BAB 18 - Seni Mendengarkan dengan Telinga Hati


Benediktus membuka Regulanya dengan satu kata yang sangat sederhana: dengarkanlah.

  • Bukan “bekerjalah”.
  • Bukan “berpuasalah”.
  • Bukan “taatilah”.
  • Bukan “berjuanglah”.
  • Bukan “pergilah ke padang gurun”.

Tetapi: dengarkanlah.

Kata ini tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersembunyi seluruh jalan rohani. Sebab manusia tidak dapat mencari Allah jika ia tidak mau mendengarkan. Ia tidak dapat bertobat jika ia tidak mau mendengar kebenaran tentang dirinya. Ia tidak dapat hidup dalam komunitas jika ia tidak mau mendengar saudara-saudaranya. Ia tidak dapat berdoa jika hatinya penuh oleh suaranya sendiri.

Dalam Prolog Regulanya, Benediktus berkata agar murid mengarahkan “telinga hati”. Ungkapan ini indah karena menunjukkan bahwa mendengarkan bukan hanya pekerjaan telinga jasmani. Orang dapat mendengar suara tanpa sungguh mendengarkan. Ia dapat mendengar bacaan Kitab Suci, tetapi tidak membiarkannya mengubah hidup. Ia dapat mendengar nasihat, tetapi hanya mencari celah untuk membela diri. Ia dapat mendengar keluhan orang lain, tetapi hatinya sudah sibuk menyiapkan jawaban.

Mendengarkan dengan telinga hati berarti hadir secara utuh. Mendengarkan dengan rendah hati. Mendengarkan dengan kesiapan untuk diubah.

Dalam seluruh sejarah monakisme, mendengarkan selalu menjadi awal. Antonius mendengar Injil dan hidupnya berubah. Para murid datang kepada abba dan amma untuk mendengar satu perkataan. Kasianus mendengar para bapa Mesir lalu membawa kebijaksanaan itu ke Barat. Benediktus mendengar seluruh tradisi sebelumnya dan menatanya menjadi regula yang seimbang.

Hidup rohani dimulai ketika manusia berhenti menjadi pusat suara dan mulai membuka diri kepada Sabda.


Dunia yang Banyak Mendengar tetapi Sedikit Mendengarkan

Kita hidup dalam zaman yang penuh suara. Setiap hari kita menerima begitu banyak kata: pesan, berita, komentar, video, percakapan, iklan, pendapat, pengumuman, khotbah, musik, dan notifikasi. Kita mendengar banyak hal, tetapi belum tentu sungguh mendengarkan. Bahkan, mungkin karena terlalu banyak mendengar, kita justru makin sulit mendengarkan.

Mendengarkan membutuhkan perhatian. Perhatian membutuhkan keheningan. Keheningan membutuhkan keberanian. Dan keberanian itu semakin langka.

  • Banyak orang mendengar untuk segera menjawab.
  • Mendengar untuk menilai.
  • Mendengar untuk membantah.
  • Mendengar untuk mencari kesalahan.
  • Mendengar sambil melakukan hal lain.
  • Mendengar hanya selama perkataan orang lain sesuai dengan keinginannya.

Dalam dunia seperti ini, seni mendengarkan menjadi tindakan rohani yang sangat penting. Mendengarkan bukan keterampilan komunikasi saja. Mendengarkan adalah askese. Ia menuntut pengendalian diri. Ia menuntut kita menahan dorongan untuk cepat berbicara, cepat menyimpulkan, cepat membela diri, cepat menghakimi.

Tradisi monastik mengajarkan bahwa kata-kata harus lahir dari keheningan. Tetapi sebelum kata lahir, hati harus belajar mendengar. Orang yang tidak pernah mendengarkan akan berbicara dari kegelisahan, bukan dari kebijaksanaan.

Mendengarkan dengan telinga hati adalah salah satu bentuk kerendahan hati. Sebab orang yang mendengarkan mengakui bahwa ia belum mengetahui semuanya. Ia masih dapat diajar. Ia masih dapat dikoreksi. Ia masih dapat menerima terang dari luar dirinya.

Di dunia yang bising, orang yang sungguh mendengarkan menjadi tanda kehadiran Allah.

Mendengarkan Sabda

Bagi tradisi monastik, bentuk mendengarkan yang paling utama adalah mendengarkan Sabda Allah.

