramai oleh ambisi, kemarahan, fantasi, dan ingatan akan pujian. Sebaliknya, orang bisa tinggal di tengah komunitas, tetapi belajar memiliki hati yang sederhana dan terarah kepada Allah.

Karena itu, ukuran monakisme bukan seberapa jauh seseorang pergi dari kota, melainkan seberapa dalam ia membiarkan dirinya dicari dan dibentuk oleh Allah.

 

Bukan Kebencian terhadap Dunia

Salah satu kesalahpahaman paling umum tentang monakisme adalah anggapan bahwa para rahib membenci dunia. Mereka dianggap menolak tubuh, keluarga, masyarakat, kerja, dan sejarah. Gambaran ini terlalu sederhana.

Iman Kristen tidak mengajarkan bahwa dunia sebagai ciptaan adalah jahat. Kitab Kejadian menyatakan bahwa ciptaan Allah itu baik. Tubuh manusia bukan penjara jiwa, melainkan bagian dari ciptaan yang dipanggil untuk ditebus. Makanan, kerja, persahabatan, perkawinan, seni, dan kebudayaan bukan musuh Allah pada dirinya sendiri.

Namun, iman Kristen juga realistis. Sesuatu yang baik dapat menguasai hati secara tidak teratur. Harta dapat berubah menjadi berhala. Kehormatan dapat menjadi candu. Relasi dapat berubah menjadi kepemilikan. Kerja dapat menjadi pelarian. Bahkan pelayanan religius dapat menjadi panggung bagi ego.

Ketika para rahib berbicara tentang “meninggalkan dunia”, mereka tidak selalu bermaksud meninggalkan ciptaan sebagai sesuatu yang buruk. Yang mereka tinggalkan adalah pola hidup yang membuat manusia lupa kepada Allah. Mereka meninggalkan “dunia” sebagai sistem keinginan yang dikuasai oleh kesombongan, kerakusan, kuasa, dan ketakutan.

Maka, monakisme bukan kebencian terhadap dunia. Monakisme adalah latihan kebebasan di hadapan dunia. Rahib belajar memakai barang tanpa diperbudak barang. Ia belajar makan tanpa menjadi hamba perut. Ia belajar bekerja tanpa menjadikan hasil kerja sebagai identitas terakhirnya. Ia belajar diam agar tidak diperbudak oleh kata-kata. Ia belajar taat agar tidak menjadikan kehendak sendiri sebagai allah kecil.

Dalam hal ini, monakisme mengajarkan bahwa persoalan manusia bukan terletak pada benda-benda, melainkan pada hati yang melekat secara keliru.

 

Askese: Latihan untuk Menjadi Bebas

Untuk memahami monakisme, kita perlu memahami kata “askese”. Kata ini berasal dari bahasa Yunani askesis, yang berarti latihan atau disiplin. Dalam dunia kuno, kata ini dapat dipakai untuk latihan atlet, prajurit, atau filsuf. Dalam tradisi Kristen, askese berarti latihan rohani agar manusia semakin bebas untuk mengasihi Allah.

Askese sering disalahpahami sebagai sikap membenci diri. Padahal askese Kristen bukan usaha menghancurkan manusia, melainkan membentuknya.

Seorang atlet berlatih bukan karena ia membenci tubuhnya, tetapi karena ia ingin tubuhnya sanggup bergerak sesuai tujuan. Seorang musisi berlatih bukan karena ia membenci kebebasan, tetapi karena ia tahu bahwa kebebasan sejati membutuhkan disiplin. Demikian pula, seorang rahib berpuasa, berjaga, bekerja, diam, dan berdoa bukan karena ia membenci hidup, melainkan karena ia ingin hidupnya terarah.

Askese bukan tujuan akhir. Puasa bukan tujuan. Diam bukan tujuan. Tidur sedikit bukan tujuan. Kemiskinan bukan tujuan. Semua itu hanyalah sarana. Tujuannya adalah kasih.

Di sinilah askese Kristen berbeda dari sekadar teknik pengendalian diri. Orang dapat berlatih keras demi kebanggaan. Orang dapat hidup sederhana demi citra diri. Orang dapat berdiam diri karena marah. Orang dapat berpuasa tetapi menjadi sombong. Jika demikian, askese kehilangan makna.

Para Bapa Padang Gurun sangat sadar akan bahaya ini. Mereka sering mengingatkan bahwa lebih baik seseorang makan secukupnya dengan rendah hati daripada berpuasa keras sambil menghakimi orang lain. Lebih baik seseorang berbicara dengan kasih daripada diam dengan hati penuh kemarahan. Lebih baik seseorang melakukan sedikit dengan kerendahan hati daripada banyak dengan kesombongan.

Askese yang benar membuat manusia semakin bebas, rendah hati, dan penuh kasih. Jika askese membuat seseorang keras, dingin, sombong, atau tidak manusiawi, maka askese itu telah menyimpang.

 

Meninggalkan agar Dapat Mengikuti

Dalam Injil, Yesus berkali-kali memanggil orang untuk mengikuti Dia. Panggilan itu sederhana, tetapi menuntut segalanya: “Ikutlah Aku.” Para murid pertama meninggalkan jala dan perahu. Lewi meninggalkan meja cukai. Orang muda kaya diminta menjual harta miliknya, memberikannya kepada orang miskin, lalu mengikuti Yesus. Panggilan ini menjadi salah satu sumber terdalam bagi imajinasi monastik.

Namun, inti panggilan itu bukan sekadar meninggalkan. Yang utama adalah mengikuti. Meninggalkan tanpa mengikuti dapat berubah menjadi kekosongan. Seseorang dapat meninggalkan harta, tetapi tetap melekat pada reputasi rohani. Ia dapat meninggalkan keluarga, tetapi tetap membawa kemarahan. Ia dapat meninggalkan kota, tetapi tetap membangun kerajaan kecil di dalam dirinya. Ia dapat meninggalkan banyak hal lahiriah, tetapi tetap menjadi pusat bagi dirinya sendiri.

Karena itu, monakisme bukan hanya seni melepaskan. Ia adalah seni mengikuti Kristus.

Rahib meninggalkan sesuatu agar dapat mengikuti dengan lebih bebas. Ia melepaskan sebagian kemungkinan hidup bukan karena semuanya buruk, melainkan karena ia ingin hidupnya terarah. Seperti seseorang yang memilih satu jalan harus meninggalkan jalan lain, demikian pula rahib memilih jalan pencarian Allah dengan keseriusan tertentu.

Di sini kita dapat memahami mengapa monakisme selalu berkaitan dengan pertobatan. Pertobatan bukan hanya menyesal atas dosa masa lalu. Pertobatan adalah perubahan arah hidup. Dalam bahasa Yunani, metanoia menunjuk pada perubahan pikiran, hati, dan cara memandang kenyataan. Rahib adalah orang yang terus-menerus belajar mengubah arah: dari diri sendiri kepada Allah, dari kelekatan kepada kebebasan, dari kesombongan kepada kerendahan hati, dari ketakutan kepada kasih.

Monakisme bukan keputusan sekali jadi. Ia adalah pertobatan yang diulang setiap hari.

 

Kesendirian dan Komunitas

Banyak orang membayangkan rahib sebagai orang yang hidup sendirian. Gambaran ini benar untuk sebagian tradisi, tetapi tidak mencakup seluruh monakisme. Sejak awal, monakisme Kristen berkembang dalam dua bentuk besar: eremitik dan senobitik.

Bentuk eremitik berasal dari kata eremos, yang berarti padang gurun atau tempat sunyi. Dalam bentuk ini, rahib hidup sebagai pertapa. Ia menarik diri dari keramaian untuk berdoa, berpuasa, bekerja, dan berjuang melawan godaan. St. Antonius Agung sering dilihat sebagai figur besar dari bentuk ini.

