BAB 5 - Antonius: Orang yang Mendengarkan Injil
Ada kisah yang sangat sederhana, tetapi menentukan, dalam sejarah monakisme Kristen. Seorang pemuda Mesir masuk ke gereja. Ia mendengar Injil dibacakan. Sabda yang sampai ke telinganya adalah perkataan Yesus kepada orang muda kaya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga; kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Bagi banyak orang, kalimat itu mungkin hanya menjadi teks
yang indah dan berat. Tetapi bagi pemuda itu, sabda tersebut terdengar seperti
panggilan pribadi. Ia tidak menundanya. Ia tidak mengubahnya menjadi teori. Ia
tidak hanya mengaguminya dari kejauhan. Ia menerimanya sebagai suara Kristus
yang memanggil hidupnya.
Pemuda itu adalah Antonius dari Mesir. Dalam kisah yang
ditulis Athanasius, Antonius berasal dari keluarga Kristen yang cukup berada di
Mesir; setelah orang tuanya meninggal, ia mendengar Injil tentang orang muda
kaya dan membagikan hartanya, lalu memulai hidup asketis. Life of Antony karya
Athanasius menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam penyebaran ideal
monastik Kristen.
Antonius bukan orang pertama yang menjalani askese Kristen.
Sebelum dia sudah ada para perawan, janda, asket, pertapa, dan orang-orang
Kristen yang hidup sederhana. Ia juga bukan satu-satunya pertapa Mesir pada
zamannya. Tetapi melalui hidupnya, terutama melalui tulisan Athanasius,
Antonius menjadi ikon besar monakisme eremitik. Ia menjadi wajah padang gurun.
Dalam dirinya, banyak tema besar monakisme tampak jelas:
Injil yang didengar secara radikal, pelepasan harta, kesendirian, peperangan
rohani, doa, kerja, bimbingan rohani, kesetiaan kepada Gereja, dan daya tarik
kekudusan yang membuat gurun menjadi tempat orang datang mencari nasihat.
Antonius adalah orang yang mendengar Injil dan membiarkan
hidupnya diubah olehnya.
Mendengar Seperti Ditujukan Kepadanya
Tidak semua orang sungguh mendengar. Kita dapat mendengar
bacaan Kitab Suci berkali-kali tanpa merasa dipanggil. Kita dapat menghafal
sabda Yesus, menjelaskannya, bahkan mengajarkannya, tetapi tetap menjaga jarak
aman darinya. Sabda itu menjadi teks, bukan panggilan.
Kisah Antonius menggambarkan cara mendengar yang berbeda. Ia
mendengar Injil seolah-olah Kristus berbicara langsung kepadanya. Tentu, secara
historis, teks itu berasal dari kisah orang muda kaya. Tetapi dalam iman, sabda
Kristus tidak terkunci di masa lalu. Ia terus berbicara kepada Gereja.
Antonius tidak bertanya lebih dahulu apakah teks itu berlaku
bagi semua orang dengan cara yang sama. Ia tidak menjadikan pertanyaan itu
alasan untuk menunda. Ia menangkap bahwa bagi dirinya, pada saat itu, sabda
tersebut adalah panggilan.
Di sinilah letak radikalitas Antonius. Ia bukan pertama-tama
orang yang melakukan askese ekstrem. Ia adalah orang yang mendengar.
Dalam tradisi monastik, mendengar adalah awal dari
pertobatan. Kelak, Regula Benediktus akan dibuka dengan kata ausculta:
“Dengarkanlah.” Hidup rohani dimulai bukan dari kehendak untuk menjadi hebat,
melainkan dari kemampuan mendengar Allah.
Antonius mendengar, lalu bertindak. Ia menjual atau
membagikan miliknya. Ia mengatur kehidupan adiknya agar aman dalam komunitas
para perawan. Lalu ia mulai menjalani hidup asketis.
Yang menarik, tindakan Antonius bukan sekadar meninggalkan.
Ia meninggalkan agar dapat mengikuti. Jika ia hanya meninggalkan harta,
kisahnya akan menjadi kisah kemiskinan. Tetapi karena ia meninggalkan untuk
mengikuti Kristus, kisahnya menjadi kisah kemuridan.
