BAB 2 - Injil yang Dibaca Secara Radikal

             Pada suatu hari, menurut kisah yang ditulis Athanasius, seorang pemuda Mesir masuk ke gereja dan mendengar Injil dibacakan. Teks yang ia dengar adalah sabda Yesus kepada orang muda kaya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga; kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Bagi banyak orang, teks seperti itu mungkin terdengar sebagai nasihat indah, keras, tetapi tetap jauh. Ia dapat dikagumi, ditafsirkan, atau dijelaskan. Tetapi bagi pemuda itu, sabda tersebut datang seperti anak panah. Ia mendengarnya bukan sebagai kata-kata umum, melainkan sebagai panggilan pribadi. Ia merasa seolah-olah Kristus sendiri sedang berbicara kepadanya.

        Pemuda itu adalah Antonius. Ia kemudian membagikan hartanya, mempercayakan adiknya kepada komunitas para perawan, lalu mulai menjalani hidup asketis. Dari pendengaran yang sederhana itu, salah satu kisah terbesar dalam sejarah monakisme Kristen dimulai.

Kisah Antonius memperlihatkan sesuatu yang penting: monakisme lahir dari Injil yang dibaca secara radikal. Bukan radikal dalam arti kasar, fanatik, atau tanpa kebijaksanaan, melainkan radikal dalam arti kembali ke akar. Para rahib awal membaca Injil dengan pertanyaan yang sangat langsung: jika Kristus sungguh mengatakan ini, bagaimana aku harus hidup?

Mereka tidak puas dengan kekaguman yang aman. Mereka ingin menjawab.

 

Injil sebagai Panggilan Hidup

Bagi para rahib awal, Injil bukan sekadar teks untuk dipelajari. Injil adalah suara yang memanggil. Sabda Kristus bukan hanya bahan renungan, melainkan undangan untuk mengubah hidup.

Inilah yang membedakan pembacaan monastik dari sekadar pembacaan intelektual. Tentu saja, para rahib tidak menolak pemahaman. Banyak tokoh monastik kemudian sangat terpelajar. Namun, bagi mereka, tujuan membaca Kitab Suci bukan hanya mengetahui arti teks, melainkan membiarkan teks mengubah hati.

·        Ketika Injil berkata, “Ikutlah Aku,” mereka bertanya: apa yang harus kutinggalkan agar dapat mengikuti?

·        Ketika Injil berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah,” mereka bertanya: mengapa hatiku begitu mudah tertidur?

·        Ketika Injil berkata, “Jangan mengumpulkan harta di bumi,” mereka bertanya: pada apakah aku menaruh rasa aman?

·        Ketika Injil berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya,” mereka bertanya: mengapa hatiku masih begitu terbagi?

·        Ketika Injil berkata, “Sangkal dirimu,” mereka bertanya: bagian mana dari diriku yang masih ingin menjadi pusat?

Pembacaan seperti ini tidak selalu nyaman. Injil menjadi cermin. Ia memperlihatkan jarak antara apa yang seseorang percayai dan bagaimana ia benar-benar hidup. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Injil tidak hanya menenangkan; ia juga membangunkan.

Para rahib membaca Injil sebagai panggilan kepada pertobatan yang terus-menerus. Mereka percaya bahwa sabda Kristus bukan hanya ditujukan kepada masa lampau, bukan hanya kepada para rasul, dan bukan hanya kepada orang-orang tertentu. Sabda itu terus berbicara kepada Gereja.

Monakisme adalah salah satu jawaban paling radikal terhadap suara itu.

 

Padang Gurun dalam Ingatan Kitab Suci

Sebelum para rahib Mesir pergi ke padang gurun, Kitab Suci sudah lebih dahulu menjadikan padang gurun sebagai tempat yang penuh makna. Padang gurun bukan ruang kosong. Ia adalah tempat ingatan iman.

Israel dibawa keluar dari Mesir menuju padang gurun. Mereka telah bebas dari Firaun, tetapi belum sungguh-sungguh bebas di dalam hati. Tubuh mereka sudah keluar dari tanah perbudakan, tetapi keinginan mereka masih sering kembali ke Mesir. Mereka merindukan makanan lama. Mereka takut kekurangan. Mereka mengeluh kepada Musa. Mereka mencobai Allah.