Namun, pertapa tidak selalu berarti manusia yang sepenuhnya terputus dari orang lain. Banyak pertapa memiliki bapa rohani, menerima murid, atau dikunjungi umat. Kesendirian mereka bukan individualisme. Kesendirian itu dimaksudkan untuk memurnikan hati agar mampu mengasihi dengan lebih benar.

Bentuk kedua adalah senobitik, dari ungkapan Yunani koinos bios, yang berarti hidup bersama. Dalam bentuk ini, para rahib tinggal dalam komunitas, berdoa bersama, bekerja bersama, makan bersama, dan hidup di bawah peraturan serta pemimpin. St. Pakomius menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan bentuk ini.

Hidup bersama tidak lebih mudah daripada hidup sendiri. Bahkan, bagi banyak orang, komunitas adalah padang gurun yang lebih tajam. Di sana seseorang tidak hanya menghadapi pikirannya sendiri, tetapi juga kelemahan saudara-saudaranya. Ia bertemu dengan orang yang lambat, keras kepala, cerewet, sensitif, malas, atau terlalu rajin. Ia belajar bahwa kasih bukan gagasan indah, melainkan kesabaran terhadap orang konkret.

Karena itu, komunitas menjadi tempat pertobatan. Dalam komunitas, orang belajar melepaskan ilusi tentang dirinya. Ia mungkin merasa sabar sampai hidup dengan orang yang menjengkelkan. Ia mungkin merasa rendah hati sampai dikoreksi. Ia mungkin merasa murah hati sampai harus berbagi hal kecil setiap hari.

Monakisme eremitik dan senobitik tampak berbeda, tetapi keduanya mengejar tujuan yang sama: hati yang bebas bagi Allah. Yang satu menekankan kesendirian, yang lain menekankan komunitas. Yang satu memperlihatkan pentingnya keheningan, yang lain memperlihatkan pentingnya kasih persaudaraan. Dalam sejarah, keduanya sering saling melengkapi.

 

Doa sebagai Nafas Hidup

Jika monakisme adalah pencarian Allah, maka doa adalah nafasnya. Para rahib tidak melihat doa sebagai salah satu kegiatan di antara banyak kegiatan lain. Doa adalah pusat yang memberi makna pada semuanya. Tanpa doa, puasa menjadi sekadar diet. Tanpa doa, kerja menjadi sekadar produksi. Tanpa doa, diam menjadi sekadar ketiadaan suara. Tanpa doa, komunitas menjadi sekadar organisasi.

Doa monastik tidak selalu penuh perasaan. Para rahib mengenal kekeringan, kebosanan, gangguan pikiran, kantuk, dan kelelahan. Mereka tidak berdoa karena selalu merasakan penghiburan. Mereka berdoa karena Allah layak dicari, juga ketika hati kering.

Dalam tradisi monastik, doa memiliki banyak bentuk. Ada pendarasan Mazmur, doa pribadi, doa pendek yang diulang, pembacaan Kitab Suci, liturgi bersama, air mata pertobatan, dan keheningan. Semua bentuk itu bertujuan mengarahkan hati kepada Allah.

Salah satu cita-cita besar monakisme adalah doa tanpa henti. Ini tidak berarti seseorang harus terus-menerus mengucapkan kata-kata doa tanpa jeda. Doa tanpa henti berarti hati yang terus kembali kepada Allah. Pikiran mungkin pergi, tetapi hati belajar kembali. Tubuh bekerja, tetapi batin tetap terbuka. Mulut diam, tetapi jiwa mendengarkan.

Doa seperti ini tidak dibangun dalam satu hari. Ia dibentuk oleh kesetiaan kecil: bangun untuk berdoa, membaca Mazmur, duduk dalam hening, mengulang ayat Kitab Suci, membawa pikiran yang kacau kembali kepada Allah, dan tidak menyerah ketika doa terasa kosong.

Di sini monakisme mengajarkan sesuatu yang sangat penting: kedalaman rohani lahir dari kesetiaan, bukan dari sensasi.

 

Kerja, Tubuh, dan Kesederhanaan

Para rahib awal bukan hanya orang yang berdoa. Mereka juga bekerja. Di padang gurun Mesir, banyak rahib membuat keranjang, menenun tikar, membuat tali, atau melakukan pekerjaan tangan sederhana. Kerja membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup, menghindari kemalasan, dan memberi kepada orang miskin. Dalam tradisi Benediktin kemudian, kerja menjadi salah satu unsur penting hidup monastik.

Kerja memiliki makna rohani. Ia mengingatkan rahib bahwa tubuh ikut serta dalam pencarian Allah. Kekristenan tidak memandang tubuh sebagai musuh. Tubuh perlu ditata, dilatih, dan dipersembahkan. Dengan bekerja, rahib belajar rendah hati. Ia tidak hidup dari ilusi spiritual. Ia menyentuh bahan, mengulang gerakan, berkeringat, dan menerima keterbatasan.

Kesederhanaan juga tampak dalam makanan, pakaian, tempat tinggal, dan penggunaan barang. Tetapi kesederhanaan monastik bukan sekadar gaya hidup minimalis. Ia adalah sikap batin. Orang dapat memiliki sedikit barang tetapi tetap dikuasai keinginan memiliki. Sebaliknya, orang dapat mengelola banyak hal dengan hati bebas jika ia tidak menjadikannya pusat hidup.

Rahib belajar hidup dengan cukup. Kata “cukup” sangat penting. Budaya manusia sering dibangun di atas kata “lebih”: lebih banyak, lebih cepat, lebih tinggi, lebih terkenal, lebih nyaman. Monakisme menanyakan hal yang berbeda: apa yang sungguh perlu agar manusia dapat mencari Allah dan mengasihi sesama?

Kesederhanaan bukan pengurangan demi pengurangan. Ia adalah ruang bagi yang pokok.

 

Ketaatan dan Kerendahan Hati

Bagi telinga modern, kata “ketaatan” sering terdengar mencurigakan. Ia dapat mengingatkan pada penyalahgunaan kuasa, hilangnya kebebasan, atau kepatuhan buta. Kekhawatiran ini tidak boleh diremehkan. Dalam sejarah, bahasa ketaatan memang dapat disalahgunakan. Namun, dalam tradisi monastik yang sehat, ketaatan bukan penghancuran pribadi. Ketaatan adalah latihan untuk dibebaskan dari tirani ego.

Manusia sering mengira bahwa kebebasan berarti melakukan apa yang ia inginkan. Tetapi keinginan manusia tidak selalu jernih. Sering kali kita digerakkan oleh luka, ketakutan, ambisi, iri hati, atau kebutuhan untuk mengontrol. Jika setiap keinginan langsung diikuti, manusia bukan menjadi bebas, tetapi justru diperbudak oleh dorongan batinnya sendiri.

Ketaatan monastik mengajarkan bahwa kehendak diri perlu diuji. Rahib belajar mendengarkan: mendengarkan Allah, Kitab Suci, peraturan hidup, pemimpin komunitas, saudara-saudara, dan kenyataan konkret. Ketaatan bukan pertama-tama soal diperintah, melainkan soal belajar mendengarkan.

Kerendahan hati adalah saudara dari ketaatan. Orang yang rendah hati tidak membenci dirinya. Ia hanya hidup dalam kebenaran. Ia tahu bahwa dirinya rapuh, tetapi dikasihi. Ia tahu bahwa dirinya dapat salah, tetapi dapat dibentuk. Ia tidak perlu terus-menerus membela citra dirinya.