Kitab Suci bukan sekadar teks kuno. Ia adalah Sabda yang hidup dalam Gereja. Ia dibacakan dalam liturgi, direnungkan dalam lectio divina, dihafal dalam Mazmur, diulang dalam doa, dan dihidupi dalam tindakan. Para rahib membaca Kitab Suci bukan pertama-tama untuk memperoleh informasi, melainkan untuk dibentuk.

Mendengarkan Sabda berbeda dari sekadar membaca. Orang dapat membaca Kitab Suci dengan cepat, tetapi tidak mendengarkan. Ia dapat memakai Kitab Suci untuk membenarkan pendapatnya sendiri. Ia dapat menguasai kutipan, tetapi tidak membiarkan kutipan itu menguasai hatinya.

Mendengarkan Sabda berarti membiarkan diri berada di bawah Sabda.

Ini penting. Dalam banyak hal, manusia ingin berdiri di atas teks: menilai, mengatur, memilih bagian yang disukai, menghindari bagian yang menegur. Tetapi dalam pembacaan monastik, pembaca datang sebagai murid. Ia berkata: Tuhan, berbicaralah, hamba-Mu mendengarkan.

Sabda Allah kadang menghibur. Tetapi kadang juga menegur. Ia dapat membangkitkan harapan, tetapi juga membongkar kepalsuan. Ia dapat memberi damai, tetapi juga mengguncang rasa aman palsu. Karena itu, mendengarkan Sabda membutuhkan kesiapan untuk bertobat.

Antonius mendengar sabda kepada orang muda kaya dan tidak membiarkannya menjadi teori. Ia menjawab. Di sinilah mendengarkan menjadi nyata. Sabda yang sungguh didengar meminta tanggapan. Bukan selalu tanggapan besar dan dramatis. Kadang tanggapannya sederhana: mengampuni, meminta maaf, memberi kepada yang miskin, menahan kata, berdoa lagi, bekerja dengan jujur, atau berhenti dari kebiasaan yang merusak.

Lectio divina melatih pendengaran seperti ini. Kita membaca perlahan, berhenti pada kata yang menyentuh, membawanya ke dalam doa, lalu membiarkannya menjadi tindakan.

Sabda yang didengarkan harus menjadi hidup.

 

Mendengarkan Keheningan

Bagi orang modern, keheningan sering terasa seperti ketiadaan. Tidak ada suara, tidak ada percakapan, tidak ada hiburan. Tetapi dalam tradisi monastik, keheningan bukan kekosongan. Keheningan adalah ruang.

Di dalam keheningan, manusia mulai mendengar hal-hal yang biasanya tertutup: suara hati, luka batin, keinginan yang tidak teratur, rasa takut, rasa syukur, dan bisikan lembut Allah. Keheningan adalah tempat di mana hati berhenti bersembunyi di balik kebisingan.

Namun, mendengarkan keheningan tidak selalu nyaman. Pada awalnya, keheningan sering memperlihatkan kekacauan. Orang duduk diam dan menemukan bahwa pikirannya berlari ke banyak tempat. Ia ingin segera mengambil sesuatu, membaca sesuatu, menonton sesuatu, berbicara dengan seseorang. Ia merasa gelisah.

Ini tidak berarti keheningan gagal. Justru keheningan mulai menunjukkan keadaan hati yang sebenarnya.

Para rahib padang gurun mengenal ini. Mereka masuk ke sel bukan karena di sana hati langsung damai, tetapi karena di sana hati yang tidak damai dapat terlihat. “Tinggallah di selmu,” kata tradisi, “dan selmu akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu.” Sel mengajar karena ia membuat manusia mendengarkan apa yang selama ini ia hindari.

Keheningan juga mengajarkan kesabaran. Allah tidak selalu berbicara sesuai jadwal kita. Kadang yang diminta dari kita bukan segera memahami, tetapi tetap hadir. Duduk di hadapan Allah tanpa banyak kata. Membiarkan diri dilihat. Membiarkan batin perlahan-lahan tenang.

Dalam keheningan, kita belajar bahwa doa bukan hanya berbicara kepada Allah. Doa juga mendengarkan Allah.


Mendengarkan Diri Sendiri dengan Jujur

Mendengarkan dengan telinga hati juga berarti mendengarkan diri sendiri secara jujur. Bukan dalam arti mengikuti semua keinginan diri, tetapi mengenali apa yang sungguh terjadi di dalam hati.

Banyak orang tidak sungguh mendengarkan dirinya. Mereka hanya mengikuti dorongan tanpa memeriksanya. Atau sebaliknya, mereka menekan semua yang muncul dalam batin karena takut melihatnya. Tradisi monastik mengambil jalan lain: mengamati hati di hadapan Allah.

Evagrius dan Kasianus mengajarkan pentingnya mengenali pikiran-pikiran yang datang. Apakah ini kemarahan? Acedia? Kesombongan kosong? Ketakutan? Cinta uang? Kesedihan yang menutup hati? Keinginan untuk dilihat? Tanpa pengenalan, pikiran-pikiran itu mudah menguasai kita.

Mendengarkan diri sendiri dengan jujur berarti bertanya:

  • Mengapa aku begitu marah?
  • Apa yang sebenarnya kulindungi?
  • Mengapa aku gelisah ketika diam?
  • Mengapa aku ingin dipuji?
  • Mengapa aku sulit mengampuni?
  • Mengapa aku terus ingin lari dari tugas ini?
  • Apa yang sedang kucari dari orang lain?
  • Apa yang kutakuti jika aku sungguh percaya kepada Allah?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat diri terobsesi dengan diri sendiri. Tujuannya bukan introspeksi tanpa akhir. Tujuannya adalah membawa hati kepada Allah agar disembuhkan.

Kejujuran batin harus selalu ditemani belas kasih Allah. Jika tidak, kita dapat jatuh ke dalam keputusasaan. Ketika melihat kelemahan diri, kita perlu mengingat bahwa Allah sudah melihat semuanya dan tetap memanggil kita.

Mendengarkan diri sendiri secara Kristiani berarti melihat hati dengan terang Allah: jujur tentang dosa, tetapi tidak putus asa karena rahmat lebih besar.

 

Mendengarkan Sesama

Hidup komunitas mengajarkan bahwa mendengarkan Allah tidak dapat dipisahkan dari mendengarkan sesama.

Ini tidak berarti setiap suara manusia otomatis suara Allah. Diskresi tetap diperlukan. Tetapi Allah sering berbicara melalui orang lain: melalui nasihat, koreksi, kebutuhan, luka, pertanyaan, bahkan gangguan yang mereka bawa ke dalam hidup kita.

Dalam komunitas, mendengarkan sesama menjadi latihan kerendahan hati. Kita belajar bahwa dunia tidak berputar di sekitar diri kita. Saudara kita memiliki pengalaman, rasa sakit, harapan, dan pandangan yang perlu dihormati. Mendengarkan bukan berarti selalu setuju, tetapi berarti memberi ruang bagi orang lain untuk sungguh hadir di hadapan kita.

Banyak konflik membesar karena orang tidak mendengarkan. Mereka hanya menunggu giliran bicara. Mereka menafsirkan sebelum memahami. Mereka menjawab sebelum orang lain selesai. Mereka mendengar kata-kata, tetapi tidak mendengar luka di balik kata-kata itu.

Mendengarkan sesama membutuhkan askese. Kita perlu menahan dorongan untuk segera membela diri. Kita perlu menunda penilaian. Kita perlu memperhatikan bukan hanya isi kata, tetapi juga beban hati orang yang berbicara.

Dalam Regula Benediktus, abbas bahkan diminta mendengarkan nasihat seluruh komunitas, termasuk yang muda. Ini sangat menarik. Benediktus tahu bahwa Allah dapat menyatakan yang terbaik melalui yang paling muda. Kebijaksanaan tidak selalu datang dari posisi tertinggi.

Mendengarkan sesama berarti percaya bahwa aku tidak memiliki seluruh terang sendirian.

Di dalam keluarga, paroki, biara, komunitas, dan tempat kerja, mendengarkan adalah bentuk kasih yang sangat konkret.

 

Mendengarkan yang Lemah

Salah satu ujian terdalam bagi komunitas adalah apakah ia mendengarkan yang lemah.

Yang kuat biasanya lebih mudah didengar. Orang yang pandai bicara, berpendidikan, memiliki jabatan, berpengaruh, atau berprestasi sering mendapat ruang. Tetapi yang lemah mudah diabaikan: orang sakit, orang tua, anak-anak, orang miskin, mereka yang lambat, mereka yang tidak pandai menyampaikan diri, mereka yang terluka, mereka yang tidak punya kuasa.

Benediktus mengajarkan perhatian khusus kepada yang sakit dan lemah. Ini berarti komunitas harus mendengar kebutuhan mereka. Bukan hanya mendengar suara mayoritas atau yang paling produktif, tetapi juga suara mereka yang rapuh.

Mendengarkan yang lemah adalah tindakan Injili. Kristus sendiri hadir dalam yang kecil, miskin, sakit, dan tersisih. Jika komunitas hanya mendengarkan yang kuat, ia mungkin efisien, tetapi belum tentu Kristiani.

Mendengarkan yang lemah tidak berarti semua keinginan harus dipenuhi tanpa diskresi. Tetapi itu berarti kebutuhan mereka sungguh diperhatikan. Orang sakit tidak boleh dianggap gangguan. Orang lambat tidak boleh dihina. Orang terluka tidak boleh dibungkam karena membuat suasana tidak nyaman. Orang miskin tidak boleh hanya menjadi objek bantuan, tetapi juga subjek yang didengarkan.

Dalam dunia yang sering menghargai suara berdasarkan kuasa, Gereja dipanggil mendengarkan dari bawah. Tradisi monastik mengingatkan bahwa Kristus sering datang dalam suara yang tidak keras.

Telinga hati harus cukup rendah untuk mendengar yang lemah.

 

Mendengarkan Gereja dan Tradisi

Monakisme tidak lahir dari individu-individu yang menciptakan spiritualitas pribadi sesuka hati. Para rahib mendengarkan Kitab Suci, para bapa dan ibu rohani, liturgi, komunitas, dan Gereja. Mereka hidup dalam tradisi.

Mendengarkan tradisi bukan berarti mengulang masa lalu secara kaku. Tradisi bukan museum. Tradisi adalah ingatan hidup Gereja. Ia membawa kebijaksanaan orang-orang yang lebih dahulu berjalan: para martir, para asket, para Bapa Padang Gurun, Basilius, Kasianus, Benediktus, dan banyak saksi lain.

Orang modern sering curiga terhadap tradisi karena takut kehilangan kebebasan. Tetapi tanpa tradisi, kita mudah terjebak dalam kesempitan zaman sendiri. Kita mengira persoalan kita baru sepenuhnya, padahal banyak pergulatan hati manusia sudah lama dikenal: kesombongan, acedia, kerakusan, ketakutan, keinginan dipuji, kesulitan hidup bersama.

Tradisi memberi bahasa dan peta.

Mendengarkan tradisi berarti bertanya: apa yang telah Roh Kudus ajarkan kepada Gereja melalui generasi sebelum kita? Bagaimana mereka membaca Kitab Suci? Bagaimana mereka berdoa? Bagaimana mereka menghadapi godaan? Bagaimana mereka membangun komunitas? Apa yang perlu kita terima, dan apa yang perlu diterjemahkan dengan bijaksana hari ini?

Tradisi juga membantu melawan spiritualitas yang terlalu individualistis. Aku bukan orang pertama yang mencari Allah. Aku berjalan bersama tubuh Gereja. Ada jejak-jejak di jalan. Ada nasihat yang sudah diuji waktu. Ada peringatan terhadap bahaya yang mungkin belum kulihat.

Mendengarkan tradisi adalah bentuk kerendahan hati historis: mengakui bahwa aku membutuhkan kebijaksanaan mereka yang telah berjalan sebelumku.

 

Mendengarkan melalui Ketaatan

Dalam monakisme, ketaatan adalah bentuk mendengarkan yang diwujudkan dalam tindakan. Mendengar saja belum cukup jika tidak melahirkan tanggapan.

Seseorang dapat mendengar Sabda, tetapi tidak berubah. Dapat mendengar nasihat, tetapi tidak melakukannya. Dapat mendengar koreksi, tetapi tetap membela diri. Ketaatan menguji apakah pendengaran kita sungguh sampai ke hati.

Ketaatan tidak populer dalam budaya yang sangat menekankan kehendak pribadi. Namun, tanpa ketaatan, mendengarkan mudah menjadi hiasan rohani. Aku mendengar, tetapi tetap melakukan kehendakku sendiri. Aku meminta nasihat, tetapi hanya menerima nasihat yang sesuai keinginanku. Aku berkata mencari kehendak Allah, tetapi diam-diam sudah memutuskan jalanku.

Ketaatan monastik melatih manusia untuk tidak menjadikan kehendak diri sebagai pusat. Ia mengajarkan bahwa kebebasan bukan sekadar memilih apa yang kusukai, melainkan kemampuan menyerahkan diri kepada kebaikan yang lebih besar.

Namun, ketaatan harus sehat. Tidak ada ketaatan Kristiani kepada dosa, manipulasi, kekerasan, atau penyalahgunaan kuasa. Ketaatan sejati selalu berada dalam terang Injil, martabat manusia, dan kasih. Pemimpin pun harus mendengarkan Allah dan komunitas. Ketaatan bukan jalan satu arah yang membungkam hati nurani.

Dalam bentuknya yang benar, ketaatan adalah pendengaran yang menjadi tubuh. Ia berkata: aku telah mendengar, maka aku akan berjalan.

 

Mendengarkan dalam Doa

Doa sering dipahami sebagai berbicara kepada Allah. Kita memohon, bersyukur, memuji, mengaku dosa, dan menyampaikan isi hati. Semua itu penting. Tetapi doa juga adalah mendengarkan.

Mendengarkan dalam doa tidak selalu berarti mendengar suara jelas. Lebih sering, ia berarti membuka hati di hadapan Allah dan membiarkan-Nya bekerja dalam keheningan. Kadang Allah berbicara melalui Sabda yang kita baca. Kadang melalui damai yang perlahan muncul. Kadang melalui kegelisahan suci yang mendorong pertobatan. Kadang melalui ingatan akan seseorang yang perlu kita ampuni. Kadang melalui rasa kosong yang mengajarkan kesetiaan tanpa penghiburan.

Mendengarkan dalam doa membutuhkan waktu. Tidak semua hal langsung jelas. Kita sering ingin jawaban cepat. Allah sering membentuk hati lebih dahulu sebelum memberi kejelasan. Karena itu, doa yang mendengarkan memerlukan kesabaran.

Para rahib mengajarkan doa yang setia. Tetap hadir. Tetap kembali. Tetap duduk di hadapan Allah. Jangan terlalu cepat menilai doa berhasil atau gagal berdasarkan perasaan. Kadang doa terdalam terjadi ketika kita tidak merasakan apa-apa, tetapi tetap tinggal.

Mendengarkan dalam doa juga berarti membiarkan Allah mengganggu rencana kita. Jika doa hanya menegaskan apa yang sudah kita inginkan, mungkin kita belum mendengarkan. Allah dapat memanggil kita kepada pengampunan yang tidak kita mau, pelayanan yang tidak kita rencanakan, kesederhanaan yang menantang, atau pertobatan yang menyakitkan.

Doa yang sejati membuka ruang bagi Allah untuk menjadi Allah.

 

Hambatan untuk Mendengarkan

Mengapa mendengarkan begitu sulit?

  • Pertama, karena kesombongan. Orang sombong merasa sudah tahu. Ia tidak membutuhkan nasihat. Ia mendengar hanya untuk menilai, bukan untuk belajar.
  • Kedua, karena ketakutan. Kadang kita tidak mau mendengar karena takut apa yang akan diminta Allah. Jika sungguh mendengar, mungkin kita harus berubah. Lebih mudah tetap bising.
  • Ketiga, karena luka. Orang yang pernah dilukai dapat sulit percaya. Ia mendengar kata orang lain melalui kecurigaan. Ia perlu waktu dan rahmat untuk belajar mendengarkan kembali.
  • Keempat, karena kelekatan. Jika hati melekat kuat pada sesuatu, ia sulit mendengar panggilan yang mengancam kelekatan itu. Orang muda kaya mendengar Yesus, tetapi pergi dengan sedih karena hartanya banyak.
  • Kelima, karena kebisingan. Suara yang terlalu banyak membuat hati tumpul. Tanpa keheningan, suara Allah mudah tenggelam.
  • Keenam, karena tergesa-gesa. Mendengarkan membutuhkan waktu. Orang yang selalu terburu-buru hanya menangkap permukaan.

Mengenali hambatan-hambatan ini membantu kita bertobat. Kita dapat bertanya: apa yang paling menghalangiku untuk mendengarkan? Apakah aku terlalu sombong? Terlalu takut? Terlalu terluka? Terlalu melekat? Terlalu bising? Terlalu tergesa?

Pertanyaan itu sendiri sudah merupakan awal mendengarkan.

 

Latihan Mendengarkan dalam Hidup Sehari-hari

Seni mendengarkan perlu dilatih. Ia tidak tumbuh hanya dari niat baik. Berikut beberapa bentuk latihan yang sejalan dengan roh monastik.

  • Pertama, sediakan waktu hening harian, meskipun singkat. Keheningan kecil yang setia lebih baik daripada rencana besar yang tidak pernah dilakukan.
  • Kedua, baca satu teks Kitab Suci secara perlahan. Jangan segera mencari banyak penjelasan. Dengarkan kata yang menyentuh. Bawa ke dalam doa.
  • Ketiga, ketika berbicara dengan seseorang, jangan langsung menyiapkan jawaban. Dengarkan sampai selesai. Perhatikan bukan hanya kata, tetapi juga hati.
  • Keempat, saat menerima koreksi, tahan dorongan pertama untuk membela diri. Mungkin koreksi itu tidak sempurna, tetapi tanyakan: adakah kebenaran yang perlu kudengar?
  • Kelima, lakukan pemeriksaan batin pada malam hari. Tanyakan: hari ini, suara apa yang paling banyak kudengarkan? Suara Allah, ego, ketakutan, kemarahan, atau keinginan dipuji?
  • Keenam, dengarkan yang lemah. Beri perhatian kepada orang yang biasanya tidak punya ruang bicara.
  • Ketujuh, doakan kalimat sederhana: “Tuhan, bukalah telinga hatiku.”

Latihan-latihan ini tampak kecil. Tetapi hidup rohani memang sering dibentuk oleh hal-hal kecil yang diulang dengan setia.

Mendengarkan adalah kebiasaan hati.

Mendengarkan sebagai Bentuk Kasih

Pada akhirnya, mendengarkan adalah bentuk kasih.

Orang yang sungguh mendengarkan memberi ruang bagi yang lain. Ia berkata tanpa kata-kata: engkau berarti. Suaramu penting. Aku tidak menjadikan diriku pusat. Aku mau hadir.

Dalam relasi dengan Allah, mendengarkan adalah kasih karena kita mengakui bahwa Allah adalah Tuhan. Kita tidak datang hanya untuk meminta Dia menyetujui kehendak kita. Kita datang untuk menerima kehendak-Nya.

Dalam relasi dengan sesama, mendengarkan adalah kasih karena kita menerima mereka bukan sebagai gangguan, tetapi sebagai pribadi. Banyak orang terluka bukan hanya karena tidak diberi jawaban, tetapi karena tidak pernah sungguh didengarkan.

Dalam relasi dengan diri sendiri, mendengarkan adalah kasih karena kita membawa hati yang rapuh kepada Allah, bukan mengabaikan atau menindasnya.

Monakisme mengajarkan bahwa kasih tidak selalu mulai dengan tindakan besar. Kadang kasih mulai dengan diam dan mendengarkan.

  • Seorang abba mendengarkan murid yang datang dengan pergulatannya.
  • Seorang abbas mendengarkan komunitas.
  • Seorang rahib mendengarkan Mazmur.
  • Seorang saudara mendengarkan saudara yang sakit.
  • Seorang murid mendengarkan Sabda.
  • Seorang manusia mendengarkan Allah.

Di mana ada pendengaran yang rendah hati, di sana kasih mulai berakar.

 

Penutup Bab

Seni mendengarkan adalah jantung spiritualitas monastik. Dari Antonius yang mendengar Injil, para murid yang meminta perkataan kepada abba dan amma, Kasianus yang mendengarkan para bapa Mesir, hingga Benediktus yang membuka Regulanya dengan “dengarkanlah,” seluruh tradisi monastik mengajarkan bahwa hidup rohani dimulai dari telinga hati.

Mendengarkan berarti membuka diri kepada Sabda, keheningan, diri sendiri secara jujur, sesama, yang lemah, Gereja, tradisi, dan Allah dalam doa. Mendengarkan juga menuntut ketaatan, sebab Sabda yang sungguh didengar meminta tanggapan.

Di dunia yang bising dan tergesa-gesa, mendengarkan menjadi bentuk askese. Ia melawan kesombongan, ketakutan, kebisingan, dan kelekatan. Ia membentuk kerendahan hati. Ia membuat kita lebih mampu mengasihi.

Sebelum kita berbicara tentang Allah, kita perlu mendengarkan Allah. Sebelum kita menasihati orang lain, kita perlu mendengarkan mereka. Sebelum kita memahami diri sendiri, kita perlu diam cukup lama untuk mendengar hati kita di hadapan rahmat.

Mungkin inilah salah satu hadiah terbesar tradisi monastik bagi zaman ini: undangan untuk kembali mendengarkan.

Dengarkanlah.

Arahkan telinga hatimu.

Di sana, pencarian Allah dimulai.

No comments: