Mencari Allah dengan Hati yang Tidak Terbagi
Perjalanan kita dimulai dari sebuah kegelisahan sederhana:
mengapa orang Kristen pergi ke padang gurun?
Pertanyaan itu membawa kita melewati sejarah panjang. Kita
melihat bahwa monakisme tidak lahir sebagai pelarian kosong dari dunia,
melainkan sebagai jawaban terhadap panggilan Allah. Para rahib pergi ke padang
gurun karena ingin mencari Allah. Mereka mengambil jarak dari hiruk-pikuk dunia
bukan karena membenci ciptaan, tetapi karena tahu bahwa hati manusia mudah
diperbudak oleh ciptaan. Mereka meninggalkan banyak hal bukan karena semuanya
buruk, tetapi agar dapat mengikuti Kristus dengan lebih bebas.
Monakisme lahir dari Injil yang dibaca secara radikal. Sabda
Yesus kepada orang muda kaya, panggilan untuk menyangkal diri, teladan Yesus di
padang gurun, hidup jemaat perdana, doa tanpa henti, dan undangan untuk
memiliki hati yang tidak terbagi menjadi akar yang kuat. Para rahib tidak
menciptakan spiritualitas yang terpisah dari Injil. Mereka mencoba menjadikan
Injil sebagai bentuk hidup.
Kita melihat bahwa sebelum ada rahib, ada martir. Para
martir memberi kesaksian dengan darah. Ketika penganiayaan mereda, semangat
kemartiran tidak hilang. Ia menemukan bentuk baru dalam askese, dalam
“kemartiran putih”: menyerahkan diri tanpa menumpahkan darah, mati terhadap ego
dan dosa setiap hari. Dari arena menuju padang gurun, kesaksian berubah bentuk,
tetapi intinya tetap sama: Kristus layak menerima seluruh hidup.
Kita berjalan ke Mesir, tanah para rahib. Di sana Sungai Nil
dan padang gurun berdampingan. Di sana Antonius mendengar Injil dan membiarkan
hidupnya diubah. Di sana para abba dan amma mengajarkan kebijaksanaan melalui
kata-kata singkat yang lahir dari keheningan. Di sana Pakomius membentuk
komunitas, menunjukkan bahwa pencarian Allah dapat dijalani bersama sebagai
saudara. Mesir menjadi rahim besar monakisme karena di sana keheningan, kerja,
doa, bimbingan rohani, peperangan batin, dan komunitas bertemu.
Kita masuk ke pembentukan hati monastik. Evagrius
mengajarkan bahwa perang terdalam terjadi dalam pikiran dan keinginan. Ia
memberi bahasa bagi logismoi, acedia, apatheia, dan doa murni. Basilius
mengingatkan bahwa monakisme bukan proyek individual, melainkan sekolah kasih
dalam komunitas dan Gereja. Siria dan Palestina memperlihatkan askese sebagai
tanda profetis, sekaligus mengingatkan bahwa api asketis selalu membutuhkan
diskresi.
Kita mengikuti perjalanan warisan Timur ke Barat. Kisah
Antonius sampai ke dunia Latin. Martinus, Hieronimus, Ambrosius, Agustinus, dan
komunitas-komunitas awal Barat menunjukkan bagaimana api padang gurun mulai
menyala dalam tanah baru. Yohanes Kasianus menjadi jembatan besar, membawa
kebijaksanaan Mesir ke Barat melalui Institutes dan Conferences. Melalui dia,
Barat belajar tentang kemurnian hati, diskresi, doa tanpa henti, acedia, dan
perang batin.
Akhirnya kita tiba pada Benediktus dari Nursia. Dalam
dirinya, banyak arus menemukan sintesis. Benediktus bukan awal monakisme,
tetapi ia memberi rumah bagi tradisi itu di Barat. Melalui Regulanya, ia
membentuk biara sebagai sekolah pelayanan Tuhan. Ia mengajarkan doa, kerja,
lectio divina, stabilitas, ketaatan, kerendahan hati, keramahan, perhatian
kepada yang lemah, dan keseimbangan. Jalan Benediktus tidak spektakuler, tetapi
mendalam. Ia membentuk manusia melalui ritme harian yang setia.
