Jika Antonius memperlihatkan wajah rahib sebagai pertapa, Pakomius memperlihatkan wajah rahib sebagai saudara. Yang satu masuk ke padang gurun untuk mencari Allah dalam kesendirian. Yang lain membentuk komunitas agar orang-orang yang mencari Allah dapat hidup bersama, berdoa bersama, bekerja bersama, makan bersama, dan bertobat bersama. Antonius menjadi ikon monakisme eremitik. Pakomius menjadi salah satu tokoh besar monakisme senobitik.
Keduanya tidak saling bertentangan. Dalam sejarah monakisme Kristen, kesendirian dan komunitas sering berjalan berdampingan. Ada saat ketika manusia perlu masuk ke dalam keheningan agar dapat mendengar Allah. Tetapi ada juga saat ketika manusia perlu hidup bersama orang lain agar kasihnya diuji dan dimurnikan.
Pakomius mengajarkan bahwa jalan menuju Allah tidak hanya ditempuh dalam
gua atau sel yang sunyi. Jalan itu juga ditempuh di dapur, tempat kerja, ruang
makan, ibadat bersama, ketaatan kepada pemimpin, dan kesabaran terhadap saudara
yang nyata. Dengan Pakomius, padang gurun mulai menjadi biara.
Dari Prajurit Menjadi Rahib
Pakomius lahir di Mesir Hulu pada akhir abad ketiga. Ia berasal dari
lingkungan bukan Kristen, lalu pada masa mudanya direkrut menjadi tentara.
Pengalaman sebagai prajurit ini penting, karena kelak kehidupan komunitas Pakomian
akan memiliki ciri keteraturan, disiplin, pembagian tugas, dan ketaatan yang
kuat.
Menurut kisah tradisional, ketika Pakomius masih menjadi calon prajurit,
ia mengalami kebaikan orang-orang Kristen. Mereka melayani para rekrutan yang
sedang kesulitan. Kebaikan itu menyentuh hatinya. Ia melihat dalam diri orang
Kristen sesuatu yang berbeda: kasih yang diberikan kepada orang asing tanpa
mengharapkan balasan.
Pengalaman sederhana itu menjadi awal pertobatannya. Setelah bebas dari
dinas militer, Pakomius menjadi Kristen dan kemudian menjalani hidup asketis.
Ia belajar di bawah bimbingan seorang pertapa bernama Palamon. Dari Palamon ia
mengenal disiplin keras, doa, puasa, kerja, dan kesetiaan.
Namun, panggilan Pakomius tidak berhenti pada kehidupan pertapa. Ia
merasakan dorongan untuk membentuk komunitas. Menurut tradisi, ia mendapat visi
atau panggilan untuk mendirikan tempat di mana banyak rahib dapat hidup bersama
dalam satu peraturan.
Di sinilah keunikan Pakomius muncul. Ia tidak hanya bertanya bagaimana
seorang rahib dapat mencari Allah sendirian. Ia bertanya bagaimana banyak rahib
dapat mencari Allah bersama-sama.
Pertanyaan itu akan mengubah sejarah monakisme.
Istilah penting dalam tradisi Pakomian adalah koinonia. Kata Yunani ini berarti persektuan, kebersamaan, atau partisipasi dalam hidup bersama. Bagi Pakomius, biara bukan sekadar kumpulan orang saleh yang tinggal berdekatan. Biara adalah koinonia: tubuh bersama yang memiliki peraturan, ritme, tugas, kepemimpinan, dan tujuan rohani yang sama.
Hidup bersama membutuhkan lebih dari niat baik. Orang dapat sama-sama
ingin mencari Allah, tetapi tetap berbeda watak, kebiasaan, kemampuan, luka,
dan kelemahan. Tanpa peraturan, komunitas mudah menjadi kacau. Tanpa pemimpin,
orang mudah mengikuti kehendaknya sendiri. Tanpa kerja bersama, sebagian dapat
menjadi malas dan sebagian lain terbebani. Tanpa doa bersama, komunitas
kehilangan pusatnya.
Pakomius memahami hal ini. Karena itu, komunitasnya memiliki struktur.
Para rahib tinggal dalam rumah-rumah. Mereka memiliki pemimpin. Mereka
menjalankan pekerjaan tertentu. Mereka mengikuti jadwal doa, makan, kerja, dan
pertemuan. Mereka memakai pakaian sederhana. Mereka hidup dalam ketaatan.
Bagi telinga modern, keteraturan seperti ini dapat terdengar kaku.
Tetapi bagi monakisme senobitik, peraturan bukan musuh kebebasan. Peraturan
justru membantu membebaskan manusia dari kekacauan kehendak sendiri.
Kebebasan sejati bukan berarti setiap orang melakukan apa yang ia sukai.
Dalam komunitas, kebebasan seperti itu akan segera merusak hidup bersama.
Kebebasan sejati adalah kemampuan mengasihi, melayani, dan hidup dalam
kebenaran. Untuk mencapai kebebasan itu, manusia membutuhkan bentuk, disiplin,
dan latihan. Koinonia Pakomian adalah sekolah kebebasan bersama.
Mengapa Hidup Bersama?
Pertanyaan ini penting: jika para rahib dapat mencari Allah sendirian, mengapa perlu hidup bersama? Jawaban Pakomius sangat realistis. Tidak semua orang mampu menjalani hidup eremitik. Kesendirian yang terlalu cepat atau terlalu berat dapat membahayakan. Orang dapat tertipu oleh pikirannya sendiri. Ia dapat menjadi sombong, ekstrem, atau putus asa. Ia dapat mengira dirinya maju secara rohani padahal tidak pernah diuji oleh kasih kepada sesama.
Komunitas memberi perlindungan. Di dalam komunitas, orang tidak
dibiarkan sendirian menghadapi dirinya. Ia memiliki pemimpin, saudara, peraturan,
dan ritme. Ia belajar dari orang lain. Ia dikoreksi. Ia didukung. Ia tidak
terlalu mudah lari mengikuti suasana hati.
Hidup bersama juga menjadi tempat kasih diuji. Dalam kesendirian,
seseorang dapat merasa sabar, rendah hati, dan penuh kasih. Tetapi dalam
komunitas, semuanya menjadi nyata. Apakah ia tetap sabar ketika saudaranya
lambat? Apakah ia tetap rendah hati ketika dikoreksi? Apakah ia tetap mengasihi
ketika tidak dipahami? Apakah ia tetap setia ketika tugasnya membosankan?
Komunitas menyingkapkan keadaan hati. Karena itu, komunitas tidak selalu
nyaman. Tetapi justru karena tidak selalu nyaman, komunitas menjadi tempat
pertobatan.
Pakomius melihat bahwa monakisme bukan hanya tentang melawan iblis di
gurun, tetapi juga tentang belajar hidup dengan saudara. Kadang saudara yang
sulit menjadi guru rohani paling efektif. Ia memperlihatkan bagian diri kita
yang belum mati: ego, kemarahan, keinginan mengontrol, kebutuhan untuk
dihargai, dan ketidakmampuan menerima perbedaan. Biara Pakomian adalah padang
gurun dalam bentuk komunitas.
Peraturan sebagai Jalan Pembentukan
Salah satu sumbangan terbesar Pakomius adalah penekanan pada peraturan hidup bersama. Dalam tradisi Pakomian, kehidupan para rahib tidak diserahkan pada kehendak masing-masing. Ada tata hidup yang mengatur doa, kerja, pakaian, makan, tidur, penerimaan anggota baru, kepemimpinan, dan relasi dalam komunitas.
Peraturan dapat disalahpahami sebagai pembatasan. Tetapi dalam kehidupan
rohani, peraturan memiliki fungsi pembentukan. Ia menolong manusia melakukan
apa yang benar bahkan ketika perasaan tidak mendukung. Ia menjaga komunitas
dari kekacauan. Ia mengingatkan bahwa hidup rohani bukan hanya inspirasi
sesaat, tetapi kesetiaan teratur.
Tanpa peraturan, orang mudah memilih yang paling menyenangkan. Ia berdoa
ketika ingin, bekerja ketika semangat, diam ketika nyaman, dan menghindari hal
yang sulit. Peraturan membantu rahib tidak hidup berdasarkan suasana hati. Ia
membentuk ritme yang lebih besar daripada emosi pribadi.
Namun, peraturan bukan tujuan akhir. Peraturan melayani kasih. Jika peraturan
menjadi berhala, komunitas kehilangan jiwa. Peraturan yang sehat tidak
dimaksudkan untuk membuat manusia mekanis, tetapi untuk membentuk hati agar
lebih mampu mendengar Allah dan melayani sesama.