Inilah dasar monakisme: bukan pelepasan demi pelepasan,
tetapi pelepasan demi mengikuti.
Bukan Awal dari Nol
Sering dikatakan bahwa Antonius adalah “bapa monakisme”.
Sebutan ini benar dalam arti tertentu, tetapi perlu dipahami dengan hati-hati.
Antonius bukan pencipta monakisme dari nol. Askese Kristen sudah ada
sebelumnya. Ada orang-orang yang hidup selibat, berpuasa, berdoa, dan hidup
sederhana. Bahkan dalam kisah Athanasius, Antonius mula-mula belajar dari
seorang asket tua yang tinggal tidak jauh dari desanya. Ini menunjukkan bahwa
ia masuk ke dalam tradisi yang sudah ada.
Namun, Antonius memberi bentuk yang sangat kuat pada tradisi
itu. Ia membawa askese menuju kedalaman padang gurun. Ia menjadi simbol pertapa
yang meninggalkan dunia bukan hanya secara sosial, tetapi juga secara batin.
Hidupnya memberi gambaran konkret tentang apa artinya mengikuti Kristus dalam
kesendirian, peperangan rohani, dan doa.
Karena itu, Antonius dapat disebut bapa monakisme bukan
karena tidak ada siapa pun sebelum dia, melainkan karena dalam dirinya
monakisme mendapat wajah yang sangat jelas dan berpengaruh. Para ahli sejarah
menyebut Antonius dari Mesir, yang lahir sekitar tahun 251 dan wafat sekitar
tahun 356, sebagai salah satu Bapa Padang Gurun paling awal dan figur yang
dianggap sebagai pendiri monakisme Kristen terorganisasi.
Ia menjadi semacam ikon. Melalui dia, banyak orang dapat
membayangkan apa itu rahib: seseorang yang mendengar Injil, meninggalkan harta,
masuk ke gurun, melawan godaan, hidup dalam doa, dan menjadi bapa rohani bagi
orang lain.
Ikon tidak selalu mencakup seluruh keragaman kenyataan.
Monakisme tidak hanya eremitik. Tidak semua rahib hidup seperti Antonius.
Pakomius, Basilius, Kasianus, dan Benediktus akan memberi bentuk lain yang
lebih komunal dan teratur. Tetapi ikon tetap penting. Ia memberi gambaran yang
menggerakkan imajinasi. Antonius adalah ikon rahib sebagai pencari Allah di
padang gurun.
Dari Desa ke Kesunyian
Antonius berasal dari dunia desa Mesir. Ini penting. Ia
bukan produk utama sekolah filsafat Aleksandria. Ia bukan pertama-tama
intelektual kota besar. Ia adalah orang Kristen Mesir yang mendengar Injil di
gereja dan menanggapinya dengan serius.
Kisah hidupnya bergerak melalui beberapa tahap pengunduran
diri.
Mula-mula, ia menjalani askese di dekat tempat tinggalnya.
Ia belajar dari asket yang lebih tua. Ia berlatih dalam doa, kerja,
kewaspadaan, dan pengendalian diri. Kemudian ia bergerak semakin jauh dari
dunia biasa: ke makam-makam, ke benteng tua, ke gunung, dan akhirnya ke wilayah
yang lebih sunyi.
Gerakan ini bukan hanya perpindahan geografis. Ia
menggambarkan pendalaman rohani. Antonius tidak langsung masuk ke kesunyian
terdalam. Ia belajar bertahap. Ini penting karena tradisi monastik yang sehat
tidak memandang radikalitas sebagai tindakan impulsif. Orang perlu diuji,
dibimbing, dan dibentuk.
Kesunyian tidak otomatis menyucikan. Jika seseorang membawa
hati yang kacau ke tempat sunyi tanpa persiapan, kekacauan itu dapat menjadi
lebih keras. Antonius belajar melalui proses. Ia bertemu godaan, ketakutan, dan
serangan batin. Ia tidak menjadi bapa rohani dalam sehari.
Perjalanan Antonius dari desa ke gurun memperlihatkan bahwa
panggilan rohani sering berkembang secara bertahap. Allah memanggil, manusia
menjawab, lalu jawaban itu diperdalam.