Warisan Benediktus kemudian menyentuh Gereja dan dunia:
liturgi, pendidikan, penyalinan naskah, pengolahan tanah, keramahan,
pembentukan komunitas, dan pembaruan rohani. Namun, inti warisannya bukan
pertama-tama prestasi budaya, melainkan hidup yang ditata di sekitar Allah.
Dan setelah seluruh perjalanan itu, kita kembali kepada pertanyaan awal, tetapi dalam bentuk yang lebih pribadi: Apa yang sungguh kita cari?
Monakisme sebagai Ingatan Gereja
Monakisme adalah salah satu cara Gereja mengingat.
- Ia mengingatkan Gereja bahwa Kristus adalah pusat.
- Ia mengingatkan bahwa Injil bukan hanya ajaran yang dikagumi, tetapi panggilan yang harus dijawab.
- Ia mengingatkan bahwa doa bukan tambahan, melainkan napas hidup.
- Ia mengingatkan bahwa tubuh, waktu, kerja, uang, relasi, dan kata-kata harus diarahkan kepada Allah.
- Ia mengingatkan bahwa kesucian tidak selalu tampak dalam hal besar, tetapi dalam pertobatan kecil yang setia.
- Ia mengingatkan bahwa Gereja membutuhkan keheningan agar tidak kehilangan suara Allah.
- Ia mengingatkan bahwa pelayanan tanpa doa mudah menjadi aktivisme, dan doa tanpa kasih mudah menjadi pelarian.
- Ia mengingatkan bahwa komunitas adalah tempat pengudusan, bukan hanya tempat kenyamanan.
- Ia mengingatkan bahwa yang lemah harus dilayani seperti Kristus.
- Ia mengingatkan bahwa dunia tidak diselamatkan oleh kebisingan, tetapi oleh kasih yang berakar dalam Allah.
Monakisme adalah ingatan hidup bahwa manusia diciptakan
untuk Allah. Karena itu, ketika Gereja menjadi terlalu sibuk, monakisme
memanggilnya kembali kepada doa. Ketika Gereja menjadi terlalu nyaman,
monakisme memanggilnya kembali kepada salib. Ketika Gereja menjadi terlalu
terikat pada kuasa, monakisme memanggilnya kembali kepada kerendahan hati.
Ketika Gereja kehilangan keberanian profetis, monakisme mengingatkan bahwa
hidup yang sederhana dan radikal dapat mengguncang dunia.
Setiap zaman membutuhkan bentuk ingatan seperti ini.
Tidak Semua ke Gurun, tetapi Semua kepada Allah
Salah satu kesalahan membaca monakisme adalah menganggapnya
sebagai model tunggal hidup Kristen. Seolah-olah orang yang sungguh-sungguh
mencari Allah harus meninggalkan dunia, hidup selibat, dan masuk biara. Gereja
tidak mengajarkan demikian.
Ada banyak panggilan dalam Gereja. Perkawinan, imamat, hidup
religius, hidup monastik, hidup awam selibat, karya pendidikan, pelayanan
sosial, pekerjaan profesional, keluarga, politik, seni, dan banyak bentuk
kehidupan lain dapat menjadi jalan kekudusan jika dihidupi dalam Kristus.
Namun, monakisme tetap penting bagi semua panggilan karena
ia menampilkan secara tajam apa yang seharusnya ada dalam setiap hidup Kristen:
Allah sebagai pusat.
- Tidak semua orang pergi ke gurun, tetapi semua orang perlu memiliki ruang gurun: ruang hening untuk mendengarkan Allah, ruang kejujuran untuk melihat hati, ruang pelepasan untuk menjadi bebas, ruang doa untuk kembali kepada sumber.