Para Bapa Padang Gurun sering menempatkan kerendahan hati di atas askese lahiriah. Seseorang dapat berpuasa keras, tetapi jika ia merendahkan orang lain, ia belum belajar Injil. Seseorang dapat mengetahui banyak hal rohani, tetapi jika ia tidak dapat dikoreksi, pengetahuannya menjadi berbahaya.

Monakisme adalah sekolah kerendahan hati karena di sana orang belajar berhenti berpura-pura menjadi pusat dunia.

 

Monakisme dan Gereja

Monakisme lahir di dalam Gereja dan untuk Gereja. Para rahib awal bukan pendiri agama baru. Mereka tidak pergi ke padang gurun untuk menggantikan sakramen, uskup, Kitab Suci, atau komunitas umat beriman. Mereka pergi sebagai orang Kristen yang ingin menghayati baptisan secara radikal.

Banyak rahib awal adalah awam. Ini penting. Monakisme tidak pertama-tama lahir sebagai proyek klerus, melainkan sebagai gerakan umat beriman. Kekudusan tidak hanya muncul dari jabatan gerejawi. Ia juga tumbuh di gua, sel, padang gurun, rumah sederhana, dan komunitas kecil.

Namun, monakisme tidak dapat dipisahkan dari Gereja. Para rahib membaca Kitab Suci Gereja, merayakan iman Gereja, menerima sakramen, dan menjaga iman yang sama. Bahkan ketika mereka tinggal jauh dari kota, mereka tetap membawa Gereja dalam doa mereka.

Monakisme juga memiliki fungsi profetis bagi Gereja. Ketika Gereja tergoda menjadi terlalu nyaman, monakisme mengingatkan pada salib. Ketika Gereja terlalu sibuk dengan kehormatan, monakisme mengingatkan pada kerendahan hati. Ketika Gereja terlibat dalam kuasa, monakisme mengingatkan pada doa. Ketika umat mulai lupa bahwa Allah adalah tujuan akhir, monakisme menunjuk kembali kepada Allah.

Karena itu, hubungan antara monakisme dan Gereja selalu memiliki ketegangan yang subur. Monakisme berada di dalam Gereja, tetapi sekaligus mengingatkan Gereja agar tidak kehilangan jiwanya.


Tanda bagi Semua Orang Kristen

Tidak semua orang dipanggil menjadi rahib. Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa hidup monastik adalah satu-satunya cara mengikuti Kristus. Perkawinan, keluarga, pelayanan sosial, pekerjaan, pendidikan, politik, seni, dan hidup awam di tengah dunia juga dapat menjadi jalan kekudusan.

Namun, monakisme tetap penting bagi semua orang Kristen karena ia memperlihatkan secara tajam apa yang menjadi panggilan dasar setiap murid Kristus.

·        Setiap orang Kristen dipanggil untuk mencari Allah.
·        Setiap orang Kristen dipanggil untuk bertobat.
·        Setiap orang Kristen dipanggil untuk tidak diperbudak oleh harta, kehormatan, kuasa, atau kenikmatan.
·        Setiap orang Kristen dipanggil untuk berdoa.
·        Setiap orang Kristen dipanggil untuk mengasihi dengan hati yang semakin bebas.

Rahib menghidupi semua itu dalam bentuk khusus. Ia menjadi tanda.

Tanda tidak menggantikan kenyataan, tetapi menunjuk kepadanya. Hidup monastik menunjuk kepada kebenaran bahwa Allah layak menjadi pusat seluruh hidup.

Dalam dunia yang mudah lupa, tanda seperti ini sangat diperlukan.

 

Monakisme sebagai Sekolah Pertobatan

Salah satu ungkapan paling indah tentang hidup monastik muncul dalam tradisi Benediktin: biara sebagai “sekolah pelayanan Tuhan”. Ungkapan ini membantu kita memahami monakisme secara lebih manusiawi.

Sekolah adalah tempat orang belajar. Orang masuk sekolah bukan karena sudah tahu segalanya, melainkan karena ingin dibentuk. Demikian pula, seseorang masuk biara bukan karena sudah sempurna. Ia masuk karena ingin belajar mencari Allah.

Ini penting untuk menghindari gambaran romantis tentang para rahib. Para rahib bukan malaikat. Mereka dapat marah, bosan, iri, takut, malas, atau terluka. Mereka bergumul dengan pikiran-pikiran yang sama seperti manusia lain. Perbedaannya bukan bahwa mereka tidak memiliki kelemahan, melainkan bahwa mereka memilih menghadapi kelemahan itu di hadapan Allah.

Monakisme adalah sekolah pertobatan karena ia menyediakan ruang, ritme, dan disiplin untuk kembali kepada Allah setiap hari. Dalam sekolah ini, guru-gurunya adalah Kitab Suci, doa, kerja, komunitas, keheningan, bapa dan ibu rohani, serta pengalaman jatuh bangun.

Tidak ada orang yang lulus dari pertobatan selama masih hidup. Setiap hari adalah permulaan baru.

 

Mengapa Bab Ini Penting?

Sebelum kita memasuki kisah para martir, para pertapa Mesir, Antonius, Pakomius, Evagrius, Basilius, Kasianus, dan Benediktus, kita perlu memahami terlebih dahulu inti monakisme. Tanpa pemahaman ini, sejarah monakisme mudah disalahartikan.

  • Kita dapat mengira bahwa monakisme adalah kisah orang-orang aneh yang membenci dunia.
  • Kita dapat mengira bahwa monakisme adalah perlombaan askese ekstrem.
  • Kita dapat mengira bahwa monakisme adalah pelarian dari tanggung jawab.
  • Kita dapat mengira bahwa monakisme hanya urusan masa lalu.

Padahal, pada intinya, monakisme adalah kisah manusia yang mencari Allah dengan sungguh-sungguh. Ia adalah kisah hati yang ingin disatukan. Ia adalah kisah tentang kebebasan dari kelekatan. Ia adalah kisah tentang keberanian untuk masuk ke tempat sunyi agar dapat mendengar suara Allah dengan lebih jernih.

Dan mungkin, sebelum menjadi sejarah tentang gurun Mesir atau biara Monte Cassino, monakisme adalah pertanyaan yang diajukan kepada setiap pembaca: Apa yang sungguh engkau cari?

 

Penutup Bab

Monakisme Kristen lahir dari kerinduan untuk mencari Allah dengan hati yang utuh. Kata monachos mengingatkan kita pada kesendirian, tetapi juga pada kesatuan hati. Rahib bukan sekadar orang yang hidup jauh dari keramaian. Ia adalah orang yang berusaha mengarahkan seluruh hidupnya kepada Allah.

Monakisme bukan kebencian terhadap dunia, melainkan latihan kebebasan. Ia tidak menolak ciptaan, tetapi menolak diperbudak oleh ciptaan. Ia tidak membenci tubuh, tetapi melatih tubuh agar ikut serta dalam pencarian Allah. Ia tidak menolak komunitas manusia, tetapi belajar mengasihi dengan hati yang lebih murni.

Askese, doa, kerja, kesederhanaan, ketaatan, dan keheningan adalah sarana. Tujuannya adalah kasih. Jika semua latihan itu tidak membawa manusia kepada kasih yang lebih besar kepada Allah dan sesama, maka monakisme kehilangan jiwanya.

Dalam bab berikutnya, kita akan melihat bagaimana kerinduan ini berakar dalam Injil. Monakisme tidak muncul pertama-tama dari gagasan filosofis atau eksperimen sosial, tetapi dari Injil yang dibaca secara radikal: Yesus di padang gurun, panggilan untuk meninggalkan segala sesuatu, doa tanpa henti, hidup jemaat perdana, dan undangan untuk mengikuti Kristus dengan segenap hati.