Di sinilah pentingnya pemimpin rohani. Peraturan perlu dijalankan dengan
diskresi. Tidak semua keadaan sama. Ada orang kuat dan ada orang lemah. Ada
yang perlu didorong, ada yang perlu diringankan. Komunitas yang sehat tidak
hanya memiliki peraturan, tetapi juga kebijaksanaan dalam menerapkannya.
Pakomius membuka jalan bagi tradisi regula monastik yang kelak
berkembang dalam Basilius, Kasianus, dan Benediktus. Dengan dia, hidup monastik
mulai memiliki bentuk institusional yang lebih jelas.
Doa Bersama
Dalam monakisme eremitik, doa pribadi sangat menonjol. Dalam monakisme senobitik, doa bersama memperoleh tempat penting.
Komunitas Pakomian hidup dari ritme doa. Para rahib berkumpul untuk
mendaraskan Kitab Suci, berdoa, dan mengarahkan hati kepada Allah. Doa bersama
mengingatkan bahwa mereka bukan sekadar pekerja dalam satu tempat, tetapi
saudara dalam pencarian Allah.
Doa bersama juga membentuk tubuh komunitas. Ketika suara-suara berbeda
mengucapkan Mazmur yang sama, komunitas belajar memiliki satu hati. Tidak semua
orang sedang merasakan hal yang sama. Ada yang kuat, ada yang lemah. Ada yang
bersemangat, ada yang kering. Tetapi semua berdiri di hadapan Allah
bersama-sama.
Dalam doa bersama, rahib belajar bahwa hidup rohani tidak bergantung
hanya pada perasaan pribadinya. Ketika ia tidak mampu berdoa, doa komunitas
menopangnya. Ketika ia lemah, saudara-saudaranya tetap mendaraskan Mazmur. Ketika
hatinya kering, ritme doa tetap membawanya kembali.
Ini salah satu kekuatan besar hidup komunitas. Orang tidak diselamatkan
oleh komunitas dalam arti menggantikan rahmat Allah, tetapi komunitas menjadi
sarana rahmat. Ia membantu orang bertahan ketika kekuatan pribadi tidak cukup.
Pakomius memahami bahwa pencarian Allah memerlukan tubuh bersama. Doa
bersama adalah jantung koinonia.
Kerja dan Kedisiplinan
Komunitas Pakomian juga ditandai oleh kerja. Para rahib tidak hidup menganggur. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan komunitas, menjaga disiplin, dan membantu orang lain.
Kerja dalam komunitas memerlukan pembagian tugas. Ada yang membuat
barang tertentu, ada yang mengurus kebutuhan rumah, ada yang melayani bagian
lain. Dengan demikian, kerja menjadi latihan ketaatan dan tanggung jawab.
Dalam hidup sendiri, seseorang dapat mengatur pekerjaannya menurut
keinginan pribadi. Dalam komunitas, ia bekerja bukan hanya untuk dirinya. Ia
bekerja untuk saudara-saudaranya. Tugas yang tampak kecil menjadi bagian dari
hidup bersama.
Kerja juga melawan acedia. Dalam komunitas besar, kemalasan satu orang
dapat membebani yang lain. Karena itu, kerja bukan hanya disiplin pribadi,
tetapi juga keadilan terhadap saudara. Orang yang tidak mau bekerja tetapi
menikmati hasil kerja komunitas merusak kasih persaudaraan.
Namun, kerja monastik tidak sama dengan produktivitas duniawi. Tujuannya
bukan menghasilkan sebanyak mungkin demi keuntungan. Kerja adalah bagian dari
pembentukan rohani. Ia dilakukan dalam kesederhanaan, ketaatan, dan doa.
Keseimbangan antara doa dan kerja akan menjadi tema penting dalam
tradisi monastik berikutnya. Benediktus kelak akan memberi bentuk yang sangat
matang pada hubungan ini. Tetapi akar pentingnya sudah tampak dalam komunitas Pakomian.
Ketaatan
Dalam kehidupan Pakomian, ketaatan memiliki peran penting. Tanpa ketaatan, komunitas tidak dapat bertahan. Setiap orang membawa kehendak, kebiasaan, dan pandangan sendiri. Jika semua orang mengikuti keinginannya masing-masing, koinonia akan hancur.