Dalam hidup rohani, langkah pertama penting. Tetapi
kesetiaan pada langkah-langkah berikutnya tidak kalah penting.
Makam, Benteng, dan Gunung
Kisah Antonius penuh dengan tempat-tempat simbolis. Ia
tinggal di dekat makam. Ia kemudian mengurung diri di benteng tua. Ia akhirnya
hidup di gunung yang lebih jauh. Tempat-tempat ini bukan sekadar latar. Dalam
kisah hagiografis, tempat memiliki makna rohani.
Makam adalah tempat kematian. Dengan tinggal di sana,
Antonius seolah-olah masuk ke dalam realitas mati terhadap dunia. Ia mengingat
bahwa hidup manusia sementara. Ia menghadapi ketakutan dasar manusia: kematian,
kesepian, dan kegelapan.
Benteng tua adalah tempat perlindungan yang berubah menjadi
medan perang rohani. Di sana Antonius tinggal cukup lama dalam kesendirian.
Orang-orang datang, tetapi ia tetap tersembunyi. Ketika akhirnya ia keluar,
kisah Athanasius menggambarkannya bukan sebagai orang yang rusak oleh askese,
melainkan sebagai manusia yang seimbang, utuh, dan dipenuhi rahmat.
Gunung menjadi tempat kedalaman. Dalam Kitab Suci, gunung
sering menjadi tempat perjumpaan dengan Allah: Musa di Sinai, Elia di Horeb,
Yesus dalam transfigurasi. Antonius di gunung menghadirkan gambaran rahib
sebagai manusia yang naik menuju Allah, bukan dengan kesombongan, tetapi dengan
pelepasan diri.
Tempat-tempat ini menolong pembaca memahami bahwa perjalanan
Antonius adalah perjalanan melalui kematian, peperangan, dan perjumpaan. Ia
tidak pergi ke gurun untuk mendapatkan suasana romantis. Ia pergi untuk
menyerahkan diri kepada Allah dalam ruang yang keras. Padang gurun Antonius
bukan tempat indah dalam arti sentimental. Ia adalah tempat transformasi.
Peperangan Rohani
Salah satu bagian paling terkenal dari kisah Antonius adalah
pergulatannya melawan godaan dan roh-roh jahat. Dalam Life of Antony, Athanasius
menggambarkan berbagai serangan yang dialami Antonius: godaan pikiran,
ketakutan, kekerasan, penglihatan menakutkan, dan tipu daya iblis.
Bagi pembaca modern, kisah-kisah ini bisa terasa dramatis.
Namun, kita perlu membacanya dengan memahami genre dan bahasa spiritual
zamannya. Life of Antony adalah karya hagiografis, bukan biografi modern dalam
arti sempit. Tujuannya bukan hanya mencatat fakta, tetapi menampilkan Antonius
sebagai teladan kekudusan.
Bahasa iblis dan peperangan rohani dalam kisah Antonius
mengungkapkan kebenaran yang mendalam: ketika manusia sungguh-sungguh mencari
Allah, ia akan berhadapan dengan segala sesuatu yang menahannya dari Allah.
Godaan pertama yang muncul dalam kisah Antonius berkaitan
dengan ingatan akan harta, keluarga, kenyamanan, dan masa lalu. Ini sangat
manusiawi. Ketika seseorang mulai meninggalkan sesuatu, yang ditinggalkan
sering kembali dalam ingatan dengan wajah yang lebih menarik. Antonius digoda
untuk menyesal, untuk kembali, untuk mengendur.
Ia juga digoda oleh nafsu, kesombongan, ketakutan, dan
keinginan untuk menyerah. Dalam bahasa monastik, semua ini adalah bagian dari
peperangan melawan logismoi, pikiran-pikiran yang berusaha menguasai hati.
Antonius tidak menang karena kekuatan dirinya. Ia menang
karena berpegang pada Kristus. Dalam kisah Athanasius, kemenangan Antonius
selalu menunjukkan bahwa kuasa Kristus lebih besar daripada kuasa kegelapan.
Peperangan rohani Antonius bukan tontonan. Ia adalah cermin.