Padang gurun menyingkapkan bahwa kebebasan lahiriah belum tentu menjadi kebebasan batin. Inilah salah satu pelajaran besar bagi monakisme. Orang dapat meninggalkan rumah, harta, kota, dan keluarga, tetapi tetap membawa Mesir di dalam hatinya. Ia dapat berada di gurun, tetapi tetap diperbudak oleh ketakutan, kenangan, dan keinginan lama.

Karena itu, padang gurun menjadi tempat pembentukan. Di sana Israel belajar bergantung pada manna, air dari batu, tiang awan, dan tiang api. Dengan kata lain, mereka belajar hidup dari Allah.

Para rahib melihat diri mereka dalam kisah ini. Mereka juga ingin keluar dari Mesir: bukan Mesir sebagai tempat geografis, melainkan Mesir sebagai simbol perbudakan batin. Mereka ingin dibebaskan dari hawa nafsu, kesombongan, ketakutan, kemarahan, dan kelekatan yang membuat hati tidak merdeka.

Namun, Kitab Suci tidak pernah menggambarkan padang gurun sebagai tempat yang mudah. Gurun adalah tempat ujian. Di sana manusia dapat menjadi pahit, memberontak, atau putus asa. Tetapi di sana juga manusia dapat mendengar Allah dengan lebih jernih.

Nabi Hosea pernah menggambarkan Allah yang membawa umat-Nya kembali ke padang gurun untuk berbicara kepada hatinya. Ini adalah gambaran yang indah. Padang gurun bukan hanya tempat hukuman. Ia juga tempat cinta yang dipulihkan. Allah membawa umat ke tempat sunyi bukan untuk meninggalkannya, melainkan untuk berbicara lebih dalam.

Bagi tradisi monastik, padang gurun adalah tempat di mana Allah berbicara kepada hati manusia yang tidak lagi dapat bersembunyi.

 

Yesus di Padang Gurun

Jika Israel menjadi gambaran umat yang diuji di padang gurun, Yesus adalah Israel yang setia. Setelah dibaptis di Sungai Yordan, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun. Di sana Ia berpuasa empat puluh hari dan dicobai oleh Iblis.

Kisah ini menjadi salah satu fondasi spiritual monakisme.

Pertama-tama, Yesus masuk ke padang gurun bukan karena kebetulan. Injil mengatakan bahwa Ia dibawa oleh Roh. Ini berarti padang gurun bukan sekadar tempat kosong atau tempat pelarian. Dalam hidup Yesus, padang gurun adalah bagian dari ketaatan kepada kehendak Bapa.

Para rahib menangkap makna ini. Mereka tidak pergi ke gurun hanya karena suka sepi. Mereka melihat padang gurun sebagai tempat mengikuti Kristus. Jika Kristus masuk ke tempat ujian, murid-Nya pun tidak dapat menghindari ujian.

Di padang gurun, Yesus menghadapi tiga godaan besar.

Godaan pertama berkaitan dengan roti: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Ini bukan godaan yang tampak jahat. Yesus lapar. Roti adalah kebutuhan nyata. Tetapi godaan itu meminta Yesus memakai identitas-Nya sebagai Anak Allah untuk memuaskan diri di luar ketaatan kepada Bapa. Jawaban Yesus tajam: manusia hidup bukan dari roti saja.

Para rahib tidak memahami jawaban ini sebagai penghinaan terhadap tubuh atau makanan. Mereka tahu bahwa manusia membutuhkan roti. Tetapi mereka juga tahu bahwa manusia dapat menjadikan roti sebagai pusat hidup. Dalam arti luas, “roti” adalah segala sesuatu yang kita kira mutlak: kenyamanan, keamanan, kepuasan, dan kebutuhan yang terus menuntut dipenuhi.

Godaan kedua berkaitan dengan pembuktian diri. Yesus digoda untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah agar malaikat menyelamatkan-Nya. Ini adalah godaan rohani yang halus: memakai Allah untuk membuktikan diri. Dalam kehidupan religius, godaan ini sangat berbahaya. Orang dapat memakai doa, karunia, pengetahuan, atau kesalehan sebagai panggung.

