BAB 4 - Tanah Para Rahib
Mesir adalah negeri dengan dua wajah. Di satu sisi, ada Sungai Nil: air, lumpur subur, ladang gandum, desa-desa, perahu, pasar, keluarga, pajak, kerja, dan kehidupan yang terus bergerak mengikuti irama banjir tahunan. Di sepanjang Nil, tanah menjadi hijau. Manusia dapat menanam, memanen, membangun rumah, dan membentuk peradaban.
Di sisi lain, tidak jauh dari tanah subur itu, terbentang
padang gurun: kering, luas, sunyi, keras, dan tampak kosong. Hanya beberapa
langkah dari dunia yang penuh kehidupan, orang dapat memasuki ruang yang hampir
tanpa suara. Antara ladang dan pasir, antara desa dan gurun, antara kesibukan
dan keheningan, monakisme Kristen menemukan salah satu tempat kelahirannya yang
paling penting.
Mesir bukan satu-satunya tempat berkembangnya askese
Kristen. Tetapi Mesir memberi bentuk yang begitu kuat sehingga imajinasi monastik
Kristen selama berabad-abad akan selalu kembali ke sana. Ketika orang berbicara
tentang para Bapa Padang Gurun, tentang Antonius, Makarius, Poemen, Musa,
Syncletica, Sarah, Nitria, Sketis, dan Kellia, mereka sedang berbicara tentang
Mesir sebagai tanah rohani.
Di sana, padang gurun menjadi sekolah pertobatan.
Negeri Sungai dan Gurun
Geografi Mesir membantu kita memahami mengapa monakisme
berkembang begitu subur di sana. Hidup masyarakat Mesir sangat bergantung pada
Sungai Nil. Sungai ini memberi air, kesuburan, dan jalur komunikasi. Desa-desa
tumbuh di sepanjang alirannya. Kehidupan pertanian, ekonomi, dan sosial
berpusat pada tanah yang dapat diolah. Namun, tanah subur itu tidak melebar
tanpa batas. Di luar wilayah hijau, gurun segera mengambil alih.
Kontras ini mencolok. Nil adalah kehidupan yang tampak.
Gurun adalah kekosongan yang menunggu. Tetapi bagi para rahib, kekosongan itu
bukan kehampaan. Justru di sanalah manusia dapat belajar mendengar.
Padang gurun Mesir tidak selalu sangat jauh dari pemukiman.
Dalam banyak kasus, seseorang dapat meninggalkan desa atau kota dan bergerak
menuju wilayah sunyi tanpa sepenuhnya terputus dari dunia. Ini penting. Para
rahib dapat mengambil jarak dari masyarakat, tetapi masih dapat menjual hasil
kerja tangan, menerima pengunjung, mendapat bimbingan, atau menghadiri liturgi
pada waktu tertentu.
Dengan demikian, monakisme Mesir tidak lahir dari pemisahan
mutlak antara dunia dan gurun. Ia lahir dari ketegangan antara keduanya. Rahib
pergi ke gurun, tetapi bayangan desa dan kota tetap ada. Ia meninggalkan
masyarakat, tetapi masyarakat datang mencarinya. Ia mencari keheningan, tetapi
keheningan itu kemudian menjadi sumber kata-kata bagi banyak orang.
Gurun Mesir menjadi tempat paradoks: tempat orang pergi
untuk tersembunyi, tetapi justru dikenal; tempat orang pergi untuk diam, tetapi
justru memberi nasihat; tempat orang pergi untuk menyendiri, tetapi justru
melahirkan komunitas rohani.
Mengapa Mesir?
Mengapa Mesir menjadi begitu penting dalam sejarah monakisme
Kristen? Jawabannya tidak tunggal. Ada faktor geografis, sosial, politik,
ekonomi, gerejawi, dan spiritual. Mesir memiliki padang gurun yang dekat dengan
dunia pemukiman. Mesir memiliki komunitas Kristen yang kuat. Aleksandria
menjadi salah satu pusat teologi terbesar dalam Gereja kuno. Wilayah pedesaan
Mesir juga memiliki umat Kristen yang hidup dengan iman sederhana tetapi kuat.