Ketaatan dalam monakisme bukan sekadar kepatuhan luar. Ia adalah latihan
rohani untuk melepaskan kehendak diri yang tidak teratur. Orang belajar
mendengar Allah melalui peraturan, pemimpin, saudara, dan kebutuhan komunitas.
Ini bukan hal mudah. Kehendak diri sering menyamar sebagai
kebijaksanaan. Seseorang merasa bahwa pendapatnya paling benar, caranya paling
baik, kebutuhannya paling penting. Dalam komunitas, ilusi ini diuji. Orang belajar
bahwa ia bukan pusat.
Namun, ketaatan juga dapat disalahgunakan. Karena itu, ketaatan yang
sehat harus selalu berada dalam terang kasih, kebenaran, dan kebijaksanaan.
Pemimpin tidak boleh memakai ketaatan untuk menguasai. Ketaatan bukan alat penindasan,
melainkan jalan pembentukan.
Dalam komunitas Pakomian, ketaatan membantu rahib hidup sebagai bagian
dari tubuh bersama. Ia tidak lagi menentukan semua hal berdasarkan dirinya
sendiri. Ia belajar bahwa keselamatan tidak terjadi dalam isolasi ego, tetapi
dalam persekutuan.Ketaatan mengajarkan bahwa mendengar adalah salah satu bentuk
kasih.
Pemimpin sebagai Penjaga Jiwa
Komunitas membutuhkan pemimpin. Tetapi dalam monakisme, pemimpin bukan sekadar pengatur pekerjaan atau penegak peraturan. Ia adalah penjaga jiwa.
Pemimpin komunitas harus memperhatikan keadaan para rahib: yang kuat,
yang lemah, yang gelisah, yang sombong, yang putus asa, yang baru belajar, dan
yang sudah lama berjalan. Ia harus menjaga keseimbangan antara disiplin dan
belas kasih.
Jika terlalu keras, ia dapat menghancurkan yang lemah. Jika terlalu
longgar, ia dapat membiarkan komunitas kehilangan semangat. Jika hanya
memikirkan keteraturan luar, ia lupa bahwa tujuan biara adalah keselamatan
jiwa. Jika hanya mengandalkan belas kasih tanpa kebenaran, ia dapat membiarkan
penyakit rohani berkembang.
Pemimpin monastik membutuhkan diskresi. Ia harus tahu kapan menegur dan
kapan menghibur, kapan menuntut dan kapan meringankan, kapan membiarkan orang
belajar dari kesalahan dan kapan harus turun tangan.
Pakomius sendiri dikenang sebagai pemimpin yang membentuk komunitas
besar. Namun, keberhasilan komunitasnya bukan hanya karena struktur. Struktur
tanpa bapa rohani akan menjadi organisasi kosong. Yang dibutuhkan adalah
kepemimpinan yang menjaga arah rohani komunitas.
Tema ini kelak akan sangat penting dalam Regula Benediktus. Benediktus
akan menggambarkan abbas sebagai orang yang harus mempertanggungjawabkan jiwa
para rahib. Akar gagasan ini sudah tampak dalam tradisi senobitik awal:
pemimpin biara bukan administrator biasa; ia adalah gembala.
Komunitas Perempuan
Salah satu aspek penting dari tradisi Pakomian adalah keberadaan komunitas perempuan. Menurut tradisi, Maria, saudari Pakomius, berhubungan dengan pembentukan komunitas perempuan. Ini memperlihatkan bahwa monakisme senobitik sejak awal tidak hanya menyentuh laki-laki.
Perempuan Kristen juga mencari bentuk hidup yang radikal. Mereka ingin
berdoa, hidup sederhana, menjaga kemurnian, bekerja, dan hidup dalam komunitas.
Dalam dunia kuno, komunitas seperti ini dapat memberikan ruang yang unik bagi
perempuan untuk menghidupi panggilan rohani di luar struktur perkawinan dan
rumah tangga biasa.
Komunitas perempuan tidak boleh dianggap sebagai tambahan kecil dalam
sejarah monakisme. Mereka adalah bagian penting dari gerakan yang sama. Seperti
komunitas laki-laki, mereka membutuhkan aturan, kepemimpinan, perlindungan,
kerja, doa, dan pembentukan rohani.
Kehadiran komunitas perempuan juga memperlihatkan bahwa pencarian Allah
tidak dibatasi oleh jenis kelamin. Seperti para amma di padang gurun, para
perempuan dalam tradisi Pakomian menunjukkan bahwa Gereja dibangun oleh
laki-laki dan perempuan yang menyerahkan hidup kepada Allah.
Dalam sejarah kemudian, biara-biara perempuan akan memainkan peran besar dalam spiritualitas, pendidikan, penyalinan naskah, pelayanan, dan pembentukan Gereja. Benihnya sudah tampak dalam gerakan senobitik awal.
Hidup Bersama Bukan Hidup Sempurna
Ada godaan untuk membayangkan komunitas monastik awal sebagai tempat ideal: semua orang suci, semua berdoa dengan khusyuk, semua saling mengasihi tanpa konflik. Gambaran seperti itu indah, tetapi tidak realistis.
Biara adalah tempat orang yang ingin bertobat, bukan tempat orang yang
sudah sempurna. Justru karena itu, peraturan diperlukan. Koreksi diperlukan.
Ketaatan diperlukan. Kesabaran diperlukan.
Dalam komunitas, kelemahan manusia muncul. Ada yang malas. Ada yang
keras kepala. Ada yang mencari perhatian. Ada yang iri. Ada yang terlalu cepat
menghakimi. Ada yang sulit taat. Ada yang membawa luka masa lalu. Ada yang
mudah putus asa. Semua itu tidak hilang hanya karena seseorang memakai pakaian
rahib.
Pakomius memahami kenyataan ini. Komunitas dibangun bukan karena manusia
sudah mampu hidup bersama dengan sempurna, tetapi karena manusia perlu dibentuk
agar mampu mengasihi.
Ini memberi penghiburan bagi siapa pun yang hidup dalam komunitas, baik
biara, seminari, keluarga, paroki, maupun komunitas pelayanan. Konflik tidak
selalu berarti komunitas gagal. Konflik dapat menjadi tempat pertobatan jika
dihadapi dengan jujur, rendah hati, dan penuh kasih. Hidup bersama
menyingkapkan dosa, tetapi juga memberi kesempatan untuk sembuh.
Perbedaan Antonius dan Pakomius
Antonius dan Pakomius sering dipakai untuk menggambarkan dua bentuk besar monakisme awal. Antonius melambangkan jalan eremitik: kesendirian, padang gurun, peperangan rohani, dan bimbingan murid secara personal. Pakomius melambangkan jalan senobitik: komunitas, peraturan, kerja bersama, doa bersama, dan ketaatan dalam struktur.
Tetapi perbedaan ini tidak boleh dibuat terlalu kaku. Antonius tidak
sepenuhnya anti-komunitas; ia memiliki murid dan menjadi bapa rohani. Pakomius
tidak menghapus nilai keheningan; komunitasnya tetap membutuhkan doa, askese,
dan perjuangan batin. Keduanya berada dalam tradisi yang sama: mencari Allah
secara radikal.
Perbedaan mereka justru memperkaya monakisme. Antonius mengingatkan
bahwa pencarian Allah membutuhkan ruang sunyi dan keberanian menghadapi diri
sendiri. Pakomius mengingatkan bahwa pencarian Allah juga membutuhkan saudara, peraturan,
dan kasih yang diuji dalam hidup bersama.
- Dalam diri Antonius, gurun menjadi sel.
- Dalam diri Pakomius, gurun menjadi komunitas.
Kedua bentuk
ini akan terus hadir dalam sejarah monastik. Ada tradisi yang lebih
kontemplatif dan soliter. Ada tradisi yang lebih komunal dan liturgis. Ada
biara yang memberi ruang bagi kesendirian dalam komunitas. Ada pertapa yang
tetap berakar dalam Gereja. Monakisme Kristen tidak pernah hanya memiliki satu
wajah.
Pengaruh Pakomius
Pengaruh Pakomius sangat besar. Ia tidak hanya mendirikan satu komunitas kecil. Gerakan Pakomian berkembang menjadi jaringan komunitas. Bentuk hidup yang ia susun memberi model bagi monakisme senobitik berikutnya.
Dari Pakomius, tradisi monastik belajar bahwa hidup bersama memerlukan peraturan.
Ia belajar bahwa doa dan kerja harus ditata. Ia belajar bahwa kepemimpinan
rohani penting. Ia belajar bahwa ketaatan bukan tambahan, melainkan unsur
pembentukan. Ia belajar bahwa komunitas dapat menjadi jalan menuju Allah.
Pengaruh Pakomius juga terasa dalam tradisi monastik kemudian, baik di
Timur maupun Barat. Basilius akan mengembangkan bentuk hidup bersama yang lebih
teologis, biblis, dan eklesial. Kasianus akan membawa warisan Mesir ke Barat.
Benediktus kelak akan menyusun regula yang sangat seimbang bagi komunitas
monastik Barat. Dalam semua perkembangan itu, jejak Pakomius tetap terasa.
Pakomius menunjukkan bahwa monakisme tidak harus bergantung pada karisma
satu pertapa besar. Ia dapat memiliki bentuk yang dapat diwariskan, diajarkan,
dan dihidupi oleh banyak orang. Dengan peraturan dan komunitas, pencarian Allah
menjadi jalan bersama yang lebih stabil.
Ini bukan berarti institusi lebih penting daripada karisma. Institusi
tanpa Roh akan mati. Tetapi karisma tanpa bentuk dapat hilang. Pakomius memberi
bentuk bagi api padang gurun agar dapat menyala dalam komunitas.
Relevansi Pakomius Hari Ini
Apa yang dapat kita pelajari dari Pakomius hari ini? Pertama, bahwa hidup rohani membutuhkan struktur. Banyak orang ingin bertumbuh, tetapi hidupnya tidak memiliki ritme. Doa hanya dilakukan ketika sempat. Bacaan rohani hanya ketika tertarik. Pelayanan hanya ketika nyaman. Pakomius mengingatkan bahwa niat baik perlu diberi bentuk.
Kedua, bahwa komunitas adalah tempat pertobatan. Kita sering ingin
komunitas yang ideal, tetapi Allah sering membentuk kita melalui komunitas yang
nyata: dengan orang-orang yang terbatas, berbeda, dan kadang sulit. Justru di
sanalah kasih diuji.
Ketiga, bahwa ketaatan bukan sekadar urusan biara. Setiap orang perlu
belajar mendengarkan sesuatu di luar egonya: Sabda Allah, Gereja, kenyataan,
orang miskin, keluarga, komunitas, dan suara hati yang dibentuk oleh iman.
Keempat, bahwa kerja adalah bagian dari hidup rohani. Spiritualitas yang
tidak menyentuh pekerjaan sehari-hari mudah menjadi ilusi. Cara kita bekerja,
melayani, membagi tugas, dan bertanggung jawab adalah bagian dari pencarian
Allah.
Kelima, bahwa peraturan tidak harus mematikan kehidupan. Peraturan yang
baik dapat melindungi yang rapuh, membentuk yang kuat, dan menjaga arah
komunitas. Yang penting, peraturan harus melayani kasih.
Pakomius sangat relevan bagi siapa pun yang hidup bersama orang lain.
Dan hampir semua manusia hidup bersama orang lain.
Penutup Bab
Pakomius memberi wajah baru bagi monakisme Kristen. Jika Antonius memperlihatkan radikalitas kesendirian, Pakomius memperlihatkan radikalitas hidup bersama. Ia memahami bahwa banyak orang yang mencari Allah membutuhkan komunitas, peraturan, pemimpin, doa bersama, kerja bersama, dan ketaatan.
Dengan Pakomius, biara mulai tampil sebagai bentuk hidup Kristen yang
khas: bukan sekadar tempat tinggal para asket, melainkan koinonia,
persekutuan orang-orang yang ingin mencari Allah bersama-sama. Di sana, rahib
belajar bahwa kasih tidak cukup diinginkan; kasih harus dilatih. Kesabaran
tidak cukup dikagumi; kesabaran harus diuji. Kerendahan hati tidak cukup
dipikirkan; kerendahan hati harus dipraktikkan dalam hidup sehari-hari.
Pakomius menutup bagian besar pertama dari kisah monakisme Mesir. Dari
Antonius kita belajar tentang gurun sebagai tempat kesendirian dan peperangan
rohani. Dari para abba dan amma kita belajar kebijaksanaan yang lahir dari
keheningan. Dari Pakomius kita belajar bahwa padang gurun juga dapat menjadi
komunitas.
Bagian berikutnya akan membawa kita lebih jauh ke dalam pembentukan hati
monastik. Kita akan bertemu Evagrius Ponticus, seorang pemikir tajam yang
membantu tradisi monastik memahami peperangan batin: pikiran-pikiran, acedia,
doa murni, dan kebebasan hati.
.png)
.png)
.png)
.png)
No comments:
Post a Comment