Godaan ketiga berkaitan dengan kuasa. Iblis menawarkan seluruh kerajaan dunia jika Yesus menyembahnya. Ini adalah godaan untuk memperoleh hasil besar dengan mengorbankan kesetiaan. Sejarah Gereja berulang kali berhadapan dengan godaan ini: memakai cara yang tidak Injili demi tujuan yang tampaknya baik.

Yesus menolak ketiganya dengan Sabda Allah. Bagi para rahib, ini menjadi pelajaran penting. Peperangan rohani tidak dimenangkan dengan kekuatan ego, tetapi dengan ketaatan, puasa, doa, dan Sabda.

Padang gurun Yesus menjadi pola bagi padang gurun para rahib. Di sana manusia belajar bahwa godaan terbesar sering bukan hal-hal yang jelas-jelas buruk, melainkan hal-hal baik yang ingin menjadi pusat menggantikan Allah.

 

Yohanes Pembaptis: Suara dari Padang Gurun

Sebelum Yesus tampil secara publik, Injil memperkenalkan Yohanes Pembaptis. Ia hidup di padang gurun, berpakaian sederhana, makan belalang dan madu hutan, serta menyerukan pertobatan.

Yohanes bukan rahib dalam arti teknis. Ia tidak tinggal dalam biara dan tidak mengikuti regula monastik. Namun, bagi imajinasi Kristen awal, Yohanes menjadi figur asketis yang kuat. Ia adalah manusia padang gurun. Hidupnya sendiri menjadi pesan.

·     Ia tidak berbicara dari istana, tetapi dari tempat sunyi.
Ia tidak mencari kehormatan, tetapi menunjuk kepada Dia yang akan datang.
Ia tidak melembutkan seruan pertobatan demi menyenangkan pendengar.
Ia tidak menjadikan dirinya pusat.

Dalam diri Yohanes, kita melihat beberapa unsur yang kelak menjadi penting dalam monakisme: kesederhanaan, keheningan, pertobatan, keberanian profetis, dan kerendahan hati. Ketika orang bertanya apakah ia Mesias, ia menolak. Ia hanyalah suara. Bahkan tentang Kristus ia berkata bahwa ia tidak layak membuka tali kasut-Nya.

Salah satu kalimat Yohanes yang paling monastik adalah: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Kalimat itu merangkum seluruh jalan kerendahan hati. Monakisme, dalam bentuknya yang sehat, bukan proyek membesarkan diri secara rohani. Ia bukan usaha menjadi tokoh suci yang dikagumi. Ia adalah proses menjadi kecil agar Kristus menjadi besar.

Yohanes juga mengingatkan bahwa padang gurun bukan tempat bisu. Dari padang gurun dapat lahir suara yang menegur dunia. Keheningan sejati tidak membuat manusia acuh tak acuh. Justru dari keheningan, kata-kata dapat menjadi lebih murni, lebih benar, dan lebih tajam.

 

Orang Muda Kaya dan Kesedihan Kelekatan

 

Kisah orang muda kaya adalah salah satu teks Injil yang paling berpengaruh dalam sejarah monakisme. Ia datang kepada Yesus dengan pertanyaan yang baik: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Ia bukan orang jahat. Ia telah menaati perintah-perintah Allah. Ia hidup religius. Tetapi ia masih merasa ada yang kurang. Di sinilah Yesus masuk ke pusat persoalan: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin... kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Teks ini sering menimbulkan kegelisahan. Apakah semua orang harus menjual seluruh miliknya? Apakah harta selalu jahat? Apakah hanya orang miskin yang dapat mengikuti Kristus?

Tradisi monastik membaca teks ini secara serius, tetapi Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa semua orang Kristen harus mengambil bentuk hidup yang sama. Panggilan orang muda kaya bersifat konkret dan personal. Yesus menyentuh titik di mana hati orang itu terikat.

Masalahnya bukan sekadar bahwa ia memiliki banyak harta. Masalahnya adalah bahwa harta itu memiliki dia.

Ia pergi dengan sedih. Kesedihan itu sangat penting. Ia menunjukkan bahwa kelekatan tidak selalu terasa sebagai dosa yang kasar. Kadang kelekatan terasa seperti kehilangan yang terlalu mahal. Orang ingin mengikuti Kristus, tetapi tidak sanggup melepaskan sandaran yang diam-diam menjadi pusat hidupnya.

Para rahib melihat dalam kisah ini panggilan untuk memeriksa hati. Apa yang membuat aku pergi dengan sedih ketika Kristus memanggil? Apa yang terlalu berat untuk kulepaskan? Apa yang selama ini kusebut “milikku”, tetapi sebenarnya menguasai aku?

Bagi Antonius, teks ini menjadi panggilan langsung untuk membagikan harta dan memulai hidup asketis. Bagi orang lain, teks ini dapat berarti pelepasan yang berbeda: melepaskan ambisi, dendam, kebutuhan untuk dipuji, rasa aman palsu, atau kehendak untuk mengontrol.

Monakisme mengambil bentuk lahiriah yang tegas: kemiskinan, kesederhanaan, hidup tanpa milik pribadi. Tetapi inti terdalamnya adalah kebebasan batin.

 

Meninggalkan Segala Sesuatu

Dalam Injil, Yesus berbicara dengan bahasa yang keras tentang mengikuti Dia. Ia berkata bahwa siapa pun yang tidak melepaskan segala miliknya tidak dapat menjadi murid-Nya. Ia berkata bahwa orang yang mau mengikuti-Nya harus menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Ia berkata bahwa orang yang mengasihi ayah atau ibu lebih daripada Dia tidak layak bagi-Nya.

Teks-teks seperti ini dapat mengejutkan. Jika dibaca tanpa kebijaksanaan, teks-teks itu dapat tampak seolah-olah Yesus menolak keluarga, tubuh, atau hidup manusiawi. Namun, dalam terang seluruh Injil, maksudnya bukan kebencian terhadap relasi manusia, melainkan penataan kasih.

Kristus menuntut tempat pertama bukan karena Ia bersaing dengan kasih manusiawi, tetapi karena hanya jika Allah menjadi pusat, kasih manusiawi dapat menjadi benar. Ketika sesuatu yang terbatas dijadikan mutlak, ia akan rusak. Bahkan keluarga, pelayanan, dan agama dapat menjadi berhala jika menggantikan Allah.

Para rahib membaca teks-teks ini sebagai undangan untuk tidak hidup setengah-setengah. Mereka ingin mengikuti Kristus dengan seluruh diri. Maka, meninggalkan segala sesuatu berarti mengakui bahwa tidak ada ciptaan yang boleh menjadi tuan terakhir atas hati.

Tetapi meninggalkan segala sesuatu bukan tindakan heroik yang selesai sekali. Ada pelepasan lahiriah dan ada pelepasan batin. Pelepasan lahiriah dapat terjadi cepat: seseorang menjual harta, masuk biara, meninggalkan rumah. Pelepasan batin berlangsung seumur hidup.

Seorang rahib dapat tidak memiliki uang pribadi, tetapi masih melekat pada pendapatnya sendiri. Ia dapat tinggal di sel kecil, tetapi masih ingin dihormati. Ia dapat meninggalkan keluarga, tetapi masih menyimpan kemarahan lama. Ia dapat hidup miskin, tetapi iri pada karunia orang lain.

Karena itu, monakisme tidak romantis tentang pelepasan. Ia tahu bahwa yang paling sulit dilepaskan bukan barang, melainkan ego.

 

Menyangkal Diri, Bukan Membenci Diri          

Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Ini adalah salah satu teks paling penting bagi spiritualitas asketis. Tetapi teks ini juga sering disalahpahami. Menyangkal diri bukan berarti membenci diri. Kristus tidak mengundang manusia untuk menghancurkan martabatnya sendiri. Ia datang bukan untuk membuat manusia kurang manusiawi, tetapi untuk memulihkan manusia.

Yang harus disangkal adalah diri palsu: diri yang ingin menjadi pusat, diri yang hidup dari pujian, diri yang tidak mau dikoreksi, diri yang menggenggam, diri yang takut kehilangan kendali, diri yang lebih mencintai kehendaknya sendiri daripada kebenaran.

Menyangkal diri berarti berhenti menyembah ego.

Memikul salib juga tidak berarti mencari penderitaan demi penderitaan. Dalam Kekristenan, penderitaan bukan tujuan. Salib adalah konsekuensi dari kasih yang setia. Yesus tidak mencintai penderitaan; Ia mencintai Bapa dan manusia sampai rela menderita.

Dalam hidup monastik, salib sering hadir dalam bentuk yang sangat biasa. Bangun ketika tubuh ingin tidur. Berdoa ketika hati kering. Tetap tinggal ketika ingin lari. Menerima koreksi ketika ego terluka. Mengampuni saudara yang menyebalkan. Melakukan pekerjaan sederhana tanpa dilihat. Tidak membalas kata-kata keras. Menghadapi kebosanan tanpa segera mencari hiburan.

Salib monastik adalah kesetiaan harian.

Di sinilah monakisme menjadi sangat realistis. Ia tidak mengajarkan kekudusan sebagai perasaan indah. Ia mengajarkan bahwa manusia dibentuk melalui keputusan-keputusan kecil yang berulang. Setiap hari, ego ingin kembali naik takhta. Setiap hari pula, rahib belajar berkata: bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu.

 

Jemaat Perdana: Sehati Sejiwa

Monakisme tidak hanya berakar pada teks-teks tentang kesendirian dan pelepasan. Ia juga berakar pada gambaran hidup jemaat perdana dalam Kisah Para Rasul.

Di sana dikatakan bahwa orang-orang percaya bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Mereka hidup sehati sejiwa. Mereka berbagi milik sehingga tidak ada yang berkekurangan.

Bagi monakisme senobitik, gambaran ini sangat penting. Biara bukan hanya tempat orang saleh tinggal bersama. Ia dimaksudkan sebagai usaha menghidupi kembali cita-cita jemaat perdana: doa bersama, kepemilikan bersama, kesatuan hati, dan perhatian kepada kebutuhan saudara.

Hidup bersama dalam biara memiliki akar biblis yang kuat karena iman Kristen bukan perjalanan individualistis. Allah memanggil umat, bukan hanya individu-individu terpisah. Keselamatan memiliki bentuk komunal. Orang belajar mengasihi bukan dalam gagasan, tetapi dalam persekutuan nyata.

Namun, Kisah Para Rasul juga tidak menyembunyikan bahwa komunitas memiliki masalah. Ada dusta, ketegangan, keluhan, perbedaan pendapat, dan konflik pelayanan. Ini juga menjadi pelajaran bagi monakisme. Komunitas bukan tempat tanpa dosa. Komunitas adalah tempat dosa disingkapkan agar kasih dapat bertumbuh.

Hidup sehati sejiwa bukan keadaan otomatis. Ia adalah rahmat yang harus dijawab melalui pertobatan.

Karena itu, biara dapat dipahami sebagai laboratorium kasih. Di sana orang belajar bahwa kasih bukan hanya perasaan hangat, melainkan kesediaan berbagi, mendengar, taat, mengampuni, dan menanggung kelemahan orang lain.

 

Hati yang Tidak Terbagi

Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus berbicara tentang hidup yang terarah kepada Tuhan tanpa terbagi. Teks ini menjadi salah satu dasar bagi penghargaan Kristen terhadap selibat dan keperawanan demi Kerajaan Allah.

Sekali lagi, ini bukan penolakan terhadap perkawinan. Kekristenan memandang perkawinan sebagai sesuatu yang baik dan kudus. Tetapi sejak awal, Gereja juga mengenal panggilan untuk hidup tidak menikah demi Kerajaan Allah. Dalam panggilan ini, seseorang menyerahkan ruang hidupnya secara khusus bagi doa, pelayanan, dan pencarian Allah.

Monakisme mengambil panggilan ini dengan sangat serius. Selibat monastik bukan sekadar tidak menikah. Ia adalah latihan untuk memiliki hati yang tidak terbagi. Ia adalah cara mengasihi Allah secara total dan mengasihi sesama tanpa kepemilikan.

Namun, para rahib juga tahu bahwa selibat lahiriah tidak otomatis berarti kemurnian hati. Seseorang dapat tidak menikah tetapi tetap dikuasai nafsu, fantasi, kebutuhan untuk dimiliki, atau keinginan menguasai orang lain. Karena itu, monakisme tidak berhenti pada status selibat. Ia bergerak menuju kemurnian hati.

Kemurnian hati adalah keadaan ketika kasih menjadi jernih. Orang tidak lagi melihat sesama terutama sebagai objek pemenuhan diri. Ia belajar mengasihi tanpa menggenggam. Ia belajar hadir tanpa menguasai. Ia belajar menerima kesendirian tanpa menjadikannya kepahitan.

Dalam dunia modern, bahasa kemurnian sering terdengar sempit, seolah-olah hanya berkaitan dengan seksualitas. Tradisi monastik memahaminya lebih luas. Kemurnian hati berarti hati yang tidak dicampuri oleh kepalsuan, manipulasi, dan kelekatan yang kacau. Hati seperti itu dapat melihat Allah.

 

Doa Tanpa Henti

Paulus menasihati umat Kristen untuk berdoa tanpa henti. Bagi banyak orang, nasihat ini tampak mustahil. Bagaimana seseorang dapat berdoa terus-menerus? Bukankah manusia harus bekerja, berbicara, makan, tidur, belajar, dan mengurus banyak hal?

Para rahib menjadikan nasihat ini sebagai salah satu cita-cita besar hidup mereka. Mereka tidak memahaminya secara mekanis, seolah-olah orang harus mengucapkan kata-kata doa setiap detik. Doa tanpa henti adalah hati yang terus kembali kepada Allah.

Hati manusia mudah pergi. Ketika tubuh duduk berdoa, pikiran bisa berada di pasar, di masa lalu, di masa depan, dalam kemarahan, dalam fantasi, atau dalam kekhawatiran. Para rahib sangat mengenal kenyataan ini. Karena itu, mereka mengembangkan disiplin untuk membawa hati kembali.

Mazmur didaraskan. Ayat Kitab Suci diulang. Doa pendek dipakai. Keheningan dijaga. Kerja dilakukan dengan perhatian. Semua itu dimaksudkan agar hati tidak tercerai-berai.

Doa tanpa henti bukan keadaan yang dicapai melalui ketegangan, melainkan melalui kesetiaan. Orang belajar kembali, kembali, dan kembali lagi kepada Allah. Setiap kali pikiran menyimpang, ia tidak putus asa. Ia kembali. Setiap kali hati kering, ia tetap hadir. Setiap kali doa terasa kosong, ia tetap mengetuk.

Dalam tradisi monastik, doa bukan pelarian dari dunia nyata. Doa justru membawa manusia ke hadapan kenyataan terdalam: bahwa ia hidup dari Allah. Tanpa doa, semua karya mudah menjadi milik ego. Dengan doa, kerja, studi, pelayanan, dan relasi dapat menjadi bagian dari pencarian Allah.

 

Berjaga-jaga atas Hati

Yesus meminta murid-murid-Nya berjaga-jaga dan berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Seruan ini menjadi sangat penting dalam tradisi monastik.

Berjaga-jaga berarti hidup dengan kesadaran rohani. Para rahib belajar memperhatikan apa yang terjadi dalam hati. Mereka tidak langsung percaya pada semua pikiran yang muncul. Mereka tahu bahwa tidak semua dorongan batin berasal dari Allah.

Seseorang dapat merasa marah dan menyebutnya “membela kebenaran”. Ia dapat merasa malas dan menyebutnya “butuh istirahat”. Ia dapat ingin dipuji dan menyebutnya “pelayanan”. Ia dapat lari dari komunitas dan menyebutnya “mencari ketenangan”. Hati manusia pandai memberi nama rohani pada keinginan yang belum murni.

Karena itu, para rahib mengembangkan seni membedakan pikiran. Mereka bertanya: ke mana pikiran ini membawaku? Apakah ia menghasilkan kasih, damai, kerendahan hati, dan ketaatan? Atau ia menghasilkan kegelisahan, kesombongan, penghinaan terhadap orang lain, dan keputusasaan?

Tradisi ini kelak akan menjadi sangat penting dalam ajaran Evagrius Ponticus tentang logismoi, pikiran-pikiran yang menggoda. Tetapi akarnya sudah ada dalam Injil: berjaga-jagalah.

Kewaspadaan batin bukan kecurigaan neurotik terhadap diri sendiri. Ia adalah kesadaran bahwa hati manusia perlu dijaga karena sangat berharga. Orang menjaga sesuatu bukan karena membencinya, melainkan karena ia bernilai.

Hati adalah tempat perjumpaan dengan Allah. Karena itu, hati perlu dijaga.

 

Sabda yang Dihafal dan Dihidupi

Para rahib awal hidup dari Kitab Suci. Banyak dari mereka menghafal Mazmur. Mereka mendaraskannya dalam doa, mengulanginya saat bekerja, dan memakainya saat menghadapi godaan. Sabda Allah bukan hanya dibaca, tetapi dibawa masuk ke dalam ingatan dan tubuh.

Dalam dunia modern, membaca sering berarti mengonsumsi informasi. Kita membaca cepat, berpindah dari satu teks ke teks lain, lalu segera melupakan. Pembacaan monastik berbeda. Ia lambat. Ia mengulang. Ia membiarkan satu ayat tinggal lama di dalam hati.

Tujuan pembacaan seperti ini bukan banyaknya teks yang diselesaikan, melainkan perubahan hidup. Satu ayat yang sungguh dihidupi lebih berharga daripada banyak teks yang hanya diketahui.

Kelak, tradisi ini dikenal dengan istilah lectio divina, pembacaan ilahi. Namun, semangatnya sudah hadir sejak awal: membaca Kitab Suci sebagai sabda yang berbicara kepada hati. Dalam pembacaan seperti ini, pembaca tidak berdiri di atas teks sebagai penguasa. Ia berdiri di bawah sabda sebagai murid.

Sabda Allah juga menjadi senjata dalam peperangan rohani. Yesus melawan godaan di padang gurun dengan Kitab Suci. Para rahib mengikuti pola itu. Ketika pikiran gelap datang, mereka kembali kepada Mazmur. Ketika acedia menyerang, mereka mengulang doa. Ketika takut, mereka mengingat janji Allah. Ketika sombong, mereka mendengar kembali panggilan kepada kerendahan hati.

Kitab Suci membentuk imajinasi monastik. Ia memberi bahasa, arah, dan terang.

 

Kesempurnaan sebagai Keutuhan Kasih

Kata “sempurna” sering menimbulkan persoalan. Yesus berkata kepada orang muda kaya, “Jikalau engkau hendak sempurna...” Dalam sejarah spiritualitas, kata ini kadang dipahami secara keliru, seolah-olah hidup Kristen adalah proyek menjadi manusia tanpa kelemahan.

Tetapi dalam Injil, kesempurnaan bukan perfeksionisme. Yesus berkata, “Hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna,” dalam konteks kasih kepada musuh. Kesempurnaan yang dimaksud adalah keutuhan kasih, bukan ketiadaan cacat psikologis atau keberhasilan asketis yang mengagumkan.

Ini sangat penting untuk memahami monakisme. Rahib tidak dipanggil menjadi manusia super. Ia dipanggil menjadi manusia yang dikasihi dan dibentuk oleh Allah agar mampu mengasihi dengan lebih utuh.

Perfeksionisme rohani berbahaya. Ia membuat orang takut gagal, keras terhadap diri sendiri, dan lebih keras lagi terhadap orang lain. Ia dapat membuat orang menyembunyikan kelemahan, karena merasa harus tampak suci. Tradisi monastik yang sehat justru sangat realistis terhadap kelemahan.

Para Bapa Padang Gurun tahu bahwa rahib dapat jatuh. Benediktus tahu bahwa komunitas berisi orang-orang lemah. Kasianus tahu bahwa pikiran manusia mudah kacau. Evagrius tahu bahwa doa sering diganggu. Karena itu, jalan monastik bukan jalan kepura-puraan, melainkan jalan kejujuran.

Kesempurnaan Injili adalah kasih yang perlahan-lahan dimurnikan. Ia tumbuh melalui pertobatan, bukan melalui pencitraan rohani.

 

Injil yang Menjadi Tubuh    

            Monakisme adalah usaha membuat Injil menjadi tubuh dalam kehidupan konkret.

Sabda tentang kemiskinan menjadi hidup sederhana.
Sabda tentang doa menjadi jam-jam doa.
Sabda tentang berjaga-jaga menjadi kewaspadaan batin.
Sabda tentang mengikut Kristus menjadi pelepasan.
Sabda tentang kasih persaudaraan menjadi komunitas.
Sabda tentang menyangkal diri menjadi ketaatan.

·        Sabda tentang hati yang suci menjadi perjuangan melawan pikiran-pikiran yang mengacaukan hati.

Dengan kata lain, monakisme bukan hanya tafsir atas Injil, melainkan perwujudan tertentu dari Injil. Tentu saja, ia bukan satu-satunya perwujudan. Hidup keluarga, pelayanan kaum miskin, karya pendidikan, kerasulan sosial, dan banyak bentuk hidup Kristen lain juga mewujudkan Injil. Tetapi monakisme mewujudkannya dengan tekanan khas: seluruh hidup ditata sebagai pencarian Allah.

Karena itu, para rahib menjadi semacam “teks hidup”. Orang datang kepada mereka bukan hanya untuk mendengar ajaran, tetapi untuk melihat apa yang terjadi ketika Injil sungguh diambil serius. Kadang yang mereka lihat mengagumkan. Kadang juga manusiawi dan rapuh. Tetapi justru di sana Injil bekerja: bukan dalam dunia ideal, melainkan dalam tubuh, waktu, lapar, lelah, konflik, dan kesetiaan sehari-hari.

 

Bagi Semua Orang, tetapi Tidak dengan Cara yang Sama

Penting untuk menegaskan bahwa pembacaan radikal atas Injil tidak berarti semua orang harus hidup seperti rahib. Gereja mengenal banyak panggilan. Tidak semua orang diminta menjual seluruh milik dan pergi ke padang gurun. Tidak semua orang dipanggil hidup selibat. Tidak semua orang dipanggil tinggal dalam biara.

Namun, semua orang Kristen dipanggil untuk membaca Injil dengan serius.

Bagi seorang suami atau istri, meninggalkan diri dapat berarti mengasihi pasangan dengan setia ketika perasaan berubah. Bagi orang tua, memikul salib dapat berarti merawat anak dengan sabar. Bagi pekerja, kemiskinan Injili dapat berarti menolak korupsi dan keserakahan. Bagi imam atau pelayan Gereja, menyangkal diri dapat berarti melayani tanpa mencari pujian. Bagi orang muda, menjaga hati dapat berarti berani hidup tidak dikuasai pengakuan sosial.

Nilai monastik tidak hanya milik biara. Keheningan, doa, kesederhanaan, kewaspadaan batin, pembacaan Kitab Suci, dan pertobatan diperlukan oleh semua orang. Bentuknya berbeda-beda, tetapi arahnya sama: Allah.

Monakisme mengingatkan Gereja bahwa Injil bukan hiasan hidup. Injil adalah panggilan yang mengubah cara manusia memakai waktu, tubuh, uang, relasi, dan kebebasan.

 

Penutup Bab

Monakisme Kristen berakar dalam Injil yang dibaca secara radikal. Para rahib awal tidak menciptakan spiritualitas yang terpisah dari Kitab Suci. Mereka mendengar Yesus di padang gurun, Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan, panggilan kepada orang muda kaya, nasihat untuk berdoa tanpa henti, seruan untuk berjaga-jaga, dan gambaran jemaat perdana yang hidup sehati sejiwa.

Dari semua itu, mereka membentuk cara hidup yang khas: meninggalkan agar dapat mengikuti, berdiam agar dapat mendengar, berpuasa agar dapat bebas, hidup bersama agar dapat mengasihi, dan berdoa agar seluruh hidup kembali kepada Allah.

Pembacaan radikal atas Injil selalu berbahaya jika dilepaskan dari kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kasih. Tetapi tanpa keberanian untuk membaca Injil secara serius, Kekristenan mudah menjadi terlalu nyaman. Monakisme muncul sebagai tanda bahwa sabda Kristus masih dapat mengubah hidup secara nyata.

Dalam bab berikutnya, kita akan melihat bagaimana semangat Injil ini dihidupi dalam Gereja Perdana melalui kemartiran, keperawanan, puasa, kesederhanaan, dan askese. Sebelum ada rahib padang gurun, sudah ada para martir dan asket yang menyerahkan hidup mereka kepada Kristus. Dari merekalah jalan menuju padang gurun mulai terbuka.