Pada abad ketiga dan keempat, Mesir berada di bawah
kekuasaan Romawi. Kekuasaan itu membawa keteraturan, tetapi juga beban. Pajak,
administrasi, kewajiban negara, dan tekanan sosial dapat membuat hidup banyak
orang berat. Dalam dunia seperti itu, pergi ke gurun kadang dapat dilihat juga
sebagai cara mengambil jarak dari sistem yang menekan.
Namun, penjelasan sosial saja tidak cukup. Jika monakisme
hanya pelarian dari pajak atau persoalan ekonomi, ia tidak akan melahirkan
tradisi doa, kebijaksanaan, dan kekudusan yang begitu mendalam. Para rahib
memang hidup dalam konteks sosial tertentu, tetapi mereka sendiri memahami
pilihan mereka terutama sebagai jawaban rohani.
Mereka pergi ke gurun karena ingin mencari Allah. Mereka
ingin menghidupi Injil dengan lebih utuh. Mereka ingin bertobat. Mereka ingin
berperang melawan dosa dan hawa nafsu. Mereka ingin belajar berdoa tanpa henti.
Mereka ingin bebas dari ikatan-ikatan yang membuat hati terpecah.
Mesir menjadi tanah para rahib karena di sana semua faktor
ini bertemu: gurun yang dekat, Gereja yang hidup, perubahan sejarah,
kegelisahan rohani, dan kerinduan akan Allah.
Aleksandria dan Padang Gurun
Tidak mungkin berbicara tentang Mesir Kristen tanpa menyebut
Aleksandria. Aleksandria adalah kota besar, pusat ilmu, filsafat, perdagangan,
dan teologi. Di sana Kekristenan bertemu dengan dunia intelektual Yunani. Di
sana muncul para pemikir besar seperti Klemens dari Aleksandria dan Origenes.
Di sana pula Athanasius, uskup besar pembela iman Nicea, menulis Life of
Antony, teks yang akan memperkenalkan Antonius kepada dunia Kristen yang lebih
luas.
Namun, monakisme Mesir tidak lahir hanya dari ruang kuliah
atau perdebatan teologis Aleksandria. Banyak rahib berasal dari desa, dari
kalangan sederhana, dari dunia kerja tangan. Mereka mungkin tidak memiliki
pendidikan tinggi, bahkan beberapa tidak dapat membaca. Tetapi mereka memiliki
bentuk pengetahuan lain: pengetahuan yang lahir dari pertobatan.
Ini menciptakan hubungan menarik antara kota dan gurun. Kota
memiliki sekolah, uskup, debat doktrinal, dan jaringan tulisan. Gurun memiliki
doa, askese, keheningan, dan pengalaman batin. Keduanya tidak selalu mudah
bersatu, tetapi keduanya saling membutuhkan.
Athanasius melihat dalam Antonius bukan sekadar pertapa
eksentrik, melainkan saksi iman Gereja. Dengan menulis kisah hidup Antonius, ia
membawa gurun ke kota, dan dari kota ke seluruh dunia Kristen. Melalui teks
itu, orang-orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di Mesir dapat
membayangkan gurun sebagai tempat Injil dihidupi secara radikal.
Aleksandria membantu memberi suara kepada gurun. Gurun
membantu mengingatkan Aleksandria bahwa teologi tidak boleh hanya menjadi
perdebatan, tetapi harus menjadi hidup.
Padang Gurun sebagai Ruang Kebenaran
Mengapa orang pergi ke padang gurun? Bagi banyak orang
modern, tempat sunyi sering dianggap sebagai tempat istirahat. Orang pergi
menyepi untuk menenangkan pikiran, memulihkan tenaga, atau menjauh sebentar
dari kebisingan. Tetapi bagi para rahib Mesir, padang gurun bukan terutama
tempat relaksasi. Gurun adalah tempat kebenaran.
Di sana, manusia tidak dapat terus-menerus bersembunyi. Di
kota atau desa, seseorang dapat menutupi dirinya dengan aktivitas. Ia dapat
sibuk bekerja, berbicara, berdagang, mengurus keluarga, berdebat, melayani,
atau mencari hiburan. Kesibukan tidak selalu buruk. Tetapi kesibukan dapat
menjadi cara untuk menghindari pertanyaan terdalam: siapa aku di hadapan Allah?
Di gurun, pertanyaan itu tidak mudah dihindari. Keheningan
memantulkan kembali isi hati. Orang mulai mendengar pikirannya sendiri. Ia
menyadari betapa cepat ia gelisah, marah, takut, lapar akan pujian, atau ingin
lari. Padang gurun menyingkapkan bahwa masalah manusia tidak hanya terletak
pada dunia luar, tetapi pada hati yang belum bebas.
Karena itu, para rahib tidak pergi ke gurun karena mereka
sudah suci. Mereka pergi karena mereka tahu bahwa mereka perlu disembuhkan.
Gurun tidak otomatis membuat orang kudus. Gurun hanya
membuat keadaan hati lebih terlihat. Jika seseorang membawa kesombongan ke
gurun, kesombongan itu akan muncul. Jika ia membawa kemarahan, kemarahan itu
akan berbicara. Jika ia membawa keinginan untuk dipuji, bahkan askesenya dapat
menjadi bahan kesombongan.
Tetapi justru di situlah rahmat bekerja. Apa yang terlihat
dapat dipersembahkan. Apa yang diakui dapat disembuhkan. Apa yang dibawa kepada
Allah dapat diubah. Padang gurun adalah ruang kebenaran karena ia menanggalkan
ilusi.
Peperangan yang Tidak Terlihat
Kisah-kisah para rahib Mesir sering memakai bahasa
peperangan. Mereka berbicara tentang iblis, godaan, pikiran jahat, serangan
batin, dan perjuangan rohani. Bagi pembaca modern, bahasa ini kadang terdengar
asing atau dramatis. Namun, di baliknya terdapat pemahaman mendalam tentang
hati manusia.
Para rahib tahu bahwa manusia tidak selalu menguasai dirinya
sendiri. Pikiran-pikiran datang. Keinginan muncul. Kenangan lama kembali. Luka
batin berbicara. Rasa iri, nafsu, marah, malas, takut, dan ingin dihormati
dapat menguasai seseorang bahkan ketika ia sedang berdoa.
Mereka menyebut banyak gerakan batin itu sebagai logismoi,
pikiran-pikiran atau dorongan-dorongan yang menggoda. Pikiran dalam arti ini
bukan hanya gagasan rasional. Ia dapat berupa imajinasi, bisikan, dorongan,
fantasi, atau alasan yang tampaknya masuk akal tetapi menjauhkan manusia dari
Allah.
Seorang rahib duduk di selnya untuk berdoa. Tiba-tiba ia
teringat kesalahan saudaranya. Ia mulai marah. Lalu ia merasa perlu menegur
demi kebenaran. Tetapi jika ia jujur, mungkin yang terluka adalah egonya. Atau
seorang rahib merasa bosan dan gelisah. Ia berpikir bahwa tempat lain akan
lebih baik, guru lain lebih cocok, komunitas lain lebih rohani. Tetapi mungkin
ia sedang lari dari ketekunan.
Peperangan rohani tidak selalu tampak seperti peristiwa
besar. Sering kali ia terjadi dalam alasan-alasan kecil yang membujuk hati
menjauh dari kesetiaan.
Para rahib Mesir menjadi ahli dalam membaca gerakan batin
seperti ini. Mereka tidak langsung percaya pada semua yang muncul dalam
pikiran. Mereka membawa pikiran itu kepada doa, Kitab Suci, dan bapa atau ibu
rohani. Mereka belajar bertanya: pikiran ini membawaku ke mana? Apakah ia melahirkan
kerendahan hati, kasih, dan damai? Atau ia melahirkan kegelisahan, kesombongan,
dan penghakiman?
Dalam hal ini, padang gurun menjadi tempat lahirnya salah
satu bentuk psikologi rohani Kristen yang paling tajam.