- Tidak semua orang mengucapkan kaul stabilitas di biara, tetapi semua orang perlu belajar setia pada panggilan konkret.
- Tidak semua orang hidup tanpa milik pribadi, tetapi semua orang perlu belajar bebas terhadap harta.
- Tidak semua orang mendaraskan seluruh Mazmur setiap minggu, tetapi semua orang perlu memberi ruang bagi Sabda dan doa.
- Tidak semua orang hidup dalam komunitas monastik, tetapi semua orang perlu belajar mengasihi sesama yang nyata.
- Tidak semua orang menjadi abbas atau amma, tetapi semua orang membutuhkan bimbingan dan kerendahan hati untuk mendengar.
Monakisme bukan jalan semua orang dalam bentuknya, tetapi ia
adalah tanda bagi semua orang dalam arahnya.
Arah itu adalah Allah.
Dunia kita sangat berbeda dari dunia Antonius dan
Benediktus. Tetapi kebutuhan hati manusia tidak berubah sepenuhnya. Kita tetap
mudah takut, melekat, marah, iri, mencari pujian, lari dari keheningan, dan
menjadikan diri pusat. Kita tetap membutuhkan pertobatan.
Bahkan mungkin zaman ini membutuhkan padang gurun dengan
cara baru.
- Kita membutuhkan padang gurun dari kebisingan, agar dapat mendengar.
- Kita membutuhkan padang gurun dari konsumsi, agar dapat bersyukur.
- Kita membutuhkan padang gurun dari kecepatan, agar dapat hadir.
- Kita membutuhkan padang gurun dari citra diri, agar dapat hidup dalam kebenaran.
- Kita membutuhkan padang gurun dari kemarahan publik, agar dapat berbicara dengan kasih.
- Kita membutuhkan padang gurun dari produktivitas tanpa batas, agar dapat mengingat bahwa kita bukan mesin.
- Kita membutuhkan padang gurun dari individualisme, agar dapat belajar komunitas.
- Kita membutuhkan padang gurun dari pelarian, agar dapat tinggal di tempat Allah membentuk kita.
Padang gurun seperti ini tidak selalu jauh. Ia dapat dimulai
di kamar, kapel, meja kerja, ruang keluarga, perjalanan harian, atau saat kita
mematikan layar dan duduk diam di hadapan Allah.
Padang gurun bukan pertama-tama lokasi. Ia adalah kondisi
hati yang bersedia dibawa Allah ke tempat kebenaran.
Tradisi monastik sangat realistis. Ia tahu bahwa manusia
jatuh. Ia tahu bahwa semangat dapat melemah. Ia tahu bahwa doa dapat kering. Ia
tahu bahwa komunitas dapat menyakitkan. Ia tahu bahwa rahib pun dapat malas,
marah, sombong, dan tergoda. Karena itu, tradisi ini tidak hanya berbicara
tentang pencapaian, tetapi tentang memulai lagi.
Memulai lagi adalah rahmat besar.
- Antonius memulai dengan mendengar Injil.
- Para martir memulai dengan kesetiaan pada Kristus di hadapan ancaman.
- Para abba memulai lagi setiap hari di sel.
- Pakomius memulai komunitas bagi mereka yang ingin mencari Allah bersama.
- Evagrius mengajak mengenali pikiran dan kembali kepada doa.
- Basilius mengajak kembali kepada kasih.
- Kasianus mengajak kembali kepada kemurnian hati.
- Benediktus membuka Regulanya dengan panggilan untuk bangun dari tidur.
- Bangunlah. Dengarkanlah. Kembalilah.
Mungkin inilah kata yang perlu kita dengar di akhir buku
ini. Bukan perintah yang menakutkan, melainkan undangan penuh belas kasih:
mulai lagi.
- Mulai lagi berdoa.
- Mulai lagi membaca Sabda.
- Mulai lagi hidup sederhana.
- Mulai lagi mengasihi komunitas.
- Mulai lagi menjaga keheningan.
- Mulai lagi bekerja dengan jujur.
- Mulai lagi menerima tamu sebagai Kristus.
- Mulai lagi merawat yang lemah.
- Mulai lagi mencari Allah.
Selama hidup masih diberikan, pertobatan masih mungkin. Dan
selama pertobatan masih mungkin, harapan belum hilang.
Mencari Allah
Pada akhirnya, seluruh sejarah monakisme dapat diringkas
dalam dua kata: mencari Allah.
Namun, mencari Allah bukan mencari sesuatu yang jauh seperti
benda hilang. Allah lebih dahulu mencari manusia. Ia memanggil Abraham keluar.
Ia membawa Israel melalui gurun. Ia berbicara melalui para nabi. Ia datang
dalam Kristus. Ia memanggil para murid. Ia mencari yang hilang. Ia mengetuk
pintu hati.
Maka, ketika manusia mencari Allah, sebenarnya ia sedang
menjawab Allah yang lebih dahulu mencarinya.
Para rahib pergi ke padang gurun karena mereka mendengar
panggilan itu. Mereka tidak selalu mengerti sepenuhnya. Mereka tidak selalu
murni motivasinya. Mereka tidak selalu berhasil. Tetapi mereka berjalan. Dan
dalam perjalanan itu, Gereja menemukan salah satu warisan rohani terbesarnya.
- Mencari Allah berarti membiarkan diri ditemukan oleh Allah.
- Mencari Allah berarti mengakui bahwa tidak ada ciptaan yang cukup menjadi pusat hati.
- Mencari Allah berarti belajar mendengarkan.
- Mencari Allah berarti masuk ke ruang kejujuran.
- Mencari Allah berarti membiarkan kasih mengatur ulang hidup.
- Mencari Allah berarti berjalan bersama Gereja, para kudus, dan saudara-saudari yang juga rapuh.
- Mencari Allah berarti percaya bahwa hidup yang sederhana dan setia dapat menjadi tempat rahmat.
- Mencari Allah berarti memiliki hati yang tidak terbagi, atau setidaknya rindu agar hati yang terbagi ini perlahan-lahan disatukan oleh rahmat.
Website ini tidak ditulis agar semua pembaca menjadi rahib.
Website ini ditulis agar kita belajar dari para rahib apa artinya mencari Allah
dengan serius.
Mungkin pembaca adalah mahasiswa teologi, calon imam,
biarawan, biarawati, imam, katekis, pendidik, aktivis Gereja, orang tua,
pekerja, atau seseorang yang hanya ingin memahami sejarah spiritualitas
Kristen. Apa pun panggilannya, pertanyaan monastik tetap dapat menjadi milik
kita:
- Apa yang sungguh kucari?
- Di mana padang gurunku?
- Apa yang perlu kulepaskan?
- Kepada siapa aku perlu mendengarkan?
- Bagaimana aku dapat menata hidupku di sekitar Allah?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak harus dijawab sekaligus.
Mereka dapat dibawa dalam doa. Mereka dapat menjadi bahan lectio hidup. Mereka
dapat mengantar pada langkah kecil yang konkret.
- Mungkin langkah itu adalah menyediakan waktu hening setiap hari.
- Mungkin membaca Injil dengan lebih pelan.
- Mungkin mengurangi konsumsi.
- Mungkin meminta maaf.
- Mungkin mencari bimbingan rohani.
- Mungkin melayani orang miskin.
- Mungkin kembali ke Ekaristi dengan hati yang lebih sadar.
- Mungkin memulai regula pribadi sederhana.
- Mungkin hanya duduk di hadapan Allah dan berkata: “Tuhan, aku ingin mencari Engkau.”
Itu sudah awal yang baik.
Sebab jalan monastik, seperti seluruh hidup Kristen, selalu
dimulai dengan mendengar panggilan dan mengambil satu langkah.
Dengarkanlah.
Bangunlah.
Carilah Allah.
Dan ketika jatuh, mulailah lagi.
No comments:
Post a Comment