Setiap orang yang ingin mengikuti Kristus akan menghadapi bentuk peperangannya
sendiri: rasa takut, kebiasaan lama, kelekatan, luka, ambisi, atau godaan untuk
tampak suci. Gurun hanya membuat peperangan itu lebih terlihat.
Tubuh yang Dilatih, Bukan Dibenci
Kisah Antonius juga memperlihatkan askese tubuh: puasa,
berjaga, tidur sedikit, makan sederhana, dan hidup dalam kemiskinan. Di sini
kita perlu berhati-hati.
Askese Antonius tidak boleh dibaca sebagai kebencian
terhadap tubuh. Dalam iman Kristen, tubuh adalah ciptaan Allah dan dipanggil
kepada kebangkitan. Tubuh bukan musuh. Namun, tubuh yang tidak dilatih dapat
menjadi tempat keinginan-keinginan yang tidak teratur menguasai manusia.
Antonius melatih tubuh agar tubuh ikut serta dalam pencarian
Allah. Ia makan sederhana bukan karena makanan jahat, tetapi agar tidak
diperbudak oleh selera. Ia berjaga bukan karena tidur buruk, tetapi agar
hatinya belajar waspada. Ia hidup miskin bukan karena ciptaan hina, tetapi agar
bebas dari kelekatan.
Namun, askese tubuh selalu membutuhkan diskresi. Tidak semua
orang dipanggil meniru ukuran askese Antonius. Bahkan dalam tradisi padang
gurun sendiri, askese ekstrem tanpa kerendahan hati sering dicurigai. Yang
penting bukan kerasnya latihan, melainkan buah rohaninya.
- Apakah askese membuat seseorang lebih rendah hati?
- Apakah ia lebih penuh kasih?
- Apakah ia lebih bebas?
- Apakah ia lebih sabar?
- Apakah ia lebih jernih dalam berdoa?
Jika tidak, askese dapat berubah menjadi panggung ego.
Antonius menjadi besar bukan karena ia sekadar berpuasa atau
hidup keras, tetapi karena seluruh askesenya diarahkan kepada Allah. Tubuh
dilatih agar hati dapat mendengar.
Kesendirian yang Melahirkan Komunitas
Ada paradoks besar dalam hidup Antonius: ia pergi untuk
menyendiri, tetapi banyak orang datang kepadanya. Semakin ia masuk ke dalam
gurun, semakin banyak orang mendengar tentang dia. Murid-murid ingin belajar.
Orang sakit mencari pertolongan. Umat meminta nasihat. Para rahib lain ingin
tinggal dekat dengannya. Kesendirian Antonius melahirkan komunitas.
Ini memperlihatkan sesuatu yang penting tentang kesunyian
Kristen. Kesunyian sejati tidak membuat manusia tertutup. Ia memurnikan kasih.
Orang yang masuk ke dalam keheningan bersama Allah dapat keluar dengan
kata-kata yang lebih menyembuhkan.
Antonius tidak merencanakan menjadi pendiri gerakan besar.
Ia ingin mencari Allah. Tetapi kekudusan memiliki daya tarik. Orang yang
sungguh hidup bagi Allah menjadi tanda bagi orang lain.
Dalam hal ini, Antonius menjadi bapa rohani. Ia tidak hanya
berjuang untuk keselamatannya sendiri. Ia membimbing orang lain. Ia memberi
nasihat. Ia menguatkan para rahib. Ia menghibur yang datang. Ia menunjukkan
bahwa hidup eremitik tidak harus menjadi individualisme rohani.
Seorang pertapa sejati tidak berhenti mencintai Gereja dan
dunia. Ia hanya mencintainya dari tempat yang lebih sunyi.
Kesendirian Antonius menjadi subur karena ia tidak berpusat
pada dirinya sendiri. Ia berpusat pada Allah, dan karena itu dapat menjadi
berkat bagi banyak orang.
Antonius dan Gereja
Antonius sering digambarkan sebagai manusia gurun. Tetapi ia
bukan orang yang terpisah dari Gereja. Dalam kisah Athanasius, Antonius tetap
setia kepada iman Gereja. Ia menghormati para pelayan Gereja. Ia menolak ajaran
sesat. Ia bahkan tampil mendukung iman ortodoks dalam konteks pergulatan
melawan Arianisme. Ini penting, karena menunjukkan bahwa kesunyian monastik
bukan jalan keluar dari Gereja.
Antonius tidak mendirikan agama pribadi di gurun. Ia adalah
anak Gereja. Ia hidup dari Kitab Suci, doa, iman kepada Kristus, dan
persekutuan Gereja. Meskipun ia tinggal jauh dari pusat kota, ia tidak
memutuskan diri dari tubuh Kristus.
Athanasius sendiri memiliki alasan teologis untuk
menampilkan Antonius demikian. Ia ingin menunjukkan bahwa kekudusan rahib
sejalan dengan iman Gereja. Antonius bukan hanya pertapa yang mengesankan,
tetapi saksi kebenaran Kristus.
Hal ini penting bagi pemahaman monakisme. Monakisme yang
sehat selalu bersifat gerejawi. Ia dapat mengkritik kemapanan Gereja, tetapi
tidak memisahkan diri dari iman Gereja. Ia dapat tinggal di pinggiran, tetapi
tetap berdoa bersama Gereja. Ia dapat mengambil jarak dari dunia, tetapi tetap
mengasihi dunia dalam Kristus.
Antonius menunjukkan bahwa semakin seseorang masuk ke padang
gurun Allah, semakin ia harus berakar dalam iman Gereja.
Athanasius dan Kisah yang Mengubah Dunia
Kita mengenal Antonius terutama melalui Life of Antony karya
Athanasius dari Aleksandria. Teks ini tidak hanya menceritakan hidup seorang
pertapa. Ia membentuk imajinasi monastik seluruh Gereja.
Athanasius menulis kisah Antonius setelah kematian sang
pertapa. Karya ini cepat menyebar dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin
sebelum akhir abad keempat, sehingga turut memperkenalkan ideal asketis Mesir
kepada dunia Kristen Barat. Fordham Internet Medieval Sourcebook menyebut Life
of Antony sebagai model bagi kisah-kisah orang kudus kemudian, khususnya para
“confessor” yang kesuciannya tampak dalam hidup suci, bukan dalam kematian
martir.
Pengaruh teks ini sangat besar. Orang-orang yang tidak
pernah bertemu Antonius dapat mengenalnya melalui tulisan. Para pembaca di
kota-kota Romawi dapat membayangkan kehidupan padang gurun. Para asket di Barat
menemukan model. Bahkan Agustinus dalam Confessions menceritakan bagaimana
kisah Antonius ikut berperan dalam pergulatan pertobatannya.
Kekuatan Life of Antony terletak pada caranya menghadirkan
Antonius sebagai martir baru. Ia tidak mati di arena, tetapi hidupnya menjadi kesaksian.
Ia tidak menumpahkan darah, tetapi menyerahkan kehendak diri. Ia tidak melawan
kaisar, tetapi melawan iblis, hawa nafsu, dan ketakutan.
Athanasius menampilkan Antonius sebagai bukti bahwa kuasa
Kristus bekerja dalam diri orang sederhana. Antonius bukan filsuf kota besar,
tetapi kebijaksanaannya mengalahkan tipu daya roh jahat. Ia bukan pejabat
Gereja, tetapi hidupnya membela iman Gereja. Ia bukan martir berdarah, tetapi
seluruh hidupnya menjadi kemartiran putih. Melalui Athanasius, gurun Mesir memasuki
imajinasi seluruh Kekristenan.
Antonius sebagai Bapa Rohani
Banyak orang datang kepada Antonius untuk meminta nasihat.
Dalam dirinya, kita melihat asal-usul figur abba yang kelak begitu penting
dalam tradisi padang gurun.
Bapa rohani bukan orang yang sekadar memberi instruksi. Ia
membantu murid melihat kenyataan dirinya di hadapan Allah. Ia menolong orang
membedakan antara panggilan sejati dan ilusi, antara semangat dan kesombongan,
antara pertobatan dan keputusasaan.
Nasihat Antonius sering menekankan beberapa hal: jangan
takut terhadap godaan, percayalah pada Kristus, jaga hati, jangan tertipu oleh
penampakan lahiriah, hiduplah rendah hati, dan jangan mengandalkan diri
sendiri.
Sebagai bapa rohani, Antonius mengajarkan bahwa hidup
monastik bukan soal mencari pengalaman luar biasa. Godaan untuk mencari yang
spektakuler selalu ada. Orang ingin melihat tanda, mukjizat, penglihatan, atau
kemenangan dramatis. Tetapi jalan rohani yang sejati sering lebih sederhana:
berdoa, bekerja, bertahan, rendah hati, dan mengasihi.
Antonius juga mengajarkan keberanian. Para rahib tidak boleh
takut kepada iblis jika mereka berada dalam Kristus. Ketakutan sering menjadi
senjata terbesar dalam hidup rohani. Orang takut gagal, takut sendiri, takut
miskin, takut kehilangan, takut melihat dirinya sendiri. Antonius mengingatkan
bahwa Kristus telah menang.
Bapa rohani sejati tidak membuat murid bergantung pada
dirinya. Ia mengarahkan murid kepada Allah. Dalam hal ini, Antonius bukan
pusat. Ia adalah penunjuk jalan.
Godaan Ketenaran
Kekudusan menarik perhatian. Itulah yang terjadi pada Antonius. Ia pergi ke gurun untuk tersembunyi, tetapi namanya tersebar. Orang datang. Murid berkumpul. Kisahnya ditulis. Ia dihormati. Bahkan setelah kematiannya, ia menjadi salah satu tokoh paling terkenal dalam sejarah Gereja.
Di sini terdapat bahaya halus: ketenaran rohani. Orang dapat
meninggalkan harta, tetapi memperoleh reputasi. Ia dapat meninggalkan kota,
tetapi menjadi pusat perhatian di gurun. Ia dapat menolak kehormatan duniawi,
tetapi menikmati kehormatan religius.
Tradisi padang gurun sangat sadar akan bahaya ini.
Kesombongan rohani dianggap lebih berbahaya daripada banyak godaan lahiriah.
Mengapa? Karena ia memakai hal-hal suci sebagai bahan ego. Orang tidak lagi
sombong karena kaya, tetapi karena miskin. Tidak lagi sombong karena berkuasa,
tetapi karena saleh. Tidak lagi sombong karena terkenal di dunia, tetapi karena
dihormati sebagai orang rohani.
Antonius menghadapi bahaya ini dengan terus masuk lebih
dalam ke dalam kesunyian dan kerendahan hati. Ia tidak menjadikan dirinya
pusat. Ia mengarahkan orang kepada Kristus. Dalam kisah Athanasius, ia bahkan
menolak penghormatan yang berlebihan dan mengingatkan bahwa manusia harus takut
kepada Allah, bukan kepada setan atau manusia.
Ketenaran Antonius menunjukkan paradoks hidup rohani:
semakin seseorang sungguh mencari Allah, semakin ia mungkin dicari orang lain.
Tetapi justru di situlah kerendahan hati diuji.
Bukan Manusia Super
Membaca kisah Antonius, kita mudah membayangkannya sebagai
manusia super: kuat berpuasa, berani menghadapi iblis, tahan hidup sendiri,
penuh hikmat, dan dihormati banyak orang. Gambaran seperti ini dapat
menginspirasi, tetapi juga berbahaya jika membuat Antonius terasa jauh dari manusia
biasa.
Antonius tetap manusia. Ia mengalami godaan. Ia perlu
belajar. Ia bertumbuh bertahap. Ia membutuhkan rahmat. Ia bukan suci karena
tidak pernah bergumul, tetapi karena ia membawa pergumulannya kepada Allah.
Ini penting bagi pembaca modern. Para kudus bukan orang yang
tidak memiliki konflik batin. Mereka adalah orang yang tidak menyerah pada
konflik itu. Mereka bukan orang yang tidak pernah takut, melainkan orang yang
belajar percaya. Mereka bukan orang yang tidak pernah digoda, melainkan orang
yang terus kembali kepada Kristus.
Jika Antonius hanya dilihat sebagai tokoh luar biasa, ia
mudah dikagumi tetapi sulit diteladani. Tetapi jika kita melihatnya sebagai
manusia yang mendengar Injil dan menjawabnya selangkah demi selangkah, ia
menjadi lebih dekat.
Tidak semua orang dipanggil meniru bentuk hidup Antonius.
Tidak semua orang harus masuk gurun, tinggal di makam, atau hidup sebagai
pertapa. Tetapi semua orang dapat belajar dari caranya mendengar, melepaskan,
bertahan, dan mencari Allah.
Yang dapat diteladani bukan terutama bentuk luar askesenya,
melainkan keseriusan hatinya.
Antonius dan Kita
Apa arti Antonius bagi pembaca hari ini? Kita hidup jauh
dari Mesir abad keempat. Padang gurun kita mungkin bukan pasir dan gunung,
melainkan kesibukan, layar, pekerjaan, keluarga, paroki, komunitas, atau
kesepian batin. Kita mungkin tidak dipanggil meninggalkan semua harta secara
lahiriah, tetapi kita tetap dipanggil memeriksa apa yang menguasai hati.
Antonius bertanya kepada kita: apakah kita masih dapat
mendengar Injil sebagai panggilan pribadi?
Sering kali kita membuat sabda Allah aman. Kita mengubahnya
menjadi bahan renungan yang indah, tetapi tidak membiarkannya mengubah
keputusan. Antonius mengingatkan bahwa sabda Kristus meminta jawaban.
Ia juga bertanya: apa yang perlu kita tinggalkan agar dapat
mengikuti Kristus lebih bebas?
Mungkin bukan rumah atau pekerjaan. Mungkin kesombongan.
Mungkin dendam. Mungkin kebiasaan mencari pengakuan. Mungkin ketergantungan
pada kenyamanan. Mungkin rasa takut akan keheningan. Mungkin gambaran diri yang
selama ini kita lindungi.
Antonius juga mengajarkan bahwa kesendirian tidak selalu
buruk. Ada kesendirian yang merusak, yaitu isolasi yang lahir dari luka atau
egoisme. Tetapi ada kesendirian yang menyembuhkan, yaitu ruang di mana manusia
berdiri jujur di hadapan Allah. Dunia modern sangat takut pada kesendirian.
Antonius mengajarkan bahwa tanpa ruang sunyi, hati sulit mendengar.
Akhirnya, Antonius mengingatkan bahwa hidup Kristen adalah
perjuangan, tetapi bukan perjuangan tanpa harapan. Kristus telah menang. Rahib
berjuang bukan untuk membuktikan dirinya kuat, tetapi karena ia percaya pada
rahmat yang lebih kuat daripada kelemahannya.
Penutup Bab
Antonius menjadi salah satu figur terbesar dalam sejarah
monakisme Kristen karena ia memperlihatkan Injil yang didengar dan dihidupi
secara radikal. Ia bukan pencipta askese dari nol, tetapi dalam dirinya jalan
monastik mendapat wajah yang kuat: mendengar sabda, meninggalkan harta, masuk
ke kesunyian, berjuang melawan godaan, dan menjadi bapa rohani bagi banyak
orang.
Kisah Antonius mengajarkan bahwa padang gurun bukan tempat
pelarian, melainkan tempat kebenaran. Di sana manusia berhadapan dengan dirinya
sendiri, dengan godaan, dengan ketakutan, dan terutama dengan Allah. Antonius
juga menunjukkan bahwa kesendirian sejati dapat melahirkan pelayanan. Ia pergi
ke gurun untuk mencari Allah, tetapi justru menjadi berkat bagi Gereja.
Melalui Life of Antony, Athanasius membawa kisah seorang
pertapa Mesir ke seluruh dunia Kristen. Antonius menjadi model rahib, pejuang
rohani, dan saksi Kristus setelah zaman para martir. Ia adalah martir putih:
bukan karena menumpahkan darah, tetapi karena menyerahkan seluruh hidup dalam
pertobatan.
Bab berikutnya akan memperluas pandangan kita dari Antonius
kepada para abba dan amma lain di padang gurun. Di sana kita akan menemukan kebijaksanaan
yang lahir bukan dari banyak kata, melainkan dari hidup yang lama ditempa oleh
keheningan, doa, kerja, dan belas kasih.