Abba dan Amma
Di padang gurun Mesir, orang datang kepada para bapa dan ibu
rohani dengan permintaan sederhana: “Abba, berilah aku perkataan.” Atau kepada
seorang ibu rohani: “Amma, berilah aku perkataan.”
Permintaan ini sangat khas. Murid tidak meminta ceramah
panjang. Ia meminta satu perkataan yang dapat menolongnya hidup. Perkataan itu
sering singkat, kadang keras, kadang lembut, kadang membingungkan, tetapi
biasanya lahir dari pengalaman rohani yang dalam.
Abba berarti bapa. Amma berarti ibu. Dalam tradisi monastik,
abba dan amma bukan sekadar orang tua secara biologis, melainkan pembimbing
rohani. Mereka dihormati bukan terutama karena jabatan resmi, melainkan karena
kebijaksanaan hidup. Mereka telah berjuang, jatuh, bangun, menangis, berdoa,
dan dibentuk oleh Allah.
Kehadiran abba dan amma menunjukkan bahwa monakisme tidak
pernah dimaksudkan sebagai jalan egois yang ditempuh sendirian berdasarkan
kehendak sendiri. Bahkan pertapa membutuhkan bimbingan. Dalam kesendirian,
seseorang mudah tertipu oleh pikirannya sendiri. Ia dapat mengira sedang
mengikuti Roh Kudus, padahal mengikuti ketakutan. Ia dapat mengira sedang
rendah hati, padahal sedang menghindar. Ia dapat mengira sedang bersemangat,
padahal sedang mencari perhatian. Bapa dan ibu rohani membantu murid melihat dirinya
dengan lebih jujur.
Yang menarik, tradisi Mesir tidak hanya mengenal abba,
tetapi juga amma. Perempuan seperti Syncletica, Sarah, dan Theodora dihormati
sebagai ibu rohani. Ini penting karena sejarah monakisme sering terlalu mudah
dibaca sebagai sejarah laki-laki. Padahal sejak awal, perempuan juga menghidupi
askese, memberi nasihat, dan menjadi guru kebijaksanaan.
Di padang gurun, ukuran kebijaksanaan bukan jenis kelamin,
status sosial, atau pendidikan formal, melainkan hati yang telah dibentuk oleh Allah.
Nitria, Sketis, dan Kellia
Monakisme Mesir tidak memiliki satu bentuk saja. Ada pertapa
yang hidup sangat menyendiri. Ada murid-murid yang tinggal dekat seorang bapa
rohani. Ada komunitas longgar. Ada juga komunitas yang lebih teratur. Tiga nama
sering muncul dalam sejarah padang gurun Mesir: Nitria, Sketis, dan Kellia.
Nitria adalah salah satu pusat monastik penting di sebelah
barat Delta Nil. Tempat ini menarik banyak rahib dan peziarah. Nitria bukan
biara tunggal seperti yang mungkin dibayangkan pembaca modern, melainkan
semacam koloni monastik. Para rahib tinggal dalam sel-sel sederhana, hidup
cukup menyendiri, tetapi tetap berada dalam jaringan komunitas.
Sketis dikenal sebagai tempat yang lebih keras dan lebih
dalam secara asketis. Banyak tokoh besar tradisi padang gurun dikaitkan dengan
Sketis. Di sana, hubungan murid dengan abba sangat penting. Sketis menjadi
simbol sekolah kebijaksanaan padang gurun: tempat orang belajar tidak
menghakimi, berdiam, berdoa, bekerja, dan mengenali pikiran sendiri.
Kellia berarti “sel-sel”. Tempat ini menjadi kawasan bagi
para rahib yang menginginkan kesendirian lebih besar, tetapi tetap tidak
sepenuhnya terlepas dari lingkungan monastik. Sel menjadi pusat hidup: tempat
berdoa, bekerja, berjuang, bosan, menangis, dan bertahan.
Dalam tradisi padang gurun ada nasihat terkenal: tinggallah
di selmu, dan selmu akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu. Nasihat ini
terdengar sederhana, tetapi sangat dalam. Banyak orang ingin berubah dengan
berpindah tempat. Jika hidup terasa sulit, kita ingin mencari lingkungan baru,
orang baru, tugas baru, suasana baru. Kadang perpindahan memang perlu. Tetapi
sering kali yang paling kita hindari bukan tempat, melainkan diri sendiri.
Sel mengajarkan ketekunan. Ia memaksa rahib berhenti melarikan
diri. Di sana ia belajar bahwa pertobatan tidak terjadi karena terus mencari
keadaan ideal, tetapi karena setia menghadapi kenyataan di hadapan Allah.
Kerja Tangan dan Kehidupan Sehari-hari
Para rahib Mesir tidak hanya berdoa dan berpuasa. Mereka
juga bekerja. Banyak dari mereka membuat keranjang, tikar, tali, atau melakukan
pekerjaan sederhana lain. Kerja tangan membantu mereka memenuhi kebutuhan
hidup. Mereka tidak ingin menjadikan kesalehan sebagai alasan untuk hidup malas
atau bergantung sepenuhnya pada orang lain. Dengan bekerja, mereka juga dapat
memberi kepada orang miskin.
Kerja memiliki makna rohani yang penting. Ia menjaga rahib
tetap rendah hati. Ia menghubungkan doa dengan tubuh. Ia melawan kemalasan dan
acedia. Ia mengajarkan kesetiaan pada hal-hal kecil.
Bayangkan seorang rahib duduk di selnya, menganyam keranjang
sambil mendaraskan Mazmur. Gerak tangannya berulang. Pekerjaannya sederhana.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada karya besar yang membuatnya terkenal. Namun,
justru dalam pengulangan itu ia belajar setia.
Hidup monastik tidak selalu berisi pengalaman rohani luar
biasa. Sebagian besar hidupnya terdiri dari hal biasa: bangun, berdoa, bekerja,
makan secukupnya, menerima tamu, berdiam, tergoda, kembali berdoa, tidur, lalu
mengulang lagi. Dalam pengulangan itulah manusia dibentuk.
Di sini monakisme Mesir mengajarkan bahwa keseharian bukan
musuh spiritualitas. Keseharian adalah bahan spiritualitas. Hal-hal kecil, jika
dilakukan di hadapan Allah, dapat menjadi jalan pertobatan.
Keheningan yang Menghasilkan Kata
Para rahib padang gurun sangat menghargai keheningan. Mereka
tahu bahwa banyak dosa lahir dari kata-kata yang tidak dijaga: gosip,
penghakiman, pembelaan diri, kesombongan, keluhan, dan kemarahan.
Namun, keheningan monastik bukan sekadar tidak berbicara.
Orang dapat diam tetapi hatinya penuh kebisingan. Ia dapat tidak mengucapkan
kata-kata, tetapi terus berdebat dalam pikirannya. Keheningan sejati adalah
sikap hati yang belajar mendengarkan Allah.
Dari keheningan itu lahirlah perkataan yang berbobot. Inilah
paradoks para Bapa dan Ibu Padang Gurun. Mereka banyak diam, tetapi perkataan
mereka bertahan selama berabad-abad. Mereka tidak menulis sistem teologi
panjang, tetapi satu kalimat mereka dapat menembus hati. Mereka tidak banyak
berbicara, tetapi ketika berbicara, kata-kata mereka lahir dari hidup.
Kumpulan perkataan mereka dikenal sebagai Apophthegmata
Patrum, atau Sayings of the Desert Fathers. Di dalamnya kita menemukan dialog
singkat, kisah kecil, nasihat tajam, dan kebijaksanaan yang kadang mengejutkan.
Banyak perkataan itu menekankan kerendahan hati, tidak
menghakimi, menjaga sel, berdoa, bekerja, dan mengenali diri. Para abba dan
amma tidak tertarik pada teori yang tidak mengubah hidup. Mereka ingin murid
bertobat. Keheningan mereka bukan kekosongan. Ia adalah tanah tempat sabda
tumbuh.
Gurun yang Menjadi Kota
Ada sebuah ungkapan terkenal dalam studi monakisme: padang
gurun menjadi kota. Ungkapan ini menangkap paradoks besar monakisme Mesir.
Para rahib pergi ke gurun untuk mencari kesunyian. Namun,
semakin banyak orang datang. Murid-murid ingin belajar. Peziarah ingin melihat.
Umat meminta doa. Orang sakit mencari penghiburan. Para penulis mencatat
kisah-kisah. Nama para rahib menyebar.
Gurun yang tampak kosong menjadi penuh kehidupan. Ini bukan
tanpa masalah. Ketenaran dapat menjadi godaan. Seorang rahib yang pergi untuk
tersembunyi dapat mulai dikenal dan dihormati. Orang yang meninggalkan dunia
dapat menemukan dunia datang kepadanya dalam bentuk lain: pujian, pengaruh, dan
otoritas rohani.
Para rahib yang bijaksana sadar akan bahaya ini. Mereka
sering menghindari pujian. Ada yang berpindah lebih jauh ke dalam gurun. Ada
yang menolak dianggap suci. Ada yang memberi jawaban keras untuk menghancurkan
ilusi para pengunjung.
Namun, fakta bahwa orang datang kepada mereka menunjukkan
sesuatu yang penting: dunia membutuhkan saksi. Orang-orang yang hidup di kota
datang ke gurun karena merasakan bahwa para rahib memiliki sesuatu yang hilang
dalam kehidupan biasa: kejernihan, keberanian, doa, dan kata-kata yang lahir
dari pengalaman Allah.
Padang gurun menjadi kota bukan karena kehilangan
keheningannya, tetapi karena keheningan itu menjadi sumber kehidupan bagi orang
lain.
Monakisme sebagai Gerakan Awam
Salah satu hal paling menarik dari monakisme Mesir adalah
bahwa gerakan ini pada awalnya sangat bercorak awam. Banyak rahib bukan imam.
Mereka bukan pejabat Gereja. Mereka bukan bagian dari struktur klerikal. Mereka
adalah orang-orang Kristen biasa yang ingin hidup bagi Allah secara radikal.
Ini memberi pesan penting. Kekudusan tidak terbatas pada
jabatan. Kebijaksanaan rohani tidak selalu lahir dari sekolah formal. Seorang
petani, penganyam keranjang, bekas prajurit, janda, perawan, atau orang
sederhana dapat menjadi manusia Allah.
Tentu saja, monakisme tetap berada dalam Gereja. Para rahib
membaca Kitab Suci Gereja, menghormati sakramen, dan sering berhubungan dengan
uskup. Tetapi sumber daya tarik mereka bukan kuasa institusional. Orang datang
kepada mereka karena hidup mereka berbicara.
Monakisme sebagai gerakan awam mengingatkan bahwa seluruh
umat dipanggil kepada kekudusan. Rahib bukan orang Kristen jenis lain. Ia
adalah orang Kristen yang mengambil bentuk hidup khusus untuk menghayati
panggilan baptisan secara radikal.
Dalam perkembangan selanjutnya, banyak rahib memang menjadi
imam atau uskup. Biara juga akan menjadi institusi yang lebih teratur. Tetapi
akar awalnya tetap penting: monakisme lahir dari kerinduan umat, dari bawah,
dari hati orang-orang yang ingin mencari Allah.
Hubungan dengan Gereja
Hubungan antara para rahib Mesir dan Gereja tidak selalu
sederhana, tetapi sangat penting. Di satu sisi, para rahib sering hidup di
pinggiran. Mereka tinggal jauh dari pusat kota dan struktur gerejawi. Mereka
tidak selalu mudah diatur. Karisma mereka kadang melampaui jabatan resmi. Orang
lebih suka meminta nasihat kepada seorang abba daripada kepada pejabat gerejawi
tertentu.
Di sisi lain, para rahib bukan kelompok di luar Gereja.
Mereka hidup dari Kitab Suci, doa, iman, dan sakramen Gereja. Tokoh seperti
Antonius bahkan digambarkan oleh Athanasius sebagai pendukung iman ortodoks
melawan Arianisme. Dengan demikian, kekudusan gurun tidak dipisahkan dari iman
Gereja.
Ketegangan ini justru memberi daya profetis. Monakisme tidak
menggantikan Gereja, tetapi mengingatkan Gereja. Ia mengingatkan bahwa struktur
perlu jiwa, teologi perlu pertobatan, liturgi perlu doa hati, dan jabatan perlu
kerendahan hati.
Gereja membutuhkan gurun, bukan karena semua orang harus
pergi ke gurun, tetapi karena tanpa ruang gurun Gereja mudah terlalu sibuk,
terlalu terhormat, dan terlalu nyaman.
Gurun mengingatkan Gereja pada asalnya: Kristus yang miskin,
taat, berdoa, dan tersalib.
Mesir sebagai Guru
Dari Mesir, dunia Kristen belajar banyak hal. Ia belajar
bahwa padang gurun dapat menjadi tempat perjumpaan dengan Allah.
- Ia belajar bahwa kesendirian tidak harus menjadi kesepian, tetapi dapat menjadi ruang pembentukan.
- Ia belajar bahwa komunitas tidak cukup dibangun oleh peraturan, tetapi oleh pertobatan hati.
- Ia belajar bahwa doa membutuhkan tubuh: bangun, duduk, berdiri, berpuasa, bekerja, dan bertahan.
- Ia belajar bahwa pikiran-pikiran manusia perlu diuji.
- Ia belajar bahwa bapa dan ibu rohani dibutuhkan untuk menolong orang melihat dirinya dengan benar.
- Ia belajar bahwa keheningan dapat menghasilkan kata-kata yang menyembuhkan.
- Ia belajar bahwa askese tanpa kerendahan hati berbahaya.
- Ia belajar bahwa orang sederhana dapat menjadi guru Gereja.
Warisan Mesir akan mengalir ke banyak arah. Antonius akan
menjadi model pertapa. Pakomius akan memberi bentuk hidup bersama. Evagrius
akan merumuskan pergulatan batin rahib. Kasianus akan membawa kebijaksanaan
Mesir ke Barat. Benediktus kelak akan menerima banyak warisan itu dan
menyusunnya dalam peraturan hidup yang seimbang.
Karena itu, untuk memahami Benediktus, kita harus terlebih
dahulu duduk di pasir Mesir. Sebelum biara Barat, ada sel-sel gurun. Sebelum
regula yang rapi, ada perkataan abba. Sebelum keseimbangan Benediktin, ada
perjuangan para rahib yang belajar dari lapar, diam, kerja, dan godaan. Mesir
adalah salah satu rahim besar monakisme Kristen.
Penutup Bab
Mesir menjadi tanah para rahib karena di sana geografi,
sejarah, Gereja, dan kerinduan rohani bertemu. Sungai Nil memberi kehidupan
bagi desa dan kota, sementara padang gurun menyediakan ruang sunyi bagi
pertobatan. Di antara keduanya, orang-orang Kristen mulai membentuk cara hidup
yang akan memengaruhi seluruh sejarah spiritual Gereja.
Para rahib Mesir tidak pergi ke gurun karena mereka membenci
dunia. Mereka pergi karena ingin mencari Allah dengan hati yang lebih bebas. Di
gurun, mereka menghadapi diri sendiri, godaan, pikiran-pikiran, dan kelemahan
yang selama ini tertutup oleh kesibukan. Mereka belajar bahwa padang gurun
bukan hanya tempat kosong, melainkan ruang kebenaran.
Dari Mesir lahir tradisi abba dan amma, pusat-pusat monastik
seperti Nitria, Sketis, dan Kellia, kebijaksanaan Apophthegmata, kerja tangan,
doa tanpa henti, dan seni membedakan pikiran. Semua ini akan menjadi dasar bagi
perkembangan monakisme Kristen berikutnya.
Dalam bab selanjutnya, kita akan bertemu dengan tokoh yang
paling terkenal dari padang gurun Mesir: Antonius Agung. Kisahnya dimulai
dengan satu tindakan sederhana tetapi menentukan: mendengar Injil, lalu
mempercayainya sebagai panggilan pribadi.