Ada orang datang kepada seorang rahib tua di padang gurun dan berkata, “Abba, berilah aku perkataan.”Permintaan itu sederhana, tetapi sangat dalam.
- Ia tidak berkata, “Berilah aku teori.”
- Ia tidak berkata, “Jelaskan kepadaku seluruh doktrin.”
- Ia tidak berkata, “Buatkan sistem spiritualitas.”
- Ia hanya meminta satu perkataan.
Dalam tradisi padang gurun Mesir, satu perkataan yang lahir dari hidup sering lebih berharga daripada banyak penjelasan yang belum menjadi daging. Para rahib tidak mencari informasi rohani. Mereka mencari sabda yang dapat menyelamatkan hidup mereka. Mereka ingin mendengar sesuatu yang harus direnungkan, diingat, diuji, dan dihidupi.
Dari tradisi inilah lahir kumpulan perkataan para Bapa Padang Gurun yang dikenal sebagai Apophthegmata Patrum, atau Sayings of the Desert Fathers. Di dalamnya terdapat kisah-kisah pendek, nasihat tajam, jawaban sederhana, dan percakapan yang kadang membingungkan. Namun, justru dalam kesederhanaannya, teks-teks itu memiliki daya yang besar.
Para abba dan amma bukan dosen spiritualitas dalam arti modern. Mereka adalah manusia yang telah ditempa oleh doa, keheningan, kerja, kegagalan, dan pertobatan. Mereka berbicara bukan terutama dari buku, melainkan dari hidup yang telah lama bergumul dengan Allah.
Bab ini membahas kebijaksanaan para abba dan amma: apa yang mereka ajarkan, bagaimana mereka mengajar, mengapa perkataan mereka begitu singkat, dan mengapa suara mereka masih penting bagi Gereja masa kini.
Kata abba berarti bapa. Kata amma berarti ibu. Dalam tradisi monastik Mesir, keduanya menunjuk pada bapa atau ibu rohani: orang yang dipercaya memiliki kebijaksanaan untuk membimbing orang lain dalam jalan menuju Allah.
Seorang abba atau amma tidak terutama dihormati karena jabatan resmi. Banyak dari mereka bukan imam, bukan uskup, bukan teolog terkenal. Mereka dihormati karena hidup mereka. Orang datang kepada mereka karena melihat bahwa dalam diri mereka ada sesuatu yang jernih, matang, dan benar.
Kebijaksanaan seorang abba atau amma lahir dari pengalaman. Mereka tahu apa artinya tergoda. Mereka tahu apa artinya gagal. Mereka tahu apa artinya bosan di sel, marah kepada saudara, terganggu saat berdoa, ingin dipuji, atau ingin menyerah. Justru karena mereka telah melewati pergulatan itu, mereka dapat menolong orang lain.
Bapa dan ibu rohani tidak memberi jawaban yang sama kepada semua orang. Mereka mengenal bahwa setiap jiwa berbeda. Nasihat yang baik bagi satu orang dapat berbahaya bagi orang lain. Seseorang yang malas perlu didorong. Seseorang yang terlalu keras terhadap dirinya perlu dilembutkan. Seseorang yang sombong perlu direndahkan. Seseorang yang putus asa perlu dihibur.
Inilah seni diskresi: kemampuan membedakan apa yang sungguh dibutuhkan oleh jiwa. Kehadiran amma sangat penting untuk diingat. Sejarah monakisme sering terlalu banyak diceritakan melalui tokoh laki-laki. Padahal tradisi padang gurun juga mengenal ibu-ibu rohani seperti Syncletica, Sarah, dan Theodora. Mereka bukan tokoh pinggiran. Mereka adalah guru rohani. Mereka menunjukkan bahwa kebijaksanaan lahir bukan dari jenis kelamin atau status sosial, melainkan dari hati yang dibentuk oleh Allah.
Dalam diri para abba dan amma, Gereja melihat bahwa bimbingan rohani bukan sekadar memberi nasihat. Ia adalah seni melahirkan kehidupan rohani dalam diri orang lain.
“Berilah Aku Perkataan”
Permintaan “berilah aku perkataan” adalah salah satu ciri khas tradisi padang gurun. Perkataan yang diminta bukan sekadar kata-kata motivasi. Ia adalah sabda untuk hidup. Murid datang dengan pergulatan konkret: malas berdoa, digoda nafsu, marah kepada saudara, ingin meninggalkan sel, takut gagal, atau merasa dirinya sudah suci. Ia datang kepada abba atau amma bukan untuk dipuji, tetapi untuk diselamatkan dari kebohongan batinnya sendiri.
Kadang jawaban abba sangat singkat. Kadang ia berupa kisah. Kadang ia berupa perintah sederhana. Kadang abba justru diam. Dalam tradisi ini, diam pun dapat menjadi jawaban.
Mengapa jawaban mereka sering singkat? Karena kebijaksanaan padang gurun tidak ingin menggantikan perjuangan murid. Nasihat yang terlalu panjang dapat membuat orang merasa telah memahami sesuatu sebelum menghidupinya. Perkataan singkat menuntut permenungan. Ia seperti benih. Ia harus jatuh ke tanah hati, tinggal di sana, lalu perlahan-lahan bertumbuh.
Seorang murid yang menerima satu perkataan harus membawanya kembali ke sel. Ia mengulanginya saat bekerja. Ia mengujinya saat tergoda. Ia mengingatnya saat marah. Ia mendoakannya saat merasa kering. Perkataan itu menjadi teman dalam proses pertobatan.
Tradisi ini menantang cara kita belajar hari ini. Kita sering mengira bahwa makin banyak informasi berarti makin banyak kebijaksanaan. Padang gurun berkata sebaliknya: satu kalimat yang sungguh dihidupi lebih berharga daripada seribu kalimat yang hanya dikumpulkan. Para abba dan amma tidak ingin murid menjadi kolektor nasihat. Mereka ingin murid bertobat.
Keheningan
Salah satu tema utama kebijaksanaan padang gurun adalah keheningan. Keheningan bukan sekadar tidak berbicara. Ada orang yang diam mulutnya, tetapi hatinya berisik. Ia terus berdebat dalam batin, menghakimi orang lain, membayangkan pembelaan diri, atau mengulang luka lama. Keheningan sejati lebih dalam daripada ketiadaan suara. Ia adalah keadaan hati yang belajar mendengarkan Allah.
Para rahib sangat berhati-hati terhadap kata-kata. Mereka tahu bahwa lidah dapat menjadi pintu dosa. Banyak kerusakan lahir dari kata yang tidak dijaga: gosip, fitnah, keluhan, pembenaran diri, kemarahan, dan penghakiman. Karena itu, mereka melatih diri untuk berbicara sedikit.
Namun, keheningan bukan kebencian terhadap percakapan. Kata-kata yang lahir dari kasih dan kebenaran tetap diperlukan. Para abba berbicara ketika perlu. Mereka memberi nasihat, menghibur, menegur, dan mengajar. Tetapi mereka ingin kata-kata mereka lahir dari doa, bukan dari kegelisahan.
Keheningan mengajar manusia membedakan mana kata yang perlu dan mana kata yang hanya melayani ego. Banyak kali kita berbicara bukan karena kebenaran menuntutnya, tetapi karena kita ingin terlihat pintar, ingin menang, ingin membela diri, atau takut disalahpahami. Padang gurun mengajarkan bahwa tidak semua yang muncul di pikiran harus diucapkan.
Dalam keheningan, manusia mulai mendengar hal-hal yang selama ini tertutup oleh kebisingan: ketakutannya, kesedihannya, keinginannya, dan suara Allah yang lembut. Karena itu, keheningan sering terasa tidak nyaman. Ia membuka ruang yang selama ini kita isi dengan suara. Tetapi tanpa keheningan, hati sulit menjadi jernih.
Tinggallah di Selmu
Salah satu nasihat paling terkenal dari tradisi padang gurun berbunyi: tinggallah di selmu, dan selmu akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu. Sel adalah tempat tinggal rahib. Biasanya sederhana, kecil, dan sunyi. Di sana ia berdoa, bekerja, membaca, makan, menangis, tergoda, dan tidur. Sel bukan hanya ruang fisik. Ia adalah tempat pertobatan.
Nasihat untuk tinggal di sel sangat mendalam karena manusia sering ingin melarikan diri dari tempat pembentukan. Ketika doa terasa kering, kita ingin mencari suasana lain. Ketika komunitas terasa sulit, kita ingin pindah. Ketika tugas terasa membosankan, kita ingin mengganti panggilan. Ketika diri sendiri mulai tampak rapuh, kita mencari kesibukan baru agar tidak perlu melihatnya.
Para rahib tahu godaan ini. Mereka menyebutnya salah satu bentuk acedia: kegelisahan rohani yang membuat seseorang tidak tahan tinggal dalam panggilannya. Orang merasa bahwa keselamatan ada di tempat lain. Ia yakin bahwa jika ia pindah, semuanya akan lebih baik. Tetapi sering kali yang perlu berubah bukan tempat, melainkan hati.
Tinggal di sel berarti belajar setia pada kenyataan konkret. Di sana rahib tidak dapat terus-menerus menghindar. Ia harus menghadapi dirinya: kebosanannya, fantasinya, kesepiannya, kemarahannya, dan kerinduannya akan Allah. Sel mengajarkan karena sel menahan manusia dari pelarian.
Tentu saja, nasihat ini perlu dibaca dengan diskresi. Tidak semua situasi harus dipertahankan. Ada tempat yang tidak sehat, relasi yang merusak, atau struktur yang menyalahgunakan kuasa. Tradisi padang gurun tidak boleh dipakai untuk membenarkan penderitaan yang seharusnya dihentikan. Namun, dalam konteks pertumbuhan rohani yang sehat, nasihat “tinggallah di selmu” tetap berharga: jangan terlalu cepat lari dari tempat di mana Allah sedang membentukmu.
Banyak pertobatan terjadi bukan karena kita menemukan tempat ideal, melainkan karena kita berhenti melarikan diri.
Tidak Menghakimi
Salah satu ajaran paling kuat dalam Apophthegmata adalah larangan menghakimi. Para Bapa dan Ibu Padang Gurun sangat sering memperingatkan murid-murid agar tidak menilai saudara mereka.
Mengapa tema ini begitu penting? Karena orang yang hidup asketis mudah jatuh ke dalam kesombongan rohani. Ia berpuasa, lalu melihat orang lain makan. Ia bangun malam untuk berdoa, lalu melihat orang lain tidur. Ia hidup miskin, lalu melihat orang lain memiliki barang. Tanpa sadar, askese berubah menjadi ukuran untuk menghakimi.
Para abba tahu bahwa menghakimi orang lain sering menjadi cara halus untuk menghindari pertobatan diri sendiri. Selama mata sibuk melihat dosa saudara, hati tidak perlu melihat dosanya sendiri. Menghakimi memberi rasa superior yang palsu.
Padang gurun mengajarkan sebaliknya: lihatlah dosamu sendiri. Ini bukan berarti kejahatan dibiarkan atau kebenaran diabaikan. Komunitas tetap membutuhkan koreksi. Gereja tetap perlu membedakan yang benar dan yang salah. Tetapi menghakimi dalam arti monastik adalah sikap hati yang menempatkan diri di atas orang lain, seolah-olah kita mengetahui seluruh kedalaman jiwa mereka.
Para rahib sangat sadar bahwa manusia tidak tahu seluruh cerita. Kita melihat tindakan luar, tetapi tidak melihat luka, perjuangan, ketidaktahuan, ketakutan, atau pertobatan tersembunyi dalam diri orang lain. Kita juga tidak melihat betapa besar rahmat Allah sedang bekerja dalam diri mereka.
Tidak menghakimi adalah latihan kerendahan hati. Ia membuat seseorang berkata: aku juga membutuhkan belas kasih. Dalam tradisi padang gurun, orang yang sungguh mengenal dosanya sendiri tidak punya banyak waktu untuk menghina dosa orang lain.
Kerendahan Hati
Jika ada satu keutamaan yang terus-menerus muncul dalam kebijaksanaan para abba dan amma, itu adalah kerendahan hati.
Kerendahan hati bukan rasa minder. Bukan membenci diri. Bukan menyangkal karunia yang diberikan Allah. Kerendahan hati adalah hidup dalam kebenaran. Orang rendah hati tahu bahwa segala yang baik dalam dirinya adalah anugerah. Ia juga tahu bahwa dirinya rapuh, mudah jatuh, dan membutuhkan belas kasih.
Para rahib padang gurun tidak terkesan oleh prestasi asketis jika tidak disertai kerendahan hati. Seseorang dapat berpuasa keras, tidur sedikit, menghafal Kitab Suci, dan tinggal di gurun bertahun-tahun. Tetapi jika ia sombong, semua itu menjadi rapuh.
Kerendahan hati adalah tanah tempat semua keutamaan tumbuh. Tanpa kerendahan hati, doa menjadi pertunjukan. Puasa menjadi kebanggaan. Keheningan menjadi penghinaan terhadap orang lain. Pengetahuan menjadi senjata. Bahkan kemiskinan dapat menjadi sumber kesombongan.
Mengapa kerendahan hati begitu penting? Karena tujuan monakisme bukan menjadi luar biasa, melainkan menjadi benar di hadapan Allah. Orang sombong hidup dalam ilusi. Ia membangun citra diri. Ia ingin dilihat. Ia takut dikoreksi. Ia sulit belajar. Orang rendah hati dapat dibentuk karena ia tidak perlu melindungi kebohongan tentang dirinya.Dalam komunitas, kerendahan hati tampak dalam hal-hal kecil: mau meminta maaf, menerima koreksi, tidak memaksakan pendapat, tidak mencari tempat pertama, tidak cepat membela diri, dan mau belajar dari orang yang tampaknya lebih sederhana.
Para abba dan amma tahu bahwa kemenangan terbesar bukan ketika seseorang melakukan hal-hal spektakuler, tetapi ketika ia berhenti menjadikan dirinya pusat.
Diskresi: Kebijaksanaan yang Menyelamatkan
Dalam tradisi monastik, diskresi sering dianggap sebagai ibu dari keutamaan-keutamaan. Diskresi adalah kemampuan membedakan: mana yang berasal dari Allah dan mana yang hanya tampak baik; mana askese yang menumbuhkan dan mana yang merusak; mana semangat sejati dan mana ambisi tersembunyi.
Tanpa diskresi, kehidupan rohani mudah menjadi ekstrem. Seorang rahib muda mungkin ingin berpuasa sangat keras. Dari luar tampak suci. Tetapi mungkin di baliknya ada kesombongan atau keinginan untuk cepat dianggap maju. Seorang lain mungkin ingin diam terus. Tetapi mungkin diamnya bukan lahir dari doa, melainkan dari kemarahan. Seorang lain ingin pergi ke tempat lebih sunyi. Tetapi mungkin ia hanya tidak mau belajar mengasihi saudara-saudaranya.
Diskresi menolong orang melihat yang tersembunyi di balik yang tampak. Para abba dan amma tidak memberi nasihat yang sama kepada semua orang. Ini sangat penting. Ada murid yang perlu ditegur keras. Ada yang perlu dihibur. Ada yang perlu disuruh makan. Ada yang perlu diajak berpuasa. Ada yang perlu tetap tinggal di sel. Ada yang justru perlu keluar dan melayani. Kebijaksanaan rohani selalu memperhatikan keadaan konkret orang.
Inilah sebabnya bimbingan rohani tidak dapat direduksi menjadi peraturan umum. Peraturan penting, tetapi jiwa manusia tidak dapat dibimbing hanya dengan rumus. Dibutuhkan pengenalan, doa, pengalaman, dan belas kasih.
Diskresi menyelamatkan askese dari kekerasan. Ia menjaga doa dari ilusi. Ia menjaga komunitas dari legalisme. Ia menjaga pencarian Allah tetap manusiawi.
Kelak, diskresi ini akan menjadi salah satu ciri kuat dalam Regula Benediktus. Benediktus tidak menyusun jalan monastik yang ekstrem, tetapi jalan yang seimbang. Akar keseimbangan itu sudah tampak dalam kebijaksanaan padang gurun.
Kerja Tangan dan Kesetiaan pada Hal Kecil
Para abba dan amma tidak mengajarkan spiritualitas yang melayang di atas kenyataan. Mereka sangat menghargai kerja tangan.
Banyak rahib bekerja membuat keranjang, tikar, tali, atau benda sederhana lain. Mereka bekerja agar tidak menjadi beban, agar dapat memberi kepada orang miskin, dan agar tubuh ikut serta dalam disiplin rohani. Kerja juga menjadi obat bagi kegelisahan dan kemalasan.
Dalam kehidupan padang gurun, kerja tangan sering dilakukan dalam keheningan. Tangan bergerak, hati berdoa. Pekerjaan itu mungkin sederhana dan berulang, tetapi justru pengulangan membentuk kesetiaan.
Kita hidup dalam budaya yang sering memuja hal besar, cepat, dan terlihat. Padang gurun mengajarkan nilai hal kecil. Menganyam satu keranjang dengan setia dapat menjadi latihan rohani. Membersihkan sel, menyiapkan makanan sederhana, menerima tamu, atau menahan satu kata yang tidak perlu dapat menjadi tempat pertobatan.
Para rahib tahu bahwa orang sering ingin melakukan hal besar bagi Allah, tetapi tidak setia pada tugas kecil yang ada di depannya. Padang gurun membalik cara pandang itu. Yang kecil tidak hina jika dilakukan dengan kasih. Yang tersembunyi tidak sia-sia jika dilakukan di hadapan Allah.
Kerja tangan juga menjaga rahib dari spiritualitas palsu. Orang yang bekerja dengan tangannya tidak mudah hidup dalam ilusi tentang dirinya. Ia berhadapan dengan bahan, waktu, rasa lelah, dan hasil yang tidak selalu sempurna. Kerja mengajarkan kenyataan.
Dalam tradisi monastik, tidak ada pertentangan mutlak antara doa dan kerja. Kerja dapat menjadi tempat doa jika dilakukan dengan hati yang terarah kepada Allah.
Air Mata Pertobatan
Tradisi padang gurun sering berbicara tentang air mata. Bagi pembaca modern, tema ini mungkin terdengar sentimental. Namun, dalam spiritualitas para abba dan amma, air mata bukan sekadar luapan emosi. Air mata adalah tanda hati yang mulai melunak di hadapan Allah.
Dosa membuat hati keras. Orang membela diri, menyalahkan orang lain, menutup luka, dan menghindari kebenaran. Pertobatan melunakkan hati. Ketika seseorang mulai melihat dirinya dengan jujur tanpa putus asa, air mata dapat muncul sebagai tanda rahmat.
Air mata dalam tradisi monastik bukan tangisan karena membenci diri. Ia adalah tangisan orang yang menyadari dua hal sekaligus: dosanya besar, tetapi belas kasih Allah lebih besar. Tanpa kesadaran akan dosa, air mata menjadi dangkal. Tanpa kepercayaan pada belas kasih, air mata menjadi keputusasaan.
Para rahib tidak mencari air mata sebagai pengalaman emosional. Mereka tidak menjadikannya ukuran kesucian. Namun, mereka menghargainya sebagai karunia. Air mata dapat membersihkan penglihatan batin. Orang yang menangisi dosanya sendiri menjadi lebih lembut terhadap dosa orang lain.
Ada hubungan erat antara air mata dan tidak menghakimi. Orang yang sungguh bertobat sulit menjadi kejam. Ia tahu bahwa dirinya hidup dari belas kasih. Maka ia belajar memberi belas kasih.
Dalam dunia yang sering menghindari rasa bersalah atau sebaliknya tenggelam dalam rasa bersalah, tradisi air mata mengajarkan jalan lain: mengakui dosa di hadapan Allah yang menyembuhkan.
Melawan Acedia
Salah satu pengalaman yang sangat dikenal para rahib adalah acedia. Kata ini sulit diterjemahkan dengan satu istilah. Ia dapat berarti kelesuan rohani, kejenuhan, kemalasan batin, kegelisahan, rasa tidak betah, atau penolakan terhadap panggilan yang sedang dijalani.
Acedia membuat rahib melihat selnya sebagai penjara, doanya sebagai beban, pekerjaannya sebagai sia-sia, saudaranya sebagai gangguan, dan masa depannya sebagai kosong. Ia mulai berpikir bahwa hidup akan lebih baik di tempat lain. Ia kehilangan rasa akan makna panggilannya.
Acedia bukan sekadar malas. Ia lebih dalam. Ia adalah kesedihan rohani yang membuat seseorang tidak mau menerima kenyataan hidupnya sebagai tempat perjumpaan dengan Allah.
Para abba dan amma melawan acedia dengan cara-cara sederhana: tetap tinggal di sel, berdoa, bekerja, membaca Mazmur, membuka pikiran kepada bapa atau ibu rohani, dan tidak mengambil keputusan besar ketika hati sedang kacau.
Nasihat mereka sangat realistis. Ketika acedia datang, orang tidak perlu mencari pengalaman spektakuler. Ia perlu kembali pada kesetiaan kecil. Duduklah. Berdoalah. Anyamlah keranjang. Bacalah Mazmur. Jangan lari terlalu cepat.
Acedia sangat relevan bagi dunia modern. Banyak orang gelisah, cepat bosan, sulit bertahan, terus mencari rangsangan baru, dan merasa bahwa hidup ada di tempat lain. Padang gurun mengajarkan bahwa salah satu bentuk kedewasaan rohani adalah bertahan dengan setia ketika perasaan tidak mendukung.
Tidak semua kegelisahan adalah acedia. Kadang kegelisahan menandakan perlunya perubahan yang sehat. Namun, tradisi padang gurun mengingatkan: jangan terlalu cepat percaya pada dorongan untuk lari. Mungkin Allah sedang menunggumu justru di tempat yang ingin kautinggalkan.
Kasih sebagai Ukuran Akhir
Di balik semua ajaran para abba dan amma, ada satu ukuran akhir: kasih. Keheningan bernilai jika membantu kasih. Puasa bernilai jika membuka hati bagi Allah dan sesama. Tinggal di sel bernilai jika membentuk kesetiaan. Kerja tangan bernilai jika dilakukan dengan rendah hati. Doa bernilai jika mengubah hati. Pengetahuan rohani bernilai jika membuat manusia lebih penuh belas kasih. Tanpa kasih, semua latihan rohani kehilangan jiwa.
Para Bapa dan Ibu Padang Gurun sering tampak keras. Mereka berbicara tentang puasa, berjaga, keheningan, air mata, dan peperangan rohani. Namun, kekerasan itu bukan tujuan. Mereka ingin hati manusia dibebaskan agar mampu mengasihi.
Kasih dalam tradisi padang gurun bukan perasaan manis. Ia konkret: tidak menghakimi, memberi makan tamu, mengampuni saudara, menerima orang berdosa, tidak membalas hinaan, dan memikul kelemahan orang lain.
Ada kisah-kisah yang menunjukkan bahwa seorang abba rela melonggarkan puasanya demi menerima tamu. Ini penting. Jika aturan askese menghalangi kasih, maka askese perlu ditinjau. Manusia tidak diciptakan untuk puasa; puasa membantu manusia mengasihi Allah. Ketika kasih menuntut keramahan, rahib yang bijaksana tahu apa yang harus dipilih. Diskresi selalu menuntun askese kembali kepada kasih.
Kebijaksanaan bagi Zaman Ini
Mengapa perkataan para abba dan amma masih penting hari ini? Karena manusia modern, meskipun hidup dalam dunia yang berbeda, tetap membawa hati yang sama rapuhnya. Kita mungkin tidak tinggal di sel padang gurun, tetapi kita mengenal kegelisahan, keinginan dipuji, kemarahan, kebosanan, pelarian, dan ketakutan akan hening. Kita mungkin tidak menganyam keranjang, tetapi kita juga perlu belajar setia pada pekerjaan kecil. Kita mungkin tidak memiliki abba di gurun, tetapi kita tetap membutuhkan bimbingan rohani.
Tradisi padang gurun menantang budaya kita dalam banyak hal.
- Ketika budaya kita memuja banyak bicara, para abba mengajarkan keheningan.
- Ketika budaya kita cepat menghakimi, mereka mengajarkan melihat dosa sendiri.
- Ketika budaya kita gelisah dan mudah berpindah, mereka mengajarkan tinggal di sel.
- Ketika budaya kita mengumpulkan informasi, mereka mengajarkan satu perkataan yang dihidupi.
- Ketika budaya kita mengejar citra diri, mereka mengajarkan kerendahan hati.
- Ketika budaya kita mencari kenyamanan, mereka mengajarkan pertobatan.
Yang dapat kita ambil bukan bentuk luarnya secara harfiah, melainkan rohnya: keseriusan mencari Allah, keberanian menghadapi hati, kesetiaan pada doa, kerendahan hati, dan kasih.
Penutup Bab
Para abba dan amma adalah guru kebijaksanaan Kristen. Mereka mengajar bukan terutama melalui sistem, melainkan melalui hidup dan perkataan singkat yang lahir dari pertobatan. Mereka menunjukkan bahwa jalan kepada Allah tidak selalu membutuhkan banyak kata, tetapi membutuhkan hati yang mau dibentuk.
Dari mereka, Gereja belajar tentang keheningan, tinggal di sel, tidak menghakimi, kerendahan hati, diskresi, kerja tangan, air mata pertobatan, perjuangan melawan acedia, dan kasih sebagai ukuran akhir. Mereka mengingatkan bahwa hidup rohani bukan panggung prestasi, melainkan jalan pertobatan yang sederhana dan terus-menerus.Kebijaksanaan mereka tetap hidup karena menyentuh persoalan manusia yang tidak pernah usang: hati yang terpecah, ego yang ingin menjadi pusat, ketakutan untuk hening, kecenderungan menghakimi, dan kerinduan untuk dicintai Allah.Padang gurun Mesir mungkin jauh dari kita. Tetapi pertanyaan para rahib tetap dekat:
- Dapatkah kita diam cukup lama untuk mendengar Allah?
- Dapatkah kita tinggal cukup setia untuk dibentuk?
- Dapatkah kita melihat dosa sendiri tanpa putus asa?
- Dapatkah kita berhenti menghakimi dan mulai mengasihi?
Dalam
pertanyaan-pertanyaan itu, suara para abba dan amma masih berbicara.
.png)
.png)
.png)
.png)
No comments:
Post a Comment