BAB 3 - Setelah Para Martir

Pada masa-masa awal Gereja, menjadi Kristen bukan sekadar memilih keyakinan pribadi. Bagi sebagian orang, menjadi Kristen berarti mengambil risiko kehilangan kedudukan, harta, keluarga, bahkan nyawa. Iman kepada Kristus bukan identitas yang aman. Ia dapat menjadi alasan seseorang dibenci, diseret ke pengadilan, dipenjara, disiksa, atau dibunuh.

Di tengah sejarah seperti itu, martir menjadi saksi tertinggi.

Kata “martir” berasal dari bahasa Yunani martys, yang berarti saksi. Dalam iman Kristen, martir adalah orang yang memberi kesaksian tentang Kristus sampai menumpahkan darah. Ia bukan sekadar korban kekerasan. Ia adalah saksi yang menyatakan bahwa Kristus lebih berharga daripada hidup itu sendiri.

Bagi Gereja Perdana, martir adalah ikon kemuridan. Di dalam diri martir, Injil tampak dalam bentuk yang paling tajam: “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Martir tidak hanya berbicara tentang iman. Ia membiarkan seluruh tubuhnya menjadi kesaksian.

Namun, sejarah tidak berhenti di arena para martir. Ketika penganiayaan mereda dan Kekristenan mulai memperoleh tempat dalam Kekaisaran Romawi, muncul pertanyaan baru yang sangat menentukan: bagaimana mengikuti Kristus secara radikal ketika tidak lagi dituntut mati sebagai martir?

Pertanyaan itulah yang membuka jalan menuju askese dan monakisme.

 

Iman yang Pernah Berbahaya

Untuk memahami lahirnya monakisme, kita perlu membayangkan kembali situasi Gereja awal dalam dunia Romawi.

Kekaisaran Romawi bukan hanya sistem politik. Ia adalah dunia dengan tatanan sosial, ekonomi, agama, dan simbol-simbol kuasa. Penghormatan kepada dewa-dewa, ritus publik, dan kultus kaisar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Agama tidak dipahami semata-mata sebagai urusan pribadi. Ia terkait dengan kesetiaan kepada kota, keluarga, leluhur, dan negara.

Dalam dunia seperti itu, orang Kristen tampak mencurigakan. Mereka tidak mau menyembah dewa-dewa tradisional. Mereka tidak mau mempersembahkan korban kepada kaisar sebagai ilah. Mereka berkumpul untuk menyembah Kristus yang disalibkan, seorang yang bagi banyak orang Romawi tampak hina dan kalah.

Tidak mengherankan jika orang Kristen kadang dituduh sebagai kelompok berbahaya. Mereka dianggap mengganggu harmoni sosial, tidak menghormati dewa-dewa, dan mengancam stabilitas publik. Tuduhan-tuduhan itu tidak selalu muncul di semua tempat dan waktu dengan intensitas yang sama. Penganiayaan Gereja awal tidak berlangsung terus-menerus secara merata. Namun, kemungkinan untuk menderita karena iman menjadi bagian nyata dari ingatan Gereja.

Dalam situasi seperti itu, iman memiliki bobot eksistensial. Mengaku Kristus bukan hanya mengucapkan rumusan iman, tetapi mempertaruhkan hidup. Baptisan bukan sekadar upacara masuk komunitas, melainkan tanda bahwa seseorang telah berpindah tuan: dari kuasa dosa kepada Kristus.

Maka, sejak awal, Kekristenan memiliki dimensi asketis. Menjadi Kristen berarti belajar mengatakan “tidak” kepada kuasa-kuasa yang ingin menduduki tempat Allah. Kadang “tidak” itu harus dibayar dengan darah.

 

Martir sebagai Wajah Gereja

Kisah-kisah martir awal memperlihatkan betapa kuatnya imajinasi kemartiran dalam Gereja Perdana. Polikarpus, Perpetua, Felisitas, Ignatius dari Antiokhia, dan banyak saksi lain dikenang bukan karena mereka mencari kematian, tetapi karena mereka setia ketika kematian datang sebagai akibat iman.

Martir tidak dipuji karena membenci hidup. Kekristenan tidak mengagungkan kematian demi kematian. Martir dihormati karena ia mengasihi Kristus lebih daripada rasa takutnya. Ia tidak memilih mati karena hidup tidak bernilai, melainkan karena hidup memperoleh nilainya dari Allah.

Dalam kisah para martir, ada beberapa tema yang kelak akan mengalir ke dalam monakisme.

Pertama, martir menunjukkan bahwa tubuh dapat menjadi tempat kesaksian. Iman bukan hanya urusan pikiran atau perasaan. Tubuh yang disiksa, dipenjarakan, dan dibunuh menjadi tanda kesetiaan. Kelak dalam askese, tubuh juga menjadi tempat latihan rohani: berpuasa, berjaga, bekerja, dan berdoa.

Kedua, martir menunjukkan bahwa seorang Kristen tidak boleh diperbudak rasa takut. Kuasa dunia dapat mengancam, tetapi tidak dapat mengambil hidup sejati yang tersembunyi dalam Kristus. Kelak para rahib akan menghadapi bentuk ketakutan lain: takut lapar, takut sepi, takut gagal, takut tidak dihargai, takut melihat kebenaran diri sendiri.

Ketiga, martir memberi teladan penyerahan total. Tidak ada bagian hidup yang ditahan. Dalam monakisme, penyerahan total ini diterjemahkan ke dalam hidup harian: tidak selalu dramatis, tetapi terus-menerus.

Keempat, martir mengingatkan Gereja bahwa iman tidak boleh menjadi terlalu nyaman. Selalu ada sesuatu dalam Injil yang menantang sistem nilai dunia. Kelak monakisme akan menjaga ingatan ini ketika Gereja mulai hidup dalam situasi yang lebih aman.

Martir adalah wajah Gereja yang tidak berkompromi dengan penyembahan palsu.

 

Ketika Gereja Mulai Aman

Perubahan besar terjadi pada awal abad keempat. Setelah masa-masa penganiayaan, Kekristenan memperoleh kebebasan yang lebih besar. Edik Milan pada tahun 313 memberi ruang legal bagi orang Kristen. Perlahan-lahan, Gereja yang dahulu hidup dalam tekanan mulai mendapatkan kedudukan sosial yang lebih terhormat.

Ini adalah perubahan yang membawa banyak berkat. Umat tidak lagi harus bersembunyi dalam ketakutan yang sama. Gereja dapat membangun tempat ibadah. Para uskup dapat menggembalakan dengan lebih terbuka. Teologi berkembang dalam ruang publik. Konsili dapat diselenggarakan. Kitab Suci, liturgi, dan kehidupan gerejawi mendapat bentuk yang lebih stabil.

Tetapi setiap berkat sejarah membawa godaannya sendiri.

Ketika menjadi Kristen tidak lagi berbahaya, ada risiko iman menjadi dangkal. Ketika Gereja mulai dihormati, ada risiko kekuasaan masuk ke dalam ruang rohani. Ketika penganiayaan mereda, ada risiko salib menjadi hiasan, bukan lagi jalan hidup. Ketika banyak orang masuk Gereja, ada risiko Kekristenan menjadi identitas sosial lebih daripada pertobatan.

Sebagian orang Kristen merasakan kegelisahan ini. Mereka tidak menolak kebebasan Gereja. Mereka tidak merindukan penganiayaan. Tetapi mereka bertanya: apakah Injil masih akan dihidupi secara radikal jika Kekristenan menjadi nyaman?

Dari pertanyaan itu, askese mendapat daya baru. Jika dahulu kesetiaan diuji oleh ancaman pedang, sekarang kesetiaan diuji oleh kenyamanan. Jika dahulu orang Kristen harus menolak menyembah kaisar, sekarang ia harus menolak menyembah kehormatan, kekayaan, keamanan, dan kehendak diri. Jika dahulu arena menjadi tempat kesaksian, sekarang padang gurun, sel, rumah asketis, dan komunitas menjadi tempat kesaksian baru.

Inilah salah satu latar penting munculnya monakisme.

 

Kemartiran Merah dan Kemartiran Putih

Dalam tradisi spiritual Kristen kemudian, muncul pembedaan antara “kemartiran merah” dan “kemartiran putih”.

Kemartiran merah adalah kemartiran berdarah. Seseorang memberi kesaksian tentang Kristus sampai mati secara fisik. Darahnya menjadi meterai kesetiaan.

Kemartiran putih adalah penyerahan diri kepada Kristus tanpa penumpahan darah. Orang tidak dibunuh karena iman, tetapi ia menyerahkan hidupnya melalui doa, puasa, kemiskinan, keperawanan, ketaatan, keheningan, dan pertobatan terus-menerus.

Pembedaan ini membantu kita memahami hubungan antara martir dan rahib. Keduanya tidak identik, tetapi memiliki garis kesinambungan. Martir menyerahkan hidup dalam satu peristiwa yang menentukan. Rahib menyerahkan hidup melalui kesetiaan harian. Martir berhadapan dengan algojo. Rahib berhadapan dengan dirinya sendiri. Martir menolak menyembah berhala publik. Rahib menolak berhala-berhala batin.

Martir mati sekali. Rahib belajar mati setiap hari. Ungkapan ini tidak dimaksudkan untuk mengecilkan kemartiran berdarah. Gereja selalu memandang martir dengan hormat khusus. Tetapi ungkapan itu menolong kita melihat bahwa askese bukan sekadar latihan moral pribadi. Askese adalah bentuk kesaksian. Ia adalah cara mengatakan bahwa Kristus lebih berharga daripada kenyamanan, kepemilikan, pengakuan, dan kehendak sendiri.

Kemartiran putih sering tersembunyi. Tidak ada sorak penonton. Tidak ada catatan pengadilan. Tidak ada arena. Yang ada hanyalah kesetiaan kecil: bangun untuk berdoa, berpuasa dengan rendah hati, menahan amarah, mengampuni, bekerja dalam diam, menerima koreksi, tetap tinggal ketika ingin lari, dan kembali kepada Allah setelah jatuh.

Tetapi justru yang tersembunyi itu sering membentuk manusia paling dalam.

 

Askese Sebelum Munculnya Biara

Sebelum monakisme menjadi bentuk hidup yang jelas dengan padang gurun, sel, komunitas, dan regula, askese sudah hidup dalam Gereja.

Ada laki-laki dan perempuan yang memilih hidup sederhana. Ada perawan-perawan yang mempersembahkan diri kepada Allah. Ada janda-janda yang bertekun dalam doa dan pelayanan. Ada orang-orang Kristen yang berpuasa secara teratur, mengurangi kepemilikan, membagikan harta kepada orang miskin, menghafal Kitab Suci, dan menjaga kemurnian hidup.

Mereka belum tentu disebut rahib. Mereka tidak selalu tinggal di gurun. Banyak dari mereka tetap tinggal di rumah, di kota, atau di tengah komunitas Gereja lokal. Namun, dalam hidup mereka, benih monakisme sudah hadir.

Ini penting: monakisme tidak jatuh dari langit pada abad keempat. Ia tumbuh dari tanah Gereja yang sudah lama diolah oleh doa, kemartiran, Kitab Suci, dan askese.

Askese awal sering bersifat domestik. Artinya, ia dihidupi dalam rumah atau lingkungan komunitas. Seorang perempuan dapat memilih keperawanan sambil tetap tinggal dalam lingkungan keluarganya. Seorang janda dapat hidup dalam doa, kesederhanaan, dan pelayanan. Seorang laki-laki dapat berpuasa, membaca Kitab Suci, dan membagikan hartanya tanpa pergi ke gurun.

Namun, bentuk hidup seperti ini memiliki tantangan. Keluarga, harapan sosial, tuntutan ekonomi, kehormatan, dan kebiasaan masyarakat dapat membatasi radikalitas askese. Tidak semua orang memahami pilihan hidup selibat. Tidak semua keluarga menerima pelepasan harta. Tidak semua lingkungan mendukung doa, puasa, dan kesederhanaan.

Maka, sedikit demi sedikit, sebagian asket mencari ruang lain. Mereka bergerak dari rumah ke pinggir kota, dari pinggir kota ke tempat sunyi, dari tempat sunyi ke padang gurun. Gerakan ini bukan penolakan terhadap Gereja lokal, melainkan pencarian ruang untuk menghidupi Injil dengan lebih utuh. Padang gurun lahir dari askese yang lebih tua.

 

Keperawanan dan Hati yang Tidak Terbagi

Salah satu bentuk askese paling penting dalam Gereja awal adalah keperawanan atau hidup selibat demi Kerajaan Allah.

Pilihan ini tidak dapat dipahami jika dilepaskan dari konteks dunia kuno. Dalam masyarakat kuno, identitas seseorang sangat terkait dengan keluarga, perkawinan, keturunan, dan rumah tangga. Menikah dan memiliki anak bukan hanya urusan pribadi, melainkan kewajiban sosial. Karena itu, memilih hidup tidak menikah demi Kristus merupakan tindakan yang sangat radikal.

Gereja tidak menolak perkawinan. Perkawinan dipandang sebagai sesuatu yang baik, suci, dan sesuai dengan rencana Allah. Namun, sejak awal Gereja juga menghargai mereka yang memilih tidak menikah demi Kerajaan Allah. Mereka menjadi tanda bahwa tujuan akhir manusia bukan kelanjutan garis keluarga, status sosial, atau keamanan rumah tangga, melainkan persekutuan dengan Allah.

Keperawanan Kristen memiliki dimensi eskatologis. Ia menunjuk kepada hidup yang akan datang, ketika Allah menjadi semua di dalam semua. Orang yang hidup selibat demi Kerajaan Allah menjadi tanda bahwa dunia sekarang bukan tujuan akhir.

Tetapi Gereja juga sadar akan bahaya keperawanan yang disalahpahami. Keperawanan fisik tidak otomatis berarti kemurnian hati. Seseorang dapat hidup selibat tetapi penuh kesombongan, iri hati, kemarahan, atau keinginan untuk dipuji. Karena itu, para penulis Kristen awal sering menasihati para perawan agar hidup dalam kerendahan hati.

Keperawanan tanpa kerendahan hati dapat menjadi berhala rohani.

Dalam monakisme kemudian, pelajaran ini tetap penting. Selibat bukan status untuk merasa lebih tinggi. Ia adalah jalan kasih yang tidak terbagi. Ia menuntut pembentukan seluruh hati, bukan hanya pengaturan tubuh.

 

Puasa: Lapar yang Mengajar

Puasa adalah salah satu praktik asketis tertua dalam tradisi Kristen. Ia berakar dalam Kitab Suci dan diwarisi dari tradisi Israel, lalu dihidupi dalam terang Kristus.

Puasa mengajarkan bahwa manusia tidak harus selalu mematuhi dorongan pertamanya. Lapar adalah pengalaman dasar tubuh. Ketika seseorang berpuasa, ia belajar bahwa keinginan tidak selalu harus segera dipenuhi. Ada jarak antara dorongan dan tindakan. Di ruang jarak itulah kebebasan mulai tumbuh.

Tetapi puasa Kristen bukan sekadar latihan menguasai tubuh. Puasa selalu harus berhubungan dengan doa, pertobatan, dan kasih. Tanpa doa, puasa mudah menjadi teknik. Tanpa pertobatan, puasa menjadi formalitas. Tanpa kasih, puasa dapat menjadi kesombongan.

Para nabi sudah memperingatkan bahwa puasa yang benar harus berhubungan dengan keadilan. Orang tidak dapat berpuasa untuk Allah sambil menindas sesama. Demikian pula, dalam tradisi Kristen, puasa yang benar seharusnya membuat seseorang lebih rendah hati, lebih peka terhadap orang miskin, dan lebih terbuka kepada rahmat.

Para asket awal berpuasa untuk menata hati. Mereka tahu bahwa tubuh dan jiwa saling terkait. Tubuh yang selalu dimanjakan dapat membuat hati tumpul. Tetapi tubuh yang diperlakukan secara keras tanpa kebijaksanaan juga dapat rusak dan membuat jiwa menjadi pahit.

Karena itu, puasa membutuhkan diskresi. Puasa bukan perlombaan. Tidak semua orang dipanggil pada ukuran yang sama. Yang penting bukan seberapa ekstrem seseorang berpuasa, melainkan apakah puasa itu membawanya kepada kasih.

Lapar dapat menjadi guru, tetapi hanya jika ia membawa manusia kepada Allah.

 

Kesederhanaan sebagai Kritik

Askese Gereja awal juga tampak dalam kesederhanaan hidup. Banyak orang Kristen memilih membatasi kepemilikan, memberi derma, merawat orang miskin, dan tidak mengikuti gaya hidup mewah masyarakat sekitar.

Dalam dunia Romawi, status sosial sering tampak melalui pakaian, rumah, perjamuan, jaringan patronase, dan kehormatan publik. Orang menunjukkan siapa dirinya melalui apa yang ia miliki dan siapa yang menghormatinya. Kesederhanaan Kristen menjadi kritik terhadap sistem nilai itu.

Tetapi kesederhanaan bukan sekadar hidup dengan sedikit barang. Seseorang dapat memiliki sedikit barang tetapi tetap terikat pada barang. Ia dapat bangga karena hidup sederhana. Ia dapat menjadikan kemiskinan sebagai identitas superior. Maka, kesederhanaan sejati selalu berkaitan dengan kerendahan hati.

Kesederhanaan Kristen bertanya: apa yang sungguh perlu? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi dapat mengguncang. Banyak hal yang kita sebut kebutuhan sebenarnya adalah cara mencari rasa aman, pengakuan, atau pelarian. Kita membeli untuk merasa lebih berarti. Kita menumpuk untuk mengatasi takut. Kita menampilkan diri agar tidak merasa kosong.

Para asket awal mungkin tidak memakai bahasa psikologi modern, tetapi mereka mengenal dinamika ini. Mereka tahu bahwa harta dapat menguasai hati. Maka, mereka melatih diri untuk hidup dengan cukup, bukan karena ciptaan buruk, melainkan karena hati manusia mudah melekat.

Dalam monakisme kemudian, kesederhanaan akan mengambil bentuk lebih teratur: tidak memiliki barang pribadi, memakai segala sesuatu dengan izin, bekerja untuk kebutuhan komunitas, dan memberi kepada yang miskin. Namun, akar sikap itu sudah tampak dalam Gereja awal.

Kesederhanaan adalah kritik terhadap ilusi bahwa manusia menjadi penuh dengan memiliki lebih banyak.

 

Perempuan-Perempuan Asketis

Sejarah askese Kristen awal tidak boleh ditulis hanya sebagai sejarah laki-laki. Perempuan memainkan peranan penting sejak awal.

Banyak perempuan memilih hidup keperawanan, doa, kesederhanaan, dan pelayanan. Beberapa berasal dari keluarga terhormat. Pilihan mereka sering kali menantang struktur sosial, karena dunia kuno cenderung mendefinisikan perempuan melalui perkawinan, keturunan, dan relasi keluarga. Dengan memilih hidup selibat demi Kristus, mereka menyatakan bahwa identitas terdalam mereka tidak ditentukan oleh status sebagai istri atau ibu, melainkan oleh panggilan Allah.

Ini bukan berarti hidup mereka mudah. Perempuan asketis tetap hidup dalam masyarakat yang sangat patriarkal. Mereka sering membutuhkan perlindungan, komunitas, dan pengakuan gerejawi. Pilihan mereka dapat menimbulkan konflik keluarga atau kecurigaan sosial. Namun, justru karena itu kesaksian mereka sangat kuat.

Kelak, dalam tradisi padang gurun, kita mengenal Amma Syncletica, Amma Sarah, Amma Theodora, dan banyak perempuan lain yang dihormati sebagai ibu rohani. Mereka menunjukkan bahwa kebijaksanaan rohani tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh hati yang dibentuk oleh Allah.

Perempuan asketis mengingatkan kita bahwa monakisme sejak awal memiliki wajah perempuan. Sejarah pencarian Allah bukan hanya sejarah para abba, tetapi juga para amma. Bukan hanya bapa rohani, tetapi juga ibu rohani.

Dalam banyak hal, pilihan perempuan asketis bahkan memperlihatkan radikalitas Injil secara sangat nyata: Kristus memberi identitas baru yang melampaui tuntutan sosial zamannya.

 

Rumah sebagai Tempat Askese

Sebelum gurun menjadi lambang besar monakisme, rumah sudah menjadi tempat askese.

Banyak orang Kristen menghidupi disiplin rohani di dalam rumah: berdoa, berpuasa, membaca Kitab Suci, menerima tamu, melayani orang miskin, hidup dalam kemurnian, dan membangun komunitas kecil. Rumah-rumah Kristen menjadi ruang pembentukan iman.

Ini penting, karena kadang sejarah monakisme dibayangkan terlalu cepat sebagai gerakan keluar dari rumah. Padahal sebelum orang pergi ke gurun, Injil sudah bekerja di ruang makan, kamar, halaman, dan persekutuan rumah tangga. Pertobatan selalu mulai di tempat konkret.

Askese domestik juga mengingatkan bahwa pencarian Allah tidak hanya mungkin di tempat luar biasa. Rumah dapat menjadi padang gurun kecil. Keluarga dapat menjadi sekolah kesabaran. Rutinitas dapat menjadi latihan kesetiaan. Hidup bersama orang lain dapat menjadi tempat penyangkalan diri.

Namun, bagi sebagian orang, rumah tidak cukup mendukung panggilan mereka. Ada yang dipanggil kepada keperawanan yang lebih total. Ada yang ingin hidup lebih miskin. Ada yang membutuhkan keheningan lebih besar. Ada yang ingin berada di bawah bimbingan rohani yang lebih intensif. Dari sinilah lahir gerak menuju bentuk-bentuk hidup asketis yang lebih khusus.

Dengan demikian, monakisme tidak meniadakan nilai rumah. Ia lahir dari panggilan yang sama yang juga dapat bekerja di dalam rumah: panggilan untuk mencari Allah.

 

Askese dan Bahayanya

Askese memiliki daya rohani besar. Tetapi segala sesuatu yang besar juga dapat disalahgunakan. Gereja awal menyadari bahwa askese dapat berubah menjadi kesombongan. Orang yang berpuasa dapat merasa lebih suci daripada orang yang makan. Orang yang hidup selibat dapat meremehkan orang menikah. Orang yang miskin dapat menghina orang kaya. Orang yang diam dapat menghakimi orang yang berbicara.

Bahaya ini sangat halus, karena ia memakai bahan-bahan rohani. Kesombongan duniawi mudah dikenali ketika orang membanggakan harta atau kuasa. Tetapi kesombongan rohani lebih berbahaya karena orang membanggakan pengorbanan, doa, dan kesalehan.

Askese juga dapat berubah menjadi kebencian terhadap tubuh. Dalam iman Kristen, ini keliru. Tubuh bukan musuh. Tubuh diciptakan Allah, ditebus Kristus, dan dipanggil kepada kebangkitan. Tubuh perlu dilatih, tetapi tidak boleh dibenci. Praktik asketis yang merusak tubuh tanpa kebijaksanaan dapat menjadi penyimpangan.

Askese juga dapat menjadi pelarian dari kasih. Seseorang dapat menyukai kesunyian bukan karena mencari Allah, tetapi karena tidak mau berurusan dengan sesama. Ia dapat menyebut dirinya kontemplatif, padahal ia hanya menghindari luka, konflik, atau tanggung jawab.

Karena itu, askese membutuhkan diskresi. Diskresi adalah kebijaksanaan rohani untuk membedakan apa yang sungguh membawa kepada Allah dan apa yang hanya tampak rohani. Dalam tradisi monastik, diskresi sering dianggap sebagai salah satu keutamaan terpenting.

Ukuran askese yang benar bukan kekerasannya, melainkan buahnya. Apakah ia menghasilkan kasih? Apakah ia membuat orang lebih rendah hati? Apakah ia membebaskan hati? Apakah ia membuat seseorang lebih sabar, lebih jernih, lebih penuh belas kasih? Jika tidak, askese perlu diperiksa kembali.

 

Dari Arena ke Padang Gurun

Kita dapat membayangkan peralihan besar dalam sejarah spiritual Gereja sebagai gerakan dari arena ke padang gurun.

Arena adalah tempat martir memberi kesaksian di hadapan dunia. Di sana tubuh mereka dipertontonkan, dihina, dan dibunuh. Namun, justru di sana iman mereka bersinar. Arena adalah tempat kekuasaan dunia mencoba membungkam saksi Kristus, tetapi gagal.

Padang gurun adalah arena baru. Tidak ada penonton, tetapi pergulatan tetap nyata. Di sana rahib berhadapan dengan lapar, sepi, takut, bosan, godaan, ingatan, dan hawa nafsu. Di sana ia belajar bahwa musuh terbesar sering bukan penganiaya di luar, melainkan kekacauan di dalam hati.

Peralihan ini tidak berarti Gereja melupakan para martir. Sebaliknya, monakisme membawa semangat martir ke dalam bentuk baru. Rahib adalah orang yang tidak ingin iman menjadi nyaman. Ia ingin seluruh hidupnya berkata: Kristus adalah Tuhan.

Dari arena ke padang gurun, bentuk kesaksian berubah, tetapi intinya tetap sama: penyerahan diri.

 

Mengapa Ini Penting Sekarang?

Mungkin kita tidak hidup dalam situasi Gereja abad ketiga atau keempat. Kita tidak menghadapi arena Romawi. Banyak dari kita tidak dipanggil untuk pergi ke gurun atau masuk biara. Namun, pertanyaan yang melahirkan askese tetap relevan.

  • Bagaimana menjadi Kristen ketika iman terlalu mudah menjadi identitas sosial?
  • Bagaimana mengikuti Kristus ketika kenyamanan lebih menggoda daripada penganiayaan?
  • Bagaimana menjaga hati ketika dunia menawarkan begitu banyak hiburan, pengakuan, dan kecepatan?
  • Bagaimana menyerahkan hidup tanpa harus menunggu peristiwa besar?

Kemartiran putih berbicara kepada kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa kesetiaan sering tersembunyi. Tidak semua pengorbanan dilihat. Tidak semua pertobatan dramatis. Tidak semua salib dikenal orang lain.

  • Ada kemartiran putih dalam merawat orang sakit dengan sabar.
  • Ada kemartiran putih dalam menolak korupsi ketika semua orang menganggapnya biasa.
  • Ada kemartiran putih dalam setia pada doa ketika tidak ada rasa.
  • Ada kemartiran putih dalam mengampuni ketika ego ingin membalas.
  • Ada kemartiran putih dalam hidup sederhana ketika lingkungan mengukur martabat dari kepemilikan.
  • Ada kemartiran putih dalam tetap mengasihi Gereja meskipun terluka oleh kelemahan anggotanya.

Dengan demikian, sejarah askese awal bukan sekadar masa lalu. Ia menolong kita memahami bahwa hidup Kristen selalu membutuhkan bentuk konkret penyerahan diri.

 

Penutup Bab

Setelah para martir, Gereja tidak kehilangan panggilan kepada kesaksian radikal. Ketika penganiayaan mereda dan Kekristenan mulai memperoleh tempat dalam masyarakat, semangat kemartiran menemukan bentuk baru dalam askese. Dari sinilah muncul jalan yang kelak berkembang menjadi monakisme.

Askese sudah hidup dalam Gereja sebelum ada biara-biara besar. Ia tampak dalam keperawanan, puasa, kesederhanaan, doa, pembacaan Kitab Suci, pelayanan, dan hidup yang terarah kepada Allah. Banyak dari praktik itu mula-mula berlangsung di rumah dan komunitas lokal. Namun, kerinduan untuk menghayati Injil secara lebih total mendorong sebagian orang menuju tempat sunyi dan akhirnya ke padang gurun.

Rahib adalah pewaris martir, bukan karena ia menggantikan martir, tetapi karena ia meneruskan semangat penyerahan diri. Ia tidak selalu menumpahkan darah, tetapi ia belajar menyerahkan kehendak diri. Ia tidak selalu menghadapi penguasa yang mengancam, tetapi ia menghadapi berhala-berhala batin yang tidak kalah kuat.

Bab berikutnya akan membawa kita ke Mesir, tempat padang gurun menjadi tanah subur bagi lahirnya monakisme Kristen. Di sana, di antara Sungai Nil dan pasir yang luas, orang-orang Kristen mulai membentuk cara hidup yang akan mengubah sejarah spiritual